Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Ingin Jadi Lebih Baik


__ADS_3

Pagi ini Qian terbangun dan duduk di depan jendela seraya menatap orang-orang yang lalu lalang di depan. Benar-benar pagi yang bising dan ramai. Banyak yang hilir mudik dengan tujuan masing-masing.


Qian hanya melihat kesibukan itu dengan pikiran jauh menerawang. Dia mulai tampak berpikir, semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing sedangkan dia hanya di rumah menganggur dengan sedikit pekerjaan dan penghasilan tak menentu karena sikap konyolnya tempo hari yang membuat kesempatan nya untuk bekerja di tempat yang jauh lebih baik lenyap begitu saja.


Qian mendesah nafasnya kasar. Dulu dia tidak begitu peduli jika tidak memiliki uang. Dia bisa menelfon ayahnya dan meminta transferan. Tapi sekarang dia merasa malu untuk melakukan itu. Memberitahu ayahnya perihal pernikahannya saja tidak pernah ia lakukan hingga detik ini.


Entah kenapa dia merasa berat untuk memberitahunya. Ada perasaan tidak ada gunanya juga ayahnya tau. Toh, dia juga tidak akan terlalu peduli. Ayahnya punya keluarga lain yang harus ia perhatikan saat ini. Ah, menyedihkan sekali menjadi dirinya. Qian mendekap wajahnya dengan posisi lutut yang terangkat.


Saat Qian sibuk dengan pikirannya. Tiba-tiba panggilan seseorang mengagetkan Qian.


"Kamu lagi apa kucel begini di sini?" tanya seseorang yang membuat Qian menoleh dan mengernyitkan keningnya heran saat melihat wajah polos Mama Jill. Seolah paham dengan keheranan Qian Mama Jill tersenyum dan duduk di samping Qian.


"Iya. Ini Mama lagi nggak pakek make-up. Juga pengen berhenti ngerokok sama ngopi," terangnya seraya duduk di samping Qian. Qian menoleh dan tersenyum bahagia mendengar pernyataan Mama Jill.


"Vero lagi ke depan katanya mau jalan-jalan biar kakinya nggak terlalu bengkak. Dia jarang gerak, tuh lihat kakinya udah kayak kaki gajah," ungkap Mama Jill. Benar saja. Setelah Qian perhatikan lebih detail, ternyata Vero ada diantara banyak nya orang di lapangan. Dia tampak tengah mengitari lapangan bola di seberang sana.


"Eh, Vero kan sudah mulai masuk 7 bulanan. Kalian kok belum beli apa-apa buat baby-nya? Kalian harus mulai cicil beli-beli mulai dari sekarang," nasehat Mama Jill. Tapi Qian malah lebih tertarik membahas tentang perubahan penampilan Mama Jill saat ini.


"Mama nggak sasak-an. Nggak pakek make-up, Mama kayak kehilangan ciri khas," ungkap Qian dengan tawa usilnya.

__ADS_1


"Mama sudah tua, rasanya sudah waktunya Mama sadar kalo sebentar lagi mau punya cucu. Masak iya Mama masih mau mode hantu waktu cucu Mama lahir nanti," ungkapnya yang membuat Qian tertawa mendengarnya.


"Hah, rasanya capek juga tiap hari terus dandan supaya bisa di perhatikan. Tapi yang di pikat nggak pernah merhatiin. Yaudah lah, mending senyaman nya aja sekarang." Mama Jill tersenyum, dan senyuman itu terlihat jauh lebih nyaman di banding sebelum ini.


"Mama kelihatan beda. Jadi lebih kelihatan cantik alaminya dan fresh. Nggak kayak sebelumnya. Cantik, tapi kosong," tutur Qian. Mama Jill tersenyum mendengar pernyataan Qian. Qian benar, selama ini dia kosong. Melakukan sesuatu sesuka hatinya tanpa tujuan. Sekarang dia mulai lelah mengejar sesuatu yang bahkan dia tidak tau apa itu.


"Boleh Mama tinggal disini sama kalian?" tanya Mama Jill lagi dengan tatapan sungguh-sungguh dan Qian menoleh.


"Mama ngomong apa? Tentu aja boleh. 0Mama bisa tinggal di sini selama Mama suka," jawab Qian antusias.


Tidak lama Vero pun pulang. Dia kaget saat melihat tampilan baru ibunya.


"Gimana? Kelihatan aneh, ya? Pucet, ya?" tanya Mama Jill seraya memegang wajahnya panik.


"Iya sedikit. Tapi ini lebih kelihatan kayak Mama yang dulu," ungkap Vero senang seraya duduk di samping ibunya.


"Mama pengen tinggal di sini sama kalian. Kalo Mama dandan aneh takutnya kalian tolak Mama lagi buat tinggal di sini," ungkap Mama Jill seraya memanyunkan bibirnya. Membuat Qian dan Vero tertawa


"Vero seneng Mama mau tinggal di sini. Tapi, ingat. Kita nggak punya uang beli tas sama pakaian bermerk Mama, loh," ingat Vero usil. Mama Jill kembali mengernyitkan wajahnya seolah kecewa.

__ADS_1


"Nggak papa, Mama mau berhenti sama pergaulan Mama. Mama mau berhenti merokok, ngopi, sama make up tebal," ungkap Mama Jill semangat. Qian tersenyum mendengarnya. Sedangkan Vero langsung memeluk ibunya erat.


Qian merasa bahagia melihat interaksi ibu dan anak yang sudah kembali hangat lagi ini.


***


Di kamar Vero tampak tengah membongkar banyak tas dan pakaian. Qian yang baru kembali dari luar kaget mendapati itu.


"Lumayan kan buat aku kerja lagi nanti," ucap Vero seraya menampilkan sepatu dan tas yang tengah ia kenakan. Qian tersenyum melihatnya seraya duduk di ranjang memperhatikan barang-barang yang berserakan itu.


"Ini punya Mama. Katanya buat aku semua," terang Vero lagi.


"Belum mati udah bagi-bagi warisan," celetuk Qian. Membuat Vero menuju kearahnya


"Kamu ini mulutnya," gemas Vero seraya menekan pipi Qian hingga terlihat lucu.


Lalu mereka pun tertawa lepas berdua. Puas bercanda bersama Vero, Qian pun bangkit bersiap akan menemui Reo dan Bisma lagi di tempat biasa.


"Udah ah, bercanda sama kakak nggak ada duitnya. Mending aku pergi cari duit lagi," tutur Qian seraya menjangkau tasnya dan meninggalkan Vero yang masih duduk di ranjang.

__ADS_1


__ADS_2