
Reo mengejar Bisma yang tiba-tiba pergi. Qian hanya melihat sekilas lalu kembali fokus pada pekerjaannya. Tapi dia sempat melirik kearah Rendi. Pemuda itu tampak diam bingung apa yang harus lakukan sekarang.
"Biarin aja. Dia biar kita yang tangani, lo fokus aja sama kerjaan," seru Qian. Rendi tersenyum lalu kembali dengan pekerjaannya.
***
Di rumah Vero kembali kedatangan ayah mertuanya yang ia sambut dengan hangat. Kebetulan saat itu juga ada Mama Jill. Arial tampak ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting. Ia diam sejenak sebelum bicara.
"Konflik Qian ibunya itu sudah terlalu lama. Dari hal kecil hingga menjadi besar seperti sekarang. Mereka malah seperti saling menyakiti satu sama lain untuk memenangkan sesuatu yang entah apa itu. Papa takut itu akan membuat mereka melakukan sesuatu yang fatal yang akan membuat mereka benar-benar saling membenci karena jarak yang terus mereka ciptakan. Jadi Vero ...," ucapan Arial terputus. Ia menatap mata Vero dalam.
"Papa mohon. Dekati mereka lagi, buat mereka dekat lagi. Papa percaya kamu bisa. Kamu hanya perlu membuat ego mereka runtuh. Buat mereka saling menyayangi satu sama lain lagi. Tidak ada yang di miliki Maya kecuali putra-putranya. Dia memang keras kepala, arogan dan ambisius. Tapi dia tidak jahat. Dia hanya tidak bisa kalah dan tidak mau kalah. Karena ... Dia sudah pernah kalah dan tersuruk hingga membuat dia takut untuk kalah dan jatuh lagi. Hanya kamu yang bisa Papa harapkan Vero. Papa tidak bisa berbuat banyak. Papa harap kamu bisa bantu Papa," ungkap Arial penuh harap. Vero menatap ibunya.
"Papa tenang saja. Tanpa Papa minta sekalipun aku juga akan membuat mereka bersama lagi. Kami juga tidak memiliki siapapun selain Mama Maya dan Mama Jill di sisi kami. Aku tidak akan membuat Qian kehilangan Mama nya, karena dia juga membuat aku tidak kehilangan Mamaku," ungkap Vero menggenggam tangan ibunya. Yang seketika membuat Mama Jill terharu dan memeluk putrinya. Arial tersenyum melihat kehangatan itu.
"Beberapa hari lagi papa akan pergi. Jaga dan rawat Qian dan cucu papa baik-baik, ya," tutur Arial lembut. Vero mengangguk dengan seulas senyuman tulusnya.
"Pasti, Pah," ucap Vero.
"Qian pasti akan pulang bersama ibunya. Saya jamin Vero akan membawa Qian pulang seperti Qian mambawa saya bersama keluarga ini," gumam Mama Jill tulus. Arial tersenyum haru.
__ADS_1
Setelah selesai bicara Arial kembali ke kediamannya. Sepanjang perjalanan Arial terus memikirkan tentang Lisa. Wanita sabar itu entah tengah memikirkan apa saat ini. Dia meminta izin untuk menemui mantan istrinya dan anak-anaknya.
Aria merogoh handphonenya dan mulai menyambungkannya kepada Lisa.
"Lisa. Lusa aku pulang," tutur Arial.
"Selesaikan semuanya, Mas. Setelah kamu kembali, pastikan tidak ada kisah yang belum usai kamu tinggalkan di sana," ungkap Lisa. Arial menyunggingkan senyumnya.
"Aku sudah selesai, Lisa. Kami sudah usai," jawab Arial dalam.
***
Dia berdiri bangkit dari duduknya saat melihat kedatangan sosok pria yang sangat ia rindukan sebenarnya. Tapi, hubungan mereka begitu dingin dan jauh membuat dia terkadang jadi menjaga jarak dengan ayahnya ini.
"Boleh aku ngomong, Pah," lirih Alzam. Arial tersenyum dan mengajak Alzam ke kamarnya.
Di kamar suite room ini Arial tinggal selama beberapa hari ini. Di kamar mewah dengan fasilitas lengkap dan eklusif tentu sangat menjamin kenyamanan Arial selama di kamar ini.
