
Di pesawat Qian bisa bernafas lega. Dia duduk di bangkunya seraya bersandar dan tampaknya sangat menikmati perjalanannya kali ini. Terasa sangat nyaman bisa lepas dari jeratan rengekan Reo yang konyol, setelah dari semalam dia terus merengek hari ini beban mental Qian terlepaskan juga. Dan yang paling penting dia bisa menemui Vero dan menyelesaikan semuanya.
Qian mulai memejamkan matanya menikmati perjalanan yang akan memakan waktu panjang ini.
Kali ini dia sengaja menyewa bisnis class untuk menghabiskan uang yang ibunya berikan kepadanya. Dia ingin balas dendam dengan menghabiskan semua yang ibunya kirim tanpa tersisa.
***
Di lain sisi Alzam terus berusaha mendekati Vero. Dia tahu betul bahwa hati Vero saat ini tak sepenuhnya kepadanya. Vero masih memikirkan lelaki itu. Alzam harus bekerja keras untuk mendapatkan hati Vero kembali.
Seperti hari ini. Dia mengajak Vero untuk memeriksakan kandungannya ke dokter kandungan. Janin berusia 4 minggu tumbuh dengan baik di rahim Vero saat ini. Saat mendengar keterangan dokter, untuk pertama kalinya setelah ke sekian lama Vero bisa tersenyum setulus dan semanis itu lagi. Dia tersenyum saat mendengar perkembangan anaknya.
Dia bahkan terus mengusap perut ratanya yang menunjukkan betapa ia sangat menyayangi bayinya. Mustahil Vero bisa sanggup menggugurkannya jika di lihat bagaimana reaksi bahagia Vero saat ini.
Alzam menatap Senyum Vero dalam. Mungkin senyum itu sebuah pertanda, bahwa posisi Alzam di hati wanita manis berkulit putih dengan mata indah ini telah berhasil di rebut lelaki lain. Dia terlambat, tapi tidak apa-apa. Dia akan terus berusaha untuk merebut hati wanita manis ini lagi. Resepsionis hotel nan jelita.
***
Sepulang dari rumah sakit, Vero di antar Alzam pulang. Di rumah nenek sudah menunggu Vero. Saat melihat kedatangan Vero, nenek langsung bangkit dari posisinya dan menatap Vero dengan tatapan tidak biasa.
Vero yang di tatap begitu dingin oleh neneknya mulai merasa takut. Dia menutup pintu kayu itu perlahan.
"Duduk, Vero. Ada yang mau nenek tanyakan," ujar Nenek tenang.
Nenek mengeluarkan sesuatu dari genggamannya, meletakkan perlahan benda kecil pipih itu di atas meja. Seketika Vero merasa seolah darahnya mengalir dengan cepat ke ubun-ubun. Itulah testpack yang tempo hari Vero gunakan.
"Apa ini, Vero? Kamu hamil? Sama siapa, nak? Kamu kenapa?" Bulir-bulir bening itu menetes begitu saja dari wajah keriputnya.
__ADS_1
Vero tak dapat berkata-kata, ia terdiam seribu bahasa dengan tangan yang saling meremas. Tak berani ia menatap wajah yang sangat ia sayangi dan segani itu.
"Jawab, Vero. JAWAB. Kamu kenapa, nak. Kenapa? Kamu anak baik selama ini. Kenapa sekarang jadi begini. Bisa-bisanya kamu serahkan diri kamu semurah ini dengan laki-laki," rutuk nenek Vero histeris. Sedangkan Vero hanya bisa terisak tanpa mampu menjawab apapun.
Melihat keadaan yang tidak membaik, bahkan semakin kacau. Nenek pun berusaha menenangkan diri. Beliau menarik nafasnya panjang.
"Berapa bulan? Sama siapa? Anak muda yang sering antar kamu itu?" Vero mengangguk perlahan.
"Sudah 1 bulan, Nek," jawab Vero perlahan di sela isaknya.
Nenek menekan kepalanya yang terasa pusing dan mulai kehabisan kata-kata. Tapi, apa boleh buat sekarang. Semua sudah terlanjur.
"Lalu kenapa kamu mendekati Alzam kalau kamu tau kamu hamil dengan laki-laki lain?" tanya nenek tak habis pikir.
