
Hingga mereka sampai di kamar tersebut dan Qian mendapati nenek Vero yang tengah terbaring lemas dengan banyak alat medis di tubuhnya. Dia duduk di samping nenek Vero tanpa berani menatap wajah nenek langsung.
Di sana juga sudah ada beberapa anggota keluarga Vero yang lain. Mereka semua mulai berdatangan termasuk ibu dan ayah tirinya serta adiknya.
"Nikahi, Vero. Nenek mohon," ungkap nenek membuat semua orang kaget.
"Buk. Ini sudah malam. Besok saja, ya ngomonginnya," sela Ibu Vero.
"Tidak. Waktuku tidak lama lagi. Aku ingin sekarang. Nikah kan saja mereka secara agama terlebih dahulu. Setelah itu baru mereka urus secara resmi nanti. Aku tidak akan tenang sebelum mereka menikah," mohon nenek dengan menggenggam tangan Vero dan menatap Qian.
"Tidak masalah bagi saya, Nek. Tapi ...," ucapan Qian terpotong. Dia menatap Vero yang menatapnya balik. "Vero ...," ungkap Qian.
Vero menatap expresi penuh arti Qian. Sesaat mereka saling tatap dan seolah terlibat perang batin antara hati mereka. Mereka berusaha mencari tahu tentang perasaan masing-masing melalui tatapan keduanya.
Nenek paham betul jika keduanya hanya tengah terlibat perang dingin bukannya tak saling cinta. Hanya keadaan yang tengah mengombang-ambingkan perasaan keduanya saat ini.
"Vero. Menikah lah dengan Qian. Anggap saja ini sebagai permintaan terakhir Nenek sama kamu," lirih nenek perlahan seraya menyentuh pelan tangan Vero.
Itu segera menyadarkan Vero dari lamunannya dan melepaskan tatapannya kepada Qian.
"Nek. Jangan ngomong gitu. Nenek pasti sembuh, kok." Vero tampak sangat ketakutan saat mendengar pernyataan neneknya yang menyatakan bahwa dia akan meninggalkan Vero. Dia sangat takut akan kehilangan neneknya.
"Buk. Ini terlalu memaksa," sela ibu Vero lagi.
__ADS_1
"Tidak. Ayo. Lakukan malam ini saja," pinta nenek lagi seolah tal bisa di bantah.
Qian terdiam. Bagaiman ini. Dia bahkan belum memberitahu ibu dan keluarganya yang lain.
***
Dengan persiapan seadanya mereka berusaha melakukan persiapan. Mereka mulai mengumpulkan apapun yang bisa. Termasuk pak penghulu yang mereka datangkan secara mendadak.
Cincin kawin dan seperangkat alat sholat. Serta satu set emas. Hanya itu yang bisa mereka dapatkan malam ini.
Bahkan baju kemeja putih polos yang Qian kenakan untuk ijab kobul pun dia dapat dari pinjam sana-sini.
"Tidak apa-apa. Ini sudah cukup. Biar Papa jadi saksi kamu. Dan buat wali kamu. Biar paman Anwar adik ayah kamu," tutur Ferdi ayah tiri Vero. Vero mengangguk.
"Tidak apa-apa. Mereka tidak akan perduli," bantah Qian. Vero menatap Qian. Ada rasa kecewa di mata Qian saat ini.
"Akan saya telfon ibu Maya sekarang," sela Vero.
"Aku bilang tidak perlu," cegah Qian.
Vero tetap tidak perduli. Dia tetap menelpon Maya ibu Qian.
***
__ADS_1
Maya tengah merawat Alzam yang habis di hajar Qian saat mendapat telfon dari Vero. Dia kaget saat mengetahui rencana pernikahan Qian dan Vero melalui sambungan telfon.
Dia segera menuju ruang rawat nenek Vero. Di sana sudah ramai dengan orang-orang yang merupakan keluarga Vero.
"Tidak. Qian masih kecil. Dia baru berusia 21 tahun. Bagaimana mungkin dia bisa bertanggung jawab atas sebuah pernikahan," bantah Maya marah.
"Saya tidak akan menyetujui pernikahan ini. Sampai kapanpun saya tidak akan merestuinya," tolak Maya keras.
"Keponakan saya hamil. Siap atau pun tidak siap mereka harus menikah," sanggah paman Anwar dengan tegas. Maya menarik nafasnya dalam. Dia menatap Qian sesaat. Qian menantang tatapan ibunya dengan berani dan yakin.
"Hmmmhhh... Terserah. Jika terjadi sesuatu jangan salahkan saya," ucap Maya datar, lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Qian menatap datar kepergian ibunya dari sana.
"Kan sudah saya katakan. Tidak usah beri tahu dia." Qian tampak kesal.
"Sudahlah. Tidak apa-apa jika dia tidak merestuinya, saya akan tetap menikahi Vero. Itu tanggung jawab saya," ungkap Qian lagi. Nenek tersenyum sedangkan Vero hanya tertunduk tak berani mengangkat wajahnya.
***
Mereka pun mulai melaksanakan acara ijab qobul tersebut secara sederhana dengan di saksikan oleh nenek Vero yang masih terbaring lemas.
Qian mengucapkan ijab qobulnya dengan lancar dan mantap. Seolah dia sangat meyakini keputusannya saat ini. Setelah ini, dia akan memulai hidup baru bersama Vero dan anak mereka. Dia tidak akan perduli lagi terhadap ibu dan kakaknya.
__ADS_1
Seruan SAH dari para saksi menandakan sekarang Qian dan Vero sudah sah sebagai suami-istri walau untuk tanpa restu ibu Qian.