
Malam harinya nenek yang baru mengetahui keadaan Vero segera datang mendatangi kamar di mana Vero di rawat. Dia dengan cemas segera menghampiri Vero dan memeluk erat tubuh wanita cantik itu.
Saat melihat keadaan Vero yang lemas dia tampak sangat khawatir, berkali-kali dia mengusap-usap tangan Vero dengan mata berkaca-kaca. Itu memancing rasa kasihan Alzam pada Nenek Vero.
"Vero nggak apa-apa, Nek. Dia lemas karena kecapean kayaknya, jadi agak demam. Makanya kemaren pingsan," terang Alzam yang memang sudah dekat dengan nenek Vero sejak mereka berpacaran dulu. Dia sering berkunjung kerumah Vero untuk mengantar Vero pulang bekerja atau hanya sekedar berkunjung mengunjungi Vero dan mengobrol bersama nenek dan Vero.
"Kenapa tidak ada yang kasih tau nenek kalau Vero di rawat! Padahal nenek sudah khawatir sejak semalam. Katanya nginep di tempat Mika. Ternyata malah di sini kamu, di infus begini pula," protes nenek yang merasa kecewa di bohongi.
"Nggak tega, Nek. Takut ngerepotin nenek malam-malam," terang Alzam lagi dengan lembut. "Vero nya juga kan nggak apa-apa, Nek. Yang penting sekarang Vero sehat, kan," bujuk Alzam dengan seulas senyum hangat. Nenek hanya tersenyum seraya mengusap bahu Alzam lembut.
Melihat kedekatan Nenek dan Alzam yang tidak pernah berubah meski sekarang mereka sudah putus, membuat Vero merasa sedikit bersalah. Sedekat itu mereka dulu, bisa-bisanya Vero memutuskan hubungan mereka saat itu.
Tapi, sudahlah. Toh sekarang dia sudah memiliki Qian yang tidak kalah baik dari Alzam. Pria yang lebih hangat dalam mengungkapkan perasaannya. Mungkin! Semoga saja dia dapat di percaya. Seperti perkiraan Vero selama ini.
Amin.
***
__ADS_1
Vero kembali melakukan beberapakali panggilan, namun tidak pernah bisa tersambung. Ia masih berusaha menghubungi Qian. Jika Qian terus saja tidak bisa dihubunginya seperti ini, entah apa yang harus ia lakukan. Membesarkannya sendiri tanpa seorang suami? Atau menggugurkannya?
Satu tetesan bening kembali mengalir di wajah cantiknya. Dia tak sanggup mengecewakan nenek dan mempermalukannya begini. Kenapa baru sekarang dia bisa waras. Bagaiman jika Qian benar-benar tidak mau bertanggung jawab.
Dia masih muda, masa depannya masih panjang. Masih banyak mimpi yang ingin ia capai. Menjadi desain grafis yang sukses. Menjadi sosok yang bisa membuktikan dirinya bisa lebih hebat dari harapan ibunya. Qian pernah mengatakan hal itu kepadanya dulu. Mana mungkin Qian siap untuk sebuah pernikahan.
Ah, tidak. Qian tidak mungkin meninggalkannya begitu saja. Pasti ada alasan kenapa dia tidak bisa di hubungi, pasti Qian punya alasan yang masuk akal. Vero kembali mencoba meluruskan pikiran buruknya. Ia pun kembali menyeka air matanya dan memaksakan untuk tersenyum menguatkan dirinya sendiri.
Untung saja nenek sudah pulang. Karena memang tadi Vero bersi keras meminta neneknya untuk pulang karena tak tega melihat neneknya tidur di lantai untuk menemaninya.
***
"Bagaimana? Masih mual? Di mana laki-laki itu? Biar aku hubungi dia sekarang." Alzam tampaknya berusaha berdamai dengan keadaan, dia berusaha mencairkan kembali hubungan mereka yang sempat menegang beberapa waktu belakangan ini.
Sungguh perhatian Alzam membuat Vero semakin terenyuh. Dia terpaku menatap Alzam tanpa sepatah katapun. Alzam menangkap jika ini tidak baik-baik saja.
"Kenapa? Apa terjadi sesuatu?" selidik Alzam.
__ADS_1
Vero meneguk ludahnya pahit, terasa sulit untuk di ceritakan. Tapi, Alzam juga sudah baik kepadanya selama ini. Dia kan seorang dokter. Mungkin dia bisa membantu Vero keluar dari permasalahan ini.
"Tiba-tiba dia tidak bisa di hubungi. Saat baru sampai tujuan dia masih bisa di hubungi, sampai beberapa hari. Tapi sekarang dia mendadak menghilang. Aku bingung, juga khawatir kepadanya. Kami tidak punya kontak lain selain handphone. Itu satu-satunya yang bisa membuat kami terhubung selama ini," terang Vero menahan agar tidak menangis di hadapan Alzam.
Alzam tahu Vero tengah menahan air matanya. Secara spontan ia menggenggam tangan gadis itu. Alzam mengerti sekarang kenapa Vero tampak begitu kacau dan takut. Ia mengangguk paham.
"Kenapa kamu seceroboh ini? Kenapa kamu begitu mudah percaya dengan orang yang baru kamu kenal, Vero!" seru Alzam sedikit meninggikan nada suaranya. Seketika tangis Vero pun pecah.
"Aku tidak tau ... aku tidak tau ...," isak Vero mulai menyesali kebodohannya. Alzam yang tidak tega segera membawa Vero kedalam pelukannya.
"Sudah. Tidak apa-apa, nanti kita cari jalan keluarnya." Alzam berusaha menenangkan Vero dengan mendekap Vero dan mengusap lembut bahunya. Sesaat Vero bisa merasakan ketenangan di pelukan Alzam. Sungguh ia butuh ini saat ini. Sesuatu yang bisa buat dia merasa tidak sendirian. Perlahan tangis Vero mereda.
Alzam selalu mampu menjadi penenang baginya selama ini. Pria lembut yang sangat sabar dan penyayang.
Tidak terasa hari semakin larut, Vero pun sudah terlelap di tidurnya dengan meringkuk seolah mencari kenyamanannya.
Alzam hanya tersenyum melihat wajah cantik yang tengah terlelap itu. Semakin cantik saat dia terlelap begini. Ah, pikirannya mulai liar lagi. Mungkin sudah saatnya dia pergi sekarang.
__ADS_1
Perlahan Alzam beranjak dari sana. Dengan sangat hati-hati Alzam berusaha menutup pintu tanpa suara deritnya agar tak mengganggu tidur nyenyak Vero.