"Qian ... Qian ... Tidak bisa di hubungi, Nek. Alzam ... Bersedia menikahi, Vero," Ungkap Vero.
"Tidak. Lebih baik kamu lahirkan anak itu tanpa ayah, dari pada kamu harus meminta lelaki lain untuk menikahimu. Apa kata keluarganya nanti? Semua keluarganya akan membencimu. Atau kamu akan terus di tekan dengan hutang budi selama pernikahan kamu." Nasehat Nenek. Vero hanya diam, tak tau apa yang harus ia lakukan.
"Vero sudah di pecat. Bagaimana nanti Vero bisa sanggup besarkan anak ini sendirian, Nek?" aku Vero lagi.
Nenek kembali menarik nafas panjang seraya memejamkan mata dan menekan kepalanya yang terasa semakin berat.
"Tidak, nak. Kamu tidak bisa membuat orang yang tidak harusnya bertanggung jawab menjadi ayahnya. Apalagi kamu tidak punya apapun untuk menjadi pegangan kamu masuk ke keluarga itu. Mereka akan lebih mudah meremehkan keberadaan kamu nanti. Kita itu miskin, dan kamu juga tengah hamil anak orang lain. Mungkin saat ini dia bisa bilang cinta. Tapi bagaimana nanti? Dia bisa tinggalkan kamu dengan mudah." Vero terdiam masih tertunduk. "Minta Qian yang menikahi kamu. Jika tidak, besarkan sendiri. Jika, memang Alzam ingin menikah dengan kamu. Tunggu sampai anak ini lahir. Biar statusnya jelas bukan anak Alzam," nasehat Nenek lagi.
***
Selesai bicara dengan neneknya dari hati ke hati. Vero pun masuk ke kamarnya. Dia mulai merenung seraya terbaring di ranjang sederhananya.
__ADS_1
'Mungkin nenek benar. Anakku akan di remehkan nanti, atau malah akan di benci. Sebaiknya aku tolak saja lamaran ini.' Vero menatap cincin di jari manisnya itu.
'Aku harus menemuinya besok,' batin Vero lagi.
***
Di sisi lain Alzam setelah mengantar Vero pulang ternyata dia langsung menjemput Qian ke bandara. Setelah menunggu kurang lebih lima belas menit akhirnya Qian pun datang. Pria tampan itu tampak mengembangkan senyumnya saat melihat kehadiran sang kakak di bandara.
"Udah lama, Mas?" sapa Qian yang baru sampai seraya memberi salah khas mereka berdua.
"Lumayan. Gimana perjalanan kamu tadi? Lana delay nya?"
"Nggak juga. Cuman capek ladenin ibuk-ibuk di bangku sebelah aku. Curhat mulu sepanjang perjalanan." Alzam hanya tertawa mendengar curhatan sang adik.
Mereka pun tidak menunggu waktu lama lagi. Dia segera membawa adiknya pulang. Dia membantu beberapa barang bawaan Qian. Tampaknya Qian belanja banyak di sana. Itu terlihat dari bawaan Qian yang banyak.
"Berapa kamu nambah sewa bagasi?" tanya Alzam seraya memasukkan barang-barang Qian kedalam bagasi mobil.
"Lumayan. Itu aku bawak beberapa buat teman," ungkap Qian. Buat siapa lagi jika bukan untuk Vero.
***
Sesampainya di rumah Qian di sambut ibunya dengan kesal karena mendapati tagihan pengeluaran Qian selama di sana yang membengkak.
"Kamu beli apa sampe hampir empat ratus juta? Kamu benar-benar, ya," omel Maya seraya mengejar Qian dengan sendal nya yang langsung kabur masuk kamarnya dan menguncinya. Sedangkan Maya masih terdengar mengomel dari luar sana. Qian hanya tertawa mendengar ocehan ibunya. Dia sudah sangat lelah, tadi di pesawat dia tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Qian pun langsung tertidur tanpa melepaskan sepatu dari kakinya dan masih mengenakan pakaian lengkapnya. Di tambah omelan Maya yang masih terdengar. Qian tetap tidak peduli, dia sudah terlalu lelah untuk peduli.
__ADS_1