
"Hmmm... Kakak pikir bisa tipu aku dengan air mata buaya kayak gini?" ucap Qian seraya mencubit hidung mancung Vero gemas. Seketika Vero membulatkan matanya kesal, ternyata Qian tidak seperti Alzam yang akan mudah luluh dengan matanya.
"Dimana barangnya?" tanya Qian seraya bangkit dari tidurnya. Vero hanya diam membiarkan Qian mencarinya sendiri.
"Itu barang-barang bagus, Qian. Bahannya lembut dan nyaman. Lagian kan kita juga butuh," bujuk Vero lagi seraya menahan tangan Qian saat dia akan membawa peralatan bayi itu.
"Aku bekerja siang malam, Kak. Buat menuhin semua. Karena aku nggak mau terima bantuan apapun dari mereka. Kita akan dihinanya nanti karena alasan ini," ungkap Qian dengan mata yang seolah menyimpan banyak luka. Vero meneguk salivanya pahit.
"Maaf," lirih Vero perlahan melepaskan tangannya dari Qian. Qian pun pergi dengan tatapan Vero yang seolah bingung harus berbuat apa saat ini. Dia ingin memperbaiki hubungan ibu dan anak ini, tapi Qian tampaknya masih sangat kecewa terhadap ibunya.
Vero hanya bisa melihat Qian yang pergi dengan mengendarai motornya. Vero melepaskan nafasnya kasar.
"Entah lah," lirih Vero dan berbalik. Belum lagi dia melangkah, dia sudah dikagetkan dengan keberadaan ibunya yang tiba-tiba ada di belakangnya.
"Mamah!" seru Vero kaget. Mama Jill hanya tertawa melihat reaksi kaget Vero.
"Mama mau pergi! Malam ini Mama ada urusan. Mama usahain cepat pulang, ya sayang," terang Mama Jill seraya mengusap lembut wajah putri cantiknya itu sebelum pergi.
Sekarang Vero sendirian di rumah. Vero duduk bersandar di sofa tamu, bingung harus lakukan apa sendirian begini. Menunggu Qian dengan bosan. Hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini.
***
Qian sampai di sebuah rumah besar. Rumah mewah yang berada di kawasan elite. Lampu taman yang indah tampak terpajang rapih di masing-masing rumah. Taman yang sangat tertata dan nyaris tak ada tembok tinggi yang membatasi antara satu rumah dengan rumah yang lain.
Karena ini lingkungan yang sangat aman dan di jaga 24 jam oleh satpam komplek sehingga tidak perlu pagar tembok tinggi sebagai pengaman lagi. Persis seperti rumah-rumah di kompleks perumahan eropa sana. Inilah kediaman keluarga Alatas. Keluarga Qian.
Sebelum menekan bell rumah tersebut Qian menarik nafasnya dalam. Lalu ia pun mulai menekan bel dan menunggu beberapa saat di depan rumah tersebut. Tapi, setelah berpikir sejenak. Qian memejamkan matanya.
Dia belum siap bertemu dengan ibunya langsung, setelah ibunya menghinanya habis-habisan waktu itu. Rasanya dia masih tidak ingin kerumah ini.
Sebelum seseorang membuka pintu, Qian pun pergi terlebih dahulu. Tepat saat Qian sudah pergi, seseorang membuka pintunya. Tahu itu kendaraan siapa, Maya yang membukakan pintu mencoba untuk mengejar berharap masih bisa memanggil putranya kembali. Tapi Qian terlalu cepat melesat, Maya tidak bisa menghentikannya.
__ADS_1
Saat berbalik Maya melihat setumpuk kantong belanjaan yang tadi ia belikan bersama Vero tergeletak begitu saja di depan pintu.
Maya kembali menatap arah putranya pergi, ada rasa sedih di hatinya melihat pemberiannya di tolak mentah-mentah oleh Qian.
Maya membawa kantong belanjaan itu kerumah. Menatap baju-baju bayi itu dengan pikiran menerawang dan tatapan yang dalam. Rasanya masih baru putranya ia kenakan pakaian seperti ini juga dulu, sekarang ia membelikannya untuk cucunya dan tak diterima dengan baik.
"Dia marah," lirih Maya seraya mendekap pakaian bayi itu ke dadanya dan bersandar pada sandaran sofa. Satu tetesan bening lolos dari sudut matanya.
