Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Alatas Medical Center


__ADS_3

Setelah memastikan Vero tertidur dengan nyenyak. Qian pun keluar dari ruangan tersebut. Dia melangkah dengan hati-hati dan menutup pintu perlahan.


"Apa dia sudah tidur?" tanya Alzam. Tepat saat Qian baru saja menutup pintu kamarnya. Qian tersenyum sinis melihat keberadaan Alzam.


Pria ini terlihat begitu menyedihkan. Sedari tadi selalu sibuk hilir mudik di sekitar ruang perawatan Vero.


"Urus saja urusanmu. Tidak perlu mengurusi istri orang lain. Ada suami nya di sini," sinis Qian tajam.


"Dokter mengkhawatirkan pasiennya apa tidak boleh?" ujar Alzam tenang.


"Banyak pasien mu yang lain yang harus kau rawat dan khawatirkan. Kenapa kau hanya berputar-putar di sekitar sini saja," tukas Qian mulai tampak emosi dengan tatapan nyalang padanya. Alzam tersenyum getir melihat tatapan adik padanya saat ini. Mereka sudah seperti musuh saja sekarang.


"Hmmmhhh... Kalau sudah selesai main rumah-rumahannya. Kembalikan dia kepada ku," ucap Alzam tajam dengan tatapan menantang. Qian menatap balik Alzam dengan tatapan tidak kalah sinisnya


"Urus saja hidupmu. Jangan sibuk dengan urusan orang lain," tukas Qian lagi seraya melangkah pergi dan mendorong Alzam dengan satu tangannya hingga Alzam terdorong selangkah kebelakang.

__ADS_1


Alzam menatap kepergian adiknya itu dengan tatapan tenang penuh arti.


***


Saat kembali Qian tidak mendapati Vero di kamarnya. Qian dengan panik segera mencari Vero ke segala arah. Akhirnya dia bertanya di ruang suster jaga


"Oh, ibuk Vero yang cantik itu, ya. Dia sedang di bawa dokter Alzam sama dokter Maya ke ruangannya. Kayaknya mau di periksa kandungannya," ungkap suster jaga.


Tanpa buang waktu lagi, ia langsung ke ruangan ibunya. Bahkan dia mengabaikan peringatan asisten dokter yang tengah menjaga pintu masuk ruangan tersebut.


Qian hanya diam melihat ibunya yang tengah memeriksakan keadaan Vero.


"Bayinya sehat. Dia tidak apa-apa. Detak jantungnya normal dan mulai sangat aktif. Dia ... Laki-laki," terang Maya yang tanpa sadar sempat tertegun sesaat melihat perkembangan calon cucunya di rahim menantunya sendiri.


Qian bisa lihat expresi ibunya itu. Begitu pula Vero, mereka diam sesaat. Hingga akhirnya Maya menyudahi pemeriksaannya.

__ADS_1


Qian mengedarkan pandangannya di ruang kerja ibunya ini. Pandangannya terhenti pada sebuah bingkai foto di salah satu rak lemari sederhana di belakang Maya. Itu adalah potret Alzam, Qian dan Maya sendiri. Ternyata Maya masih memajang foto itu di sana.


"Sudah tujuh belas minggu. Perhatikan pola makannya. Jangan sampai lemah lagi. Ini saya kasih obat penambah darah, vitamin dan penguat. Ambil di apotik rumah sakit ini nanti," ungkap Maya seraya menyerahkan selembar kertas resep obat kepada Vero dan menatap Qian sekilas lalu kembali beralih pandang pada layar komputernya dan menyerahkan foto USG kedalam buku jadwal pemeriksaan Vero.


"Periksa saja di sini. Nanti biar gampang di kontrolnya. Sebab ada yang aneh sama posisi kandungan kamu. Nanti kalo ada apa-apa biar bisa gampang di tangani," ungkap Maya.


"Kenapa peduli?" tanya Qian yang sedari tadi diam.


Maya menatap Qian tajam mencari makna ucapan Qian barusan. Vero yang sadar akan ada keributan segera meraih tangan Qian.


"Ayo antar aku kembali ke kamarku, Qian," seru Vero meminta Qian untuk mendorong kursi rodanya agar bisa buru-buru pergi dari sana. Qian pun segera tersadar dan mendorong kursi roda istrinya itu.


"Anak itu masih saja belum berubah," gumam Maya sendirian di ruangannya.


Tidak lama pasien berikutnya pun masuk. Maya pun kembali menampilkan sikap profesional nya.

__ADS_1


__ADS_2