Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Tagihan Tanggung Jawab


__ADS_3

Keesokan harinya, Qian segera melunasi biaya perawatan Vero dan bersiap akan membawanya pulang. Saat dalam perjalanan. Qian berpapasan dengan ibunya. Maya tersenyum sinis dan Qian hanya melihatnya dengan datar.


"Ingat. Harus lunas. Kalau tidak ... Kau harus meninggalkan bayimu di sini sampai kau bisa melunasinya," bisik Maya sinis dan menampilkan senyuman angkuhnya.


"Tenang saja. Aku akan melunasinya. Karena aku tidak mau berhutang dengan orang seperti kalian," balas Qian tidak kalah angkuhnya. "Kalian hanya manusia yang bisa mempermainkan hidup orang untuk kepuasan saja. Suatu hari nanti Mama akan menangis dengan alasan yang lebih menyakitkan dari aku saat ini," ungkap Qian. Maya hanya tertawa mendengarnya dan berlalu dari hadapan Qian.


"Perempuan gila!" umpat Qian kesal.


***


Saat membayar betapa kagetnya Qian. Bayaran tagihan yang semalam hanya 28 juta hari ini malah berubah menjadi 45 juta rupiah. Qian langsung pucat pasi mendengar jumlah tagihan yang sangat di luar kewajaran baginya.


"Semalam masih 38 jutaan," seru Qian tidak percaya.


"Iya, Pak. Yang semalam ada yang belum di masukkan kedalam data. Apalagi sewa kamar dan obat hari ini baru di input sekarang, Pak," terang staf rumah sakit. Qian tercekat sesaat.


Dari kejauhan Maya hanya tersenyum sinis penuh kemenangan melihat Qian yang masih shock.


"Kamu ngapain, May?" tanya Merly mengagetkan Maya.

__ADS_1


"Eh, kamu! Ngagetin aja," seru Maya kaget.


"Kamu ngapain ngintip-ngintip dari sini?" tanya Merly lagi.


"Nggak ada. Kamu ngapain ke sini?" tanya Maya balik kepada Merly untuk mengalihkan perhatiannya.


"Nggak. Tadi aku habis bawak Mas Sakti berobat, dia flu," terang Merly.


"Oh, yaudah. Aku duluan ya," pamit Maya meninggalkan Merly sendirian.


Merly hanya menatap kepergian Maya sekilas. Dia masih penasaran dengan apa yang di lihat oleh Maya dari tadi. Sesaat mata Merly tertuju kepada Qian yang tampaknya baru selesai mengurus administrasi pembayaran.


"Qian bayar disini?" gumam Merly sendiri dengan mengernyitkan keningnya merasa aneh. Dia mengangguk paham, dia mengerti sekarang apa yang di intip oleh Maya tadi.


"Pasien yang barusan tadi itu berapa biayanya?" tanya Merly curiga. Mereka yang sudah kenal Merly langsung membuka data di komputer.


"45 juta rupiah,Buk. Dia menggunakan ruang paviliun dan obat yang mahal selama perawatan di sini," terang si perawat membuat Merly diam tercekat. Dia tanpa banyak bicara lagi langsung pergi dari sana dengan langkah cepat.


***

__ADS_1


Di sisi lain Qian baru sampai ke ruang perawatan Vero dan bayinya. Tampak di sana juga sudah ada ayah mertua dan ibu mertuanya Mama Jill yang datang.


"Berapa Qian?" tanya Mama Jill. Qian terdiam sejenak sebelum ia menjawab pertanyaan ibu mertuanya itu.


"E-em-empat ... puluh lima juta, Mah," jawab Qian ragu tertunduk. "Semua udah lunas, kok. Aku pinjam uang Reo tadi," terang Qian menatap Vero yang ikut terdiam mendengar biaya perawatannya yang sangat besar.


"Kok ... Bisa segitu?" tanya Vero masih tidak percaya.


"Kan sudah aku bilang jangan kesini. Kakak nggak percaya. Sudah lah. Yang penting kakak dan anak kita sehat. Soal uang nanti bisa kita cari lagi," jawab Qian dengan seulas senyum yang ia paksakan.


Semua terdiam. Sampai akhirnya Ferdi angkat suara.


"Biar saya ganti uangnya, jangan berhutang dengan orang lain," sahut Ferdi.


"Nggak usah, Om. Itu sudah tanggung jawab saya," tolak Qian. Saat Ferdi akan bicara kembali, Mama Jill menyentuh bahu Ferdi sebagai kode untuk mengizinkan dia yang bicara.


"Mama yang ganti, ya. Uang kalian kan masih ada sama Mama. Ini jangan di tolak. Soalnya ini hutang Mama," sela Mama Jill.


Qian menatap Vero, Vero menyedikkan bahunya tanda menyerahkan semua keputusan kepada Qian. Qian diam tidak menjawab. Dia tampak berfikir sejenak.

__ADS_1


"Mah, ini tanggungjawab aku. Jadi, biar aku yang tanggung semua. Kalau sedikit-sedikit di bantu. Nanti waktu kami benar-benar butuh, kami malah segan buat minta bantuan sama Mama lagi," tolak Qian halus.


Mama Jill ingin membantah, tapi segera di tahan oleh Ferdi. Akhirnya ia pun mengalah saat melihat niat Qian kepada keluarganya yang begitu tulus. Ia tersenyum kagum dengan sikap menantunya ini. Begitu pula dengan Ferdi.


__ADS_2