Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Mertua Yang Lebih Baik


__ADS_3

Maya baru saja keluar dari mini market di samping kafe tersebut dan tidak sengaja malah melihat Qian dan teman-temannya tengah berada di sana.


"Kamu ribut sama Alzam semalam," tanya ibunya tajam. Qian tidak menjawab. Dia tau betul ibunya akan melabraknya saat ini. Ibunya akan membela Alzam. Entah apa yang telah Alzam ceritakan hingga ibunya terlihat begitu marah.


"Kenapa kamu selalu melakukan hal buruk sama Alzam? Kamu selalu ingin menyakitinya, padahal dia selalu baik sama kamu. Kalau kamu tidak bisa mengucapkan terima kasih setidaknya kamu bisa tunjukkan sikap tau diri," ucapan ibunya terdengar sangat lucu saat ini. Qian menyunggingkan senyumnya. Pasti ibunya tidak tau apa-apa, tapi sudah bersikap seolah sangat memahaminya.


"Sekali lagi kamu menggangu Alzam. Kamu akan tau akibatnya." Sekali lagi Maya menyudutkan Qian. Qian merasa muak, dia tersenyum sinis mendengar ucapan ibunya.


Sedangkan Reo dan Bisma hanya diam membisu tak ingin ikut campur urusan keluarga sahabatnya ini. Apalagi mereka belum begitu paham dengan duduk perkara permasalahan sahabatnya ini.


Qian menarik nafas panjang diam mendengar makian ibunya. Ia menenggak minumannya, berharap dia bisa mengontrol dirinya. Tapi kelihatannya sulit, Qian meremas botol minuman kaleng di tangannya hingga remuk. Dia berdiri dan menentang mata ibunya langsung. Reo dan Bisma mulai ketar-ketir. Mereka bingung harus bagaimana sekarang. Bagaimana jika terjadi keributan di sini nanti.


"Qian jangan, itu nyokap lo," cegah Bisma tapi tak di pedulikan Qian dia tetap menatap nyalang dan menantang kearah ibunya itu.


"Tanpa bertanya mama langsung bisa pastikan Alzam lah korbannya," tukas Qian tajam.


"Karena memang benarkan! Kamu rusakin mobil Alzam, kamu hamili kekasihnya. Sekarang pun kamu masih merasa tidak bersalah sama sekali," jawab Maya tak kalah sinisnya.


"Heh! Sepertinya kamu benar-benar orang yang narsistik. Sulit menjelaskan kebenaran sama kamu," ucap Maya tajam. Qian tampak semakin tak bisa menahan dirinya. Dia membuang botol minuman di tangannya dengan kasar.

__ADS_1


Itu membuat Reo dan Bisma semakin tak bisa bernafas melihat kemarahan Qian. Reo dan Bisma mencoba menarik nafas panjang melihat ke sekitar. Untung suasana di sini lumayan sepi jadi tidak menarik banyak perhatian.


"Percuma menjelaskan tentang madu kepada kumbang yang suka mengumpulkan kotoran," sarkas Maya kepada Qian dengan tatapan tajamnya.


Qian mengepal tangannya berusaha menahan diri agar tidak lepas kendali.


"Aku harap. Mama bisa lihat aku mati berdarah di hadapan Mama suatu saat nanti. Aku ingin lihat bagaimana mama menangis seperti orang gila. Dan kita lihat siapa yang narsistik sesungguhnya," ucap Qian terdengar sangat mengerikan dengan senyuman sinis.


Membuat Reo dan Bisma menganga mendengarnya ngeri. Mereka segera menghampiri Qian.


"Qian, jangan ngomong kayak gitu sama orang tua," ingat Bisma. Tapi Qian tengah tak bisa diajak bicara.


Maya tersenyum sinis mendengar pernyataan Qian kepadanya. Dia merasa ini sudah cukup. Dia tidak ingin mengotori nama baiknya dengan keributan sampah seperti ini di depan umum. Ia pun memutuskan untuk pergi meninggalkan Qian yang masih menatapnya tajam.


"Udah Qian. Itu bokap lo. Jangan di lawan," ucap Bisma yang memang merupakan paling patuh kepada orang tua di banding mereka semua.


Mama jill yang mendengarkan pertengkaran itu pun segera mengikuti Maya dari belakang dan menghentikan langkah maya saat dia akan masuk mobil.


"Bagaimana kamu bisa di sebut sebagai seorang ibu kalau kamu tidak pernah memihak keduanya. Kamu hanya memihak satu pihak. Sebaiknya kamu tanyakan juga kenapa Qian begitu, bukannya hanya melihat dari sisi Alzam saja," ucap Mama Jill yang sontak menghentikan langkah Maya. Mereka saling tatap sesaat. Mama Jill membalas tatapan Maya dengan senyum penuh arti lalu ia pun pergi begitu saja dari sana.

__ADS_1


Maya menatap kepergian Mama Jill datar. Wanita itu tampak berantakan dengan rambut sasak dan sepuntung rokok serta asap yang mengepul.


"Cih, dia bahkan tidak bisa menata tampilannya lebih rapih, tapi malah menasehati orang lain," gumam maya kepada dirinya sendiri lalu masuk kedalam mobilnya.


Maya pun segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.


***


Mama Jill menghampiri Qian dan teman-temannya. Qian sudah tampak tak begitu berselera dengan pekerjaannya.


"Sudah! Kalian pulang saja sekarang. Mama sudah masak banyak di rumah. Pasti belum pada makan siang, kan," ucap Mama Jill ceria berusaha mencairkan suasana yang menegang.


Qian dan teman-temannya segera membereskan semua dan bersiap menuju kediaman Qian. Mama Jill tersenyum saat Qian menatap nya, Qian membalasnya dengan senyuman tipis seraya beranjak dari sana.


***


Benar saja. Di meja sudah terhidang berbagai macam masakan Mama Jill dan vero. Vero yang melihat kedatangan suaminya beserta teman-temannya pun datang menyambut. Dia segera mengambil tas yang Qian sandang di bahu kanannya dan membawanya masuk kamar untuk di letakkan sementara suami dan teman-temannya menikmati makan siang mereka di ruang makan keluarga.


"Wah ... Mertua lo pinter masak, Qian. Sering-sering aja kayak gini," seru Reo dengan matanya yang jelalatan mulai memilih menu yang akan ia nikmati.

__ADS_1


"Itu kerjaan mereka kalo di rumah sekarang. Selalu masak banyak," ucap Qian yang seolah mulai lupa dengan amarahnya tadi.


"Tampang mertua lo kayak orang fly, tapi masakannya sedap," puji Bisma. Qian hanya tertawa mendengarnya. Mama Jill yang menguping hanya bisa bersungut kesal karena di sebut seperti tampak orang habis mabuk.


__ADS_2