Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Cara Yang Salah


__ADS_3

Tidak lama terdengar seseorang yang datang. Qian mengintip dari jendela. Ternyata itu adalah Vero yang baru datang, tampak nya dia berjalan kaki untuk pulang. Itu artinya dia tidak jauh dari sini tadi.


"Aku mau ngomong," ucap Qian dengan raut wajah serius.


"Kakak dari mana?" tanya Qian yang seketika membuat Vero gelagapan. Melihat gelagat aneh dari Vero, Qian pun menyunggingkan senyumnya. Sekarang terbukti sudah, jika Vero telah berbohong kepadanya.


"Biar aku tebak. Kakak habis ketemu Alzam?" tebak Qian sinis. Vero mengangkat wajahnya menatap Qian yang tampaknya telah mengetahui sesuatu.


"Qian. Aku bisa jelasin. Dengerin aku dulu," ungkap Vero mulai panik. Tapi Qian tampaknya sudah mulai habis kesabarannya.


"Kalian kelihatannya masih sangat akrab, ya. Habis ngapain aja," sinis Qian makin menjadi. Rasa cemburu, sakit di khianati dan di permainkan serta amarah, rasa kecewa, semua menjadi satu. "Kenapa diam?" ucap Qian semakin menyudutkan.


Vero mulai ketakutan. Mata Qian tampak sangat menyeramkan. Walau dia tampak tenang tapi sorot matanya tidak bisa berbohong.


"Dia kakak mu, Qian," isak vero mulai ketakutan dengan amarah Qian. Dian mendekat dan hendak menjangkau tangan Qian untuk membujuknya, tapi belum lagi Vero sampai, Qian sudah menepisnya.

__ADS_1


"Dia bukan kakakku. Dia bajingan yang berusaha merebut semuanya dari ku dan selalu bertindak sebagai korban. Bangsat itu selalu mengambil kesempatan apapun dariku yang dapat menguntungkannya. Dia merebut mama dariku, dia memihak mama dan membuat mama membenciku. Dia mempermainkan semua. Dia si manipulatif yang selalu pura-pura lemah. Aku membencinya. AKU MUAK DENGANNYA," teriak Qian yang membuat Vero semakin ketakutan dan menutup kedua telinganya tak berani menghadapi kemarahan Qian.


Dan akhirnya Vero pun menangis. Mendengar teriakan Qian kepadanya untuk pertama kalinya membuat dia sangat shock. Qian menuju lemarinya dan mengambil uang yang di berikan oleh mama Jill tadi kepadanya.


"Mama kakak datang ngantar itu tadi." Qian melempar uang itu dengan kasar kelantai. Sedangkan Vero masih dalam keadaan menangis.


"Bisa-bisanya kakak bohongin aku," ucap Qian tajam dengan Vero yang terus menangis. Qian mulai tidak tahan dengan situasi ini.


Ia mengambil kunci motornya dan keluar membanting pintu keras sebelum pergi. Itu membuat vero semakin tertunduk luka. Ia mendekap wajahnya sendirian.


Dia merasa sangat tertekan dan ketakutan. Dalam keadaan hamil dia selalu di landa cobaan yang selalu membuat dia di situasi yang buruk.


***


Hingga pukul dua dini hari, Vero masih terjaga dan sudah pindah terbaring di sofa. Dia masih setia menunggu kepulangan Qian.

__ADS_1


Tiba-tiba Vero mendapatkan telfon dari Reo.


"Kak, Qian lagi di apartemen aku. Dia mabuk," terang Reo dari seberang sana. Vero segera bangkit dan mengambil kunci mobilnya meminta alamat Reo untuk kesana sekarang juga. Reo sudah mencegah, tapi Vero tetap ingin menyusul kesana.


***


Vero segera menuju apartemen Reo yang di antar oleh Reo sendiri.


"Tadi sudah saya suruh pulang dan mau di antar juga. Tapi dia nggak mau," ungkap Reo sungkan karena bagaimanapun nakalnya dia, dia tetap tau tempat.


Vero mendekati Qian yang tengah terbaring dan nampak sudah sangat teler. Vero mendekat perlahan dan mengusap wajah suaminya itu dengan lembut.


"Jangan begini, Qian. Jangan marah. Aku takut," lirih Vero luka seraya memeluk tubuh Qian.


Reo tertunduk melihat Vero menangis, ada rasa tak tega di hatinya saat melihat seorang wanita menangis.

__ADS_1


"Maafin aku. Maaf, Qian," isak Vero seraya terus memeluk Qian yang tengah terbaring di ranjang.


Reo yang sedari tadi berdiri tak jauh dari sana mulai merasa tidak enak. Dia rasa ini bukan urusannya, Reo pun segera pergi. Ia menutup pintu kamar itu perlahan. Membiarkan dua insan itu menyelesaikan masalahnya sendiri.


__ADS_2