***
Di sisi lain Mama Jill tampak tengah berkumpul bersama-sama temannya. Dia di beritahukan jika sahabat karibnya Moena akan pindah ikut suaminya bertugas. Hari ini dia merayakan pesta perpisahan bersama para sahabatnya dan dia juga memaksa Mama Jill untuk ikut serta.
Mama Jill tak kuasa menolak saat yang memintanya datang adalah Moena sendiri. Mama Jill datang dan di sambut tatapan dan seruan dari teman gengnya.
"Kok gini sih, Jill?"
"Polos banget kamu sekarang, say."
"Keterlaluan si Ferdi. Nanti kita bantu kamu labrak dia."
Begitu lah sambutan saat mereka melihat perubahan penampilan Mama Jill yang hanya mengenakan terusan tertutup dengan rambut yang ia kuncir tanpa makeup tebal khas dandannya dulu
"Aku bentar lagi punya cucu. Masak aku mau dandan kayak Suzana terus, yang ada cucu ku nggak mau aku gendong lagi," seloroh Mama Jill masih dengan tawa khasnya yang masih terdengar renyah dan ramah seperti biasa.
Sesaat teman-temannya tampak tak membahas penampilan Mama Jill lagi. Mereka lebih fokus ke acara.
Saat Mama jill di tawari wine, dia mencoba menolak tapi desakan teman-temannya membuat Mama Jill tak kuasa menolaknya. Satu gelas, dua gelas, akhirnya pesta itu benar-benar menjadi pesta yang memabukkan. Mama Jill menghentikannya saat dia mulai merasa oleng dan sedikit pusing.
"Cukup, cukup ... Ini sudah terlalu banyak," tolak Mama Jill.
"Yaudah," ucap mereka memahami keadaan Mama Jill.
__ADS_1
"Jill, aku udah telepon Ferdi, ya buat jemput kamu. Ini sudah malam. Kita nggak ada yang searah sama kamu," seru salah satu teman Mama Jill. Mama Jill membelalakkan matanya tak percaya. Tapi, dia berusaha menutupinya walau masih terlihat dari raut wajahnya yang berubah.
"Salah, ya, Jill?" tanya nya lagi.
"Nggak, nggak papa. Kalian pulang saja duluan. Aku tunggu dia di sini," ungkap Mama Jill dengan seulas senyum meyakinkan.
"Nggak papa Jill kamu, kita tinggal? Kita bisa kok, tungguin sampe datang suamimu," ungkap mereka lagi dan diangguki yang lain.
"Nggak papa," ucap Mama Jill meyakinkan.
Akhirnya mereka pun meninggalkan Mama Jill sendiri depan restoran tersebut. Mama Jill menatap satu persatu kepergian mobil mewah itu. Entah kenapa sekarang rasanya biasa saja, tidak ada rasa cemburu seperti dulu lagi.
Dulu, dia akan sangat tidak terima jika tasnya lebih murah daripada yang lain, atau pakaiannya tidak ikut trend masa kini. Tapi saat ini bahkan dia hanya menggunakan dress terusan lamanya yang tertutup, tas sederhana yang ia beli tahun kemarin. Dan flat shoes yang baginya nyaman, bukan lagi heels tinggi yang membuat kakinya pegal saat pulang kerumah, atau make up tebal yang butuh berjam-jam di depan cermin untuk bisa mengaplikasikannya.
"Ini jauh lebih nyaman. Begini rasanya bisa mengalahkan ego," gumam Mama Jill seorang diri.
Sesaat dia kembali ingat sesuatu. Dia segera mengambil handphone nya dan bersiap menelpon seseorang.
"Halo," sahut seseorang dari seberang sana.
"Qian! Kamu bisa jemput Mama sekarang?" tanya Mama Jill.
"Mama lagi dimana?" tanya Qian dari seberang sana.
"Di restoran. Ini sudah jauh malam. Mama takut pulang pakai kendaraan umum," ucap Mama jill bersamaan dengan kedatangan seseorang di hadapannya.
"Baik, Mah. Nanti aku kesana. Tunggu aku beresin kerjaan aku sebentar. Aku lagi revisi sedikit di tempat om Jhon," sahut Qian.
Mama Jill tak menunggu lanjutan ucapan Qian. Dia secara reflek melepaskan handphone nya dari telinganya saat melihat siapa yang datang di hadapannya saat ini.
Ferdi! Ya, