Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Biarkan Aku Menggantikannya


__ADS_3

Pagi harinya, Alzam mengajak Vero jalan-jalan di taman rumah sakit. Dia berusaha membuat Vero nyaman dan tidak terus stress memikirkan kehamilannya.


Mereka berjalan mengitari taman tersebut dengan kursi roda. Beberapa perawat yang mereka temui selalu menundukkan wajahnya hormat saat mereka berpapasan. Kenapa? Karena Alzam bukan hanya dokter di sana, tapi juga putra pemilik rumah sakit besar tersebut.


Sampai lah mereka di sebuah bangku taman. Mereka duduk di salah satu bangku kosong di sana. Ini persisi seperti yang sering Vero dan Qian lakukan dulu.


Lagi-lagi Vero di ingatkan tentang Qian. Kemana perginya pria itu, tiba-tiba rasa rindunya kembali menyergap.


Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya mereka menemukan bangku kosong.


Pria berpenampilan rapih dan berkacamata ini terlihat sangat berwibawa dan berwibawa saat mengenakan jas putihnya.


"Harusnya aku ceritakan ini sejak awal sama kamu. Tapi, waktu itu aku ragu dan takut." Alzam menoleh kepada Vero yang masih bingung dengan arah pembicaraan mereka.


"Hmmhhh... Lebih baik terlambat kan dari pada tidak sama sekali. Agar setidaknya kita masih bisa berteman. Tidak bermusuhan seperti sekarang," ungkap Alzam dengan sebuah senyum. Vero membalasnya dengan senyuman datar. Pikirannya masih terasa kalut dan entah lah.


Flashback On

__ADS_1


Qian kecil tengah asyik bermain bola dengan riang di taman yang tidak jauh dari kediamannya. Alzam remaja pun ikut bermain dengannya bersama bunda Retno sang pengasuh mereka saat kedua orang tua mereka bekerja.


"Qian hati-hati ke jalan bolanya," tegur bunda Retno yang tampak terus mengawasi Qian kecil bermain.


Qian tidak peduli dan terus asyik dengan permainannya bersama Alzam. Hingga tanpa sengaja bola tersebut melambung cukup jauh karena tendangan Qian. Dengan spontan Qian berlari mengejarnya hingga bola tersebut terus menggelinding ke jalanan.


Alzam yang panik melihat adik kecilnya ke jalanan berlari tanpa pikir panjang langsung mengejar Qian.


"Qian bahaya jangan ke jalan," seru Alzam panik. Bunda Retnon juga tidak sempat menghalangi keduanya.


Tubuh Alzam terlempar beberapa meter dari tempat kejadian. Alzam berusaha menahan sebuah motor agar tak sampai menyambar tubuh kecil adiknya dengan menamengkan tubuhnya sebagai penghalang.


Qian yang juga menyaksikannya terpaku di posisinya dan tidak berani beranjak dari sana. Bola yang ia pegang pun terlucuti dari genggamannya. Dengan tangisan kencang Qian berlari menghampiri tubuh sang kakak yang sudah bersimbah darah.


Orang-orang yang menyaksikan pun ikut berlarian mendatangi mereka. Dan Alzam segera di larikan ke rumah sakit. Qian hanya mampu mematung penuh harap di depan ruang IGD.


Betapa kagetnya Maya mendapati pasien yang terluka parah itu adalah putra sulungnya. Dia dengan panik melakukan segala hal untuk putranya.

__ADS_1


**"


Sejak saat itu Alzam hidup dengan bergantung pada obat-obatan untuk kesembuhannya. Segala upaya Maya lakukan agar putranya sembuh bahkan mengabaikan Qian dan ayahnya. Maya melupakan si kecil Qian, dia terlalu fokus kepada Alzam, bahkan tanpa Maya sadari hubungannya dan Arial pun ikut semakin merenggang. Hubungan yang rapuh itu malah berakhir begitu saja karena kesibukan Maya mengobati Alzam.


Kekosongan hatinya mulai Maya isi dengan merawat Alzam hingga sembuh. Perlahan saat Alzam sembuh Maya mulai menyadari dia sangat lelah dan betapa dia sudah kehilangan banyak. Dia begitu tidak peduli saat Arial meminta perpisahan saat itu karena terlalu memikirkan Alzam.


Sekarang dia mulai menyesalinya, tapi sudah terlambat. Untuk membungkam mulut tak bermoral mertuanya yang masih sakit hati padanya, Maya pun terus menuntut Alzam dan Qian menjadi sosok yang sukses.


Flashback off


"Karena obat-obatan itu, aku ... Di vonis sulit untuk memiliki keturunan. Karena itu pula ... Aku takut untuk menikah," lirih Alzam dengan senyum miris yang seolah menertawakan dirinya sendiri.


Vero terdiam menatap Alzam kaget dengan tatapan masih tidak percaya.


Tiba-tiba Alzam memutar tubuhnya menghadap Vero langsung. Vero cukup kaget di tatap dalam dan serius seperti itu.


"Jika pria itu tidak bisa bertanggungjawab. Vero ... Ayo kita menikah, aku janji akan besarkan dia seperti anak kandungku sendiri," ungkap Alzam mantap. Vero tertegun mendengar pernyataan Alzam barusan seolah tidak percaya. Ini seperti mimpi.

__ADS_1


__ADS_2