Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Kedatangan Ibu Mertua


__ADS_3

Selama seminggu itu mereka mulai membangun kamar mandi yang baru di dalam kamar dengan model yang lebih modern. Hanya Vero yang mengurus semuanya, sedangkan Qian dari pagi sampai sore selalu menghabiskan waktunya di luar. Dia mengambil pekerjaan freelance untuk desain grafis. Itu semua tanpa sepengetahuan Vero. Dia lakukan bersama dua sahabatnya.


"Sampai kapan lo mau jadi kek Pinokio gini?" celetuk Bisma yang memang selalu membantu dan menemani Qian dalam bekerja. Mereka sering menghabiskan waktu di taman atau kafe terdekat dalam mengerjakan pekerjaannya.


"Nggak tau," jawab Qian singkat masih sibuk dengan drawing pad-nya dan laptop.


"Cari kerjaan beneran lah, freelance bisa buat tambahan. Kan lo sendiri yang bilang kalo tabungan kalian udah menipis gegara renovasi rumah. Sekarang apalagi bini lo mau lahiran juga bentar lagi," ungkap Reo.


"Iya, gue juga cari kerjaan tempat lain, kok. Cuman belum ada panggilan aja. Tunggulah dulu," ungkap Qian lagi.


Selesai mengerjakan pekerjaannya Qian langsung mampir ke tempat om Jhon yang berada tidak jauh dari kafe tempat tongkrongan mereka. Qian kesana untuk menyerahkan hasil editannya dan beberapa pesanan pembuatan iklan baliho dan Billboard.


"Eh, mending kamu kerja tetap saja sama om. Jadi om nggak usah capek-capek cari kamu lagi kalo butuh. Kayak dulu itu. Om sempat hilang kontak sama kamu," ungkap om Jhon.

__ADS_1


"Nggak bisa, om. Saya ambil kerjaan sama yang lain juga. Nanti nggak enak saya nya. Mending lepas kayak gini aja biar sama-sama enak," tolak Qian halus. Terlihat gurat kecewa dari wajah pria paruh baya yang gemulai itu.


Setelah selesai dengan semua urusannya Qian pun pergi dari sana.


"Eh, Qian. Lo nggak takut apa kerja sama orang kayak gitu? Denger-denger dia kan gay. Gimana kalo dia naksir lo ntar," ungkap Bisma saat mereka sudah cukup jauh.


"Makanya gue nggak mau terlalu terikat kerja sama dia. Dia sering tawarin kerja di tempat dia, tapi selalu gue tolak halus. Sebab gue nggak mau rusak hubungan sama dia. Bayaran kerja sama dia itu lumayan gede di banding sama yang lain. Kadang gue juga sering dapat kerjaan dari kenalan dia juga," terang Qian yang malah membuat Bisma semakin yakin jika om Jhon naksir Qian.


"Udah, ah. Bodo amat. Itu urusan dia. Urusan gue mah kerja. Beres. Di bayar. Udah!" Qian mulai malas menanggapi obrolan ngawur Bisma. Dia pun berjalan lebih cepat meninggalkan Bisma.


"Ladenin aja Qian. Dia pasti loyal banget itu. Paling resiko kerjanya lo ambien," celetuk Bisma lagi di selingi dengan tawa recehnya.


"Bangsat, loh," rutuk Qian yang langsung mengejar Bisma yang kabur.

__ADS_1


Mereka pun kembali ke kafe tempat mereka tadi untuk mengambil kendaraan mereka masing-masing.


Setelah itu mereka bertiga pun kembali pulang ketempat masing-masing.


***


Qian kembali ke kediamannya saat lampu rumah masih terlihat gelap menandakan jika Vero sedang tidak ada di rumah. Qian yang sudah pegang kunci serep pun bisa masuk dengan tenang tanpa Vero.


Saat Qian baru saja sampai. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Qian segera keluar membukakan pintu. Dan ternyata itu adalah ibu mertuanya yang datang.


"Vero mana?" tanyanya datar.


"Nggak tau. Saya juga baru pulang," ungkap Qian datar dengan tatapan penuh selidik akan maksud kedatangan mertuanya ini.

__ADS_1


__ADS_2