
Maya tanpa sengaja melihat Vero yang kebetulan baru keluar dari ruangan Alzam. Maya yang merasa heran pun langsung menghampiri Alzam ke ruangannya, tepat saat Alzam baru saja menyimpan uang pemberian Vero ke dalam laci kerjanya.
"Kenapa Vero ke sini?" tanya Maya langsung.
"Lagi ada sedikit urusan," jawab Alzam santai.
"Urusan apa?" tanya Maya lagi penasaran. "Kamu jangan macam-macam sama Vero. Mama sudah cukup pusing dengan Qian, jangan kamu tambah lagi cerita murahan dengan Vero. Berhenti dekati dia. Mama cukup malu waktu di tanya kapan Qian nikah, kok udah mau punya cucu aja. Jangan sampe kamu malah bikin tambah ruwet lagi urusannya dengan kamu masuk kedalam cerita rumah tangga mereka," ungkap Maya panjang lebar.
Alzam hanya diam tanpa sepatah katapun untuk membantah atau menambahkan. Ini perbedaan Alzam dan Qian. Jika Qian yang saat ini di hadapi Maya tentu anak itu akan mengeluarkan kata-kata savage nya yang akan menyengat telinga jika di dengar dan berakhir dengan pertengkaran.
"Oh, ya. Mobil kamu kemana? Tadi pagi Mama liat nggak ada di garasi," tanya Maya lagi.
"Ada di bengkel," jawab Alzam.
"Kenapa?" tanya Maya heran dan sedikit mengernyitkan keningnya. Karena setaunya mobil Alzam selalu terawat dengan baik, jadi agak aneh jika tiba-tiba bisa masuk bengkel. Apalagi mobil itu masih baru. Pasti sudah terjadi sesuatu, apalagi dengan kedatangan Vero yang tampak marah dari ruangan Alzam.
"Di gores Qian pakek pisau semalam. Sama bannya di tusuknya juga sampe robek," terang Alzam masih santai.
"Kamu ribut sama Qian?" tanya Maya agak meninggi. Alzam tersenyum seraya mengangguk. Ternyata benar, sudah terjadi sesuatu diantara mereka.
__ADS_1
"Dia marah, terus rusakin mobil aku semalam," adu Alzam. Itu sontak membuat Maya naik pitam geram.
"Anak itu. Nggak berubah sama sekali," seru Maya kesal dengan tangan yang terkepal dan nafas yang terlihat tak tenang. Maya sudah sampai pada kesimpulannya bahkan sebelum ia tahu bagaimana ceritanya dari sisi Qian.
"Udah, Mah. Kan udah di bawak ke bengkel juga," cegah Alzam seolah ingin menghentikan ibunya. Entah benar-benar ingin mencegah atau tengah mencari celah untuk membalas Qian.
***
Di sisi lain Qian tampak tengah mengerjakan pekerjaannya bersama dengan dua teman akrabnya. Siapa lagi jika bukan Reo dan Bisma.
"Kenapa tangan lo?" tanya Bisma terhadap tangan Qian yang tengah di perban.
"Iya tau. Maksud gue luka kenapa?" tanya Bisma agak nyolot karena jawaban Qian yang ambigu.
"Semalam gue di rampok orang," jawab Qian malas.
"Hah! Kok bisa? Terus? Lo bunuh nggak mereka?" tanya Reo mulai tertarik sekaligus khawatir.
"Nggak sempet. Keburu dateng temennya," jawab Qian cuek.
__ADS_1
"Lapor polisi aja, kali!" sahut Reo yang sedari tadi diam.
"Males ribet. Ntar bikin repot lagi bikin laporan ini itu, belum lagi panggilan ini itu. Capek di jalan, duit balik juga ntar nggak utuh. Nambahin kerjaan gue aja," ungkap Qian yang sudah mulai mengutak-atik laptopnya.
"Berapa?" tanya Reo lagi.
"50!" sahut Qian. Kali ini Bisma dan Reo mulai serius.
"Juta?" tanya Bisma dan Reo pun mulai serius mendengarkan. Qian mengangguk masih tampak cuek dan sibuk dengan pekerjaannya.
"Kok bisa?" tanya Reo heran. Qian jarang memegang uang cash sebanyak itu. Biasanya dia lebih suka memakai kartu debitnya untuk bertransaksi dalam jumlah yang besar.
"Udahlah. Panjang ceritanya," tukas Qian malas menceritakan kronologi nya. Jika sudah begitu mereka tidak akan berani membantah lagi.
Setelah itu mereka pun kembali fokus dengan pekerjaan mereka masing-masing. Mereka mulai serius dan tidak tampak raut bercanda lagi.
Tanpa mereka sadari dari kejauhan tampak ada sepasang mata yang tengah memperhatikan mereka. Dia segera mendekat dan menghampiri Qian.
Qian yang merasa ada seseorang yang tengah berdiri di sampingnya pun segera menoleh ke samping. Ternyata itu ibunya.
__ADS_1