Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Kecewa Untuk Kesekian Kalinya


__ADS_3

Maya tampak tak bisa tidur karena khawatir kepada Qian yang tak kunjung pulang. Dia mulai berpikir, mungkin benar, dia tidak adil terhadap Qian. Anak itu jarang meminta sesuatu, kecuali saat dia benar-benar butuh.


Saat kuliah pun dia jarang minta kiriman. Walau biasanya dia akan meminta kepada Alzam jika memang butuh, karena antara dia dan Qian tak saling bertegur sapa saat itu. Di tambah lagi Qian memang lebih memilih ayahnya di banding Maya sendiri. Qian suka mengadu pada ayahnya daripada kepada Maya. Dan hari itu terulang kembali. Maya mengecewakannya lagi, membuat Qian semakin menjauh darinya. Bahkan sampai tidak mau pulang lagi.


"Anak itu sangat nekad. Bagaimana kalau dia benar-benar akan pergi," gumam Maya gusar. Dia tidak henti-hentinya terus mencoba menghubungi nomer si bungsu yang tidak aktif sedari tadi.


***


Di tempat lain. Entah kenapa Vero merasa tidak nyaman meninggalkan Qian begitu saja di sana sendirian. Apalagi hari sudah sangat larut. Tanpa pikir panjang lagi ia langsung memutar balik mobilnya.


Tidak lama menyusuri jalanan malam yang lengang bak kota mati ini, ia sudah melihat sosok Qian yang tengah berjalan sendirian di jalanan sepi. Dia pun segera menepikan mobilnya dan turun.


Qian kaget melihat Vero yang datang lagi. Dia menghentikan langkahnya menatap kedatangan Vero.


"Kamu mau kemana? Biar aku antar saja. Ini sudah terlalu larut malam." Qian menatap Vero ragu sebelum menjawabnya.

__ADS_1


"A-aku ... Aku tidak punya tujuan. Aku lagi kabur dari rumah. Ada sedikit masalah," jawab Qian ragu.


Sudah Vero duga. Pasti ada yang tidak beres dari Qian. Ternyata benar, Qian sedang dalam masalah.


"Yaudah. Kamu, aku antar ke hotel aja," tawar Vero seraya menyeret tangan Qian tanpa sempat Qian menolak.


Di mobil mereka terlibat kebisuan sesaat. Hingga akhirnya Vero yang memulai obrolan terlebih dahulu.


"Aku bawak kamu ke hotel tempat aku kerja, ya, biar gampang," tawar Vero. Qian tidak menjawab, dia masih larut dalam pikirannya sendiri.


"Panggil saja Qian," jawab Qian singkat.


"Aku Vero," sahut Vero dengan seutas senyuman seraya terus menyetir, Qian pun membalas senyuman Vero padanya.


***

__ADS_1


Tidak terasa mereka pun sampai ke hotel yang di maksud. Setelah mengurus semua daftar pemesanan Qian dengan rekannya yang tengah bertugas, Vero pun menghampiri Qian untuk menyerahkan kunci kamarnya.


"Makasih, Kak," ujar Qian.


"Yaudah, kalo gitu aku pulang dulu, ya. Selamat beristirahat," ucap Vero sebelum pergi meninggalkan Qian.


***


Di sisi lain, Maya masih diam di ruang tamu dengan sesekali memasang telinganya berharap Qian pulang malam ini.


Alzam melihat ibunya yang tidak bisa tidur dari lantai atas. Ia mendesahkan nafasnya kasar, ia pun melangkah turun menemui ibunya.


"Mah, tidur. Besok aku cari lagi dia. Ini udah jam 3. Aku janji, sebelum aku pergi, Qian udah ada di rumah," bujuk Alzam lagi.


"Mama nyebelin, ya. Coba saja kalau dia ada kendaraan, dia pasti bisa langsung pulang. Harusnya Mama langsung beli waktu dia mintak bukannya nunggu-nunggu lagi kayak gini," ungkap Maya seraya menyeka air matanya. Alzam paham, ibunya mulai menyesal. Ia pun memeluk hangat ibunya.

__ADS_1


Maya merasa sedikit tenang sekarang, ia pun bersedia untuk tidur.


__ADS_2