
Setelah beberapa hari di rawat, Vero pun pulang. Beberapa hari tidur di kamar rumah sakit membuat ia sangat merindukan kamarnya yang nyaman. Bau parfum lembut, dan boneka Teddy bear kesukaannya
Dan...
Boneka jamur, boneka jamur yang sangat ia rindukan. Ia menggamit boneka itu dan memeluknya ke dalam pelukannya. Wanginya masih terasa, entah kenapa baunya bisa membuat mualnya sedikit berkurang.
Pria tampan berkulit putih bersih dengan tatapan elang yang terkadang sangat lembut dan hangat, tapi bisa berubah menakutkan dan sangat dingin di suatu waktu. Tepatnya saat Qian melihat boneka jamurnya di rebut oleh ibu-ibu di pasar malam itu. Dia mengambilnya tanpa sepatah katapun dan menantang balik saat dia kembali di serang, seperti saat di keroyok malam itu. Dia bahkan seolah menantang matinya, saat dia di tentang.
Ah, kenangan itu membuat Vero semakin merindukan pria nakal yamg kesepian itu. Pria yang dingin di luar tapi, sangat saat mereka bersama. Sangat mengancam, tapi membuat Vero merasa sangat di lindungi saat bersamanya.
Dimana dia? Kemana dia selama ini? Apa benar dia menghindari Vero saat ini? Tapi kenapa hati kecil Vero masih saja percaya dia akan kembali.
***
Di sisi lain, Qian tengah duduk termenung sendirian di bangku panjang di sebuah lorong di gedung kampus itu. Sudah seharian ini dia menunggu, tapi sosok yang di tunggu belum juga menampakan batang hidungnya.
__ADS_1
"Besok aja. Kenapa harus, sih? Santai aja kali," seru Reo yang mulai kasian dengan kegigihan sahabatnya ini.
"Tanggung, katanya sebentar lagi selesai," ungkap Qian dengan tatapan kosong.
Pikiran Qian entah ada di mana saat ini.
"Eh, datang, Qian!" seru Reo mengagetkan Qian seraya menunjuk si pria bangsat yang sudah lama Qian tunggu kedatangannya yang suka seenak jidatnya datang.
Qian bangkit dari posisinya menatap sosok yang ia tunggu akhirnya datang juga. Ia segera masuk dan menyelesaikan urusannya. Semoga bisa di selesaikan hari ini semuanya.
***
Tapi ada sepasang mata yang tak kunjung bisa terpejam meski malam semakin larut.
Alzam, dia tengah larut dalam pikirannya di ranjang seraya bersandar di kepala ranjangnya. Pengakuan Vero tempo hari membuat dia tak habis pikir. Wanita itu kenapa begitu cepat jatuh hati kepada orang lain? Bahkan dulu dia butuh waktu lama untuk menaklukkan hatinya.
__ADS_1
"Apa spesial nya dia. Sampai kamu bisa menghancurkan hidupmu bersamanya, Vero!" lirih Alzam seraya menyandarkan kepalanya seraya menengadah ke atas dengan menekan pelipisnya, kepalanya mulai pusing dengan permasalahan ini.
Bisa-bisanya wanita yang sangat dia cintai, di hancurkan oleh orang lain. Tidak dia tidak bisa biarkan siapapun lagi menghancurkannya.
Alzam bangkit dan membuka laci nakas di samping tempat tidurnya. Ada sebuah kotak bludru kecil berwarna hitam. Alzam membuka kotak tersebut. Terdapat sepasang cincin di dalam kotak kecil tersebut.
Sebuah cincin yang sempat Alzam pesan untuk melamar Vero yang ia rencanakan setelah kepulangannya, tapi siapa sangka keadaannya malah jadi seperti ini. Atau mungkin ini memang jalan terbaik untuk mereka berdua. Dia bisa besarkan anak itu berdua bersama Vero dan menjadikannya layaknya anak kandung yang mungkin memang sulit mereka dapatkan nantinya.
Walau bukan darah dagingnya, setidaknya dia adalah anak dari wanita yang sangat ia cintai.
"Ayo Vero kita besarkan dia bersama," lirih Alzam seraya menggenggam erat kedua cincin tersebut seolah mulai sangat yakin dengan pilihan yang sudah ia buat.
***
Keesokan harinya Alzam ke tempat kerja Vero. Tapi wanita yang ingin ia temui tidak ada di sana.
__ADS_1
"Dia sudah di pecat sejak GM kita tau kalau dia hamil luar nikah. Itu aturan hotel kita, tidak boleh merusak citra hotel." Alzam terpaku mendengar pernyataan Mika teman kerja Vero.
"Sayang banget, padahal dia kerjanya bagus selama ini," ungkap Mika lagi.