Dan sekarang mereka tengah duduk di tuang tamu yang terpisah dari ruang kamar tersebut. Arial datang dengan membawa 2 botol minuman untuk ia dan Alzam.
__ADS_1
"Kenapa Papa ngomong sama Mama soal tes kesuburan aku waktu itu? Mama marah, Pah. Dia bersikap dingin sama aku. Apa Papa sengaja buat aku di benci Mama?" tutur Alzam dengan tatapan yang tampak tengah menahan emosinya di balik expresi tenangnya. Namun, tetap dapat Arial rasakan. Karena dia paham betul bagaimana anaknya.
"Mau kamu sembunyikan sampai kapan keadaan kamu itu? Ini akan terus membebani kamu kalau terus kamu tutupi dari Mama. Kamu bisa menutupinya dari orang lain tapi tidak dari ibu kamu. Biarkan dia tau, supaya dia tau bagaimana harus bersikap. Atau bahkan bisa membantu kamu, kan." Alzam masih tampak dingin menanggapinya. "Alzam. Kamu tidak harus sempurna dan tidak perlu selalu sempurna. Kamu terlalu keras terhadap diri kamu sendiri. Biarkan diri kamu menjadi apa yamg seharusnya kamu mau. Kamu tidak harus terus membahagiakan ibu kamu, sesekali biarkan Mama kamu memahami sisi kurang kamu. Jadi, biar kan Mama kamu tau. Setelah itu, kamu bisa dengan bebas mengatakan apa yang kamu mau. Pernikahan seperti apa yang kamu mau, kapan kamu akan putuskan itu atau dengan siapa. Jangan buat Mama kamu terus menjodohkan kamu dengan anak-anak kenalannya. Sedangkan kamu tidak nyaman." Alzam masih diam.
"Dan ... Berhenti mengharapkan Vero lagi. Dia jodoh adikmu. Sekalipun Qian tidak bersama Vero lagi, kamu tetap tidak pantas bersamanya. Coba terima itu." Kali ini Alzam menatap Ayahnya dalam.
"Dia perempuan pertama yang aku beri tahu tentang keadaan aku. Untuk pertama kalinya aku merasa lega karena sudah jujur, hingga aku siap untuk sebuah pernikahan. Qian datang mengacaukan semuanya," ungkap Alzam terhadap sesuatu yang tidak pernah ia ungkapkan.
"Dia jodoh Qian, Alzam. Berhentilah, Nak," ucap Arial yang kali ini menggenggam tangan putranya itu.
"Jangan rusak kebahagian adikmu."
"Papa pasti sudah sangat bahagia dengan keluarga Papa sekarang! Papa bisa menemukan kebagian Papa, bukan?" sinis Alzam. Arial mengernyitkan keningnya.
"Dia selalu merusak apapun yang menjadi kebahagiaan aku. Kenapa hanya dia yang bisa memiliki apapun yang dia mau. Apa aku tidak hancur? Perempuan yang aku jaga sepenuh hati dia rebut dengan merusaknya. Pernikahan seperti apa itu? Pernikahan yang mereka putuskan secara mendadak. Pernikahan yang mungkin akan buat Qian menyakiti Vero suatu saat nanti. Qian hanya mencari tempat untuk kabur, Pah. Aku tidak melihat jika dia lakukan itu karena cinta, dia hanya lakukan itu untuk dirinya sendiri. Bahkan demi egonya dia hampir mengantar Vero menemui ajalnya. Beberapa kali bahkan Vero dalam keadaan hamil harus kewalahan dengan sikap Qian. Apa Papa pikir aku bisa melepaskan wanita yang aku cintai bersama pria sembrono seperti Qian, Pah?" ungkap Alzam.
"Alzam! Kamu jangan seperti tau segalanya begitu, Qian jauh lebih baik sekarang bersama Vero. Dan cukup hentikan semuanya Alzam," seru Arial.
"Papa tidak tau apa-apa. Jadi, tidak perlu terlibat dengan keluarga berantakan ini lagi, Pah," ucap Alzam dingin seraya bangkit dari posisinya. Dan Bersiap pergi. Arial menggeleng kepalanya melihat sikap Alzam yang sepertinya sangat sulit untuk menerima keadaannya.
__ADS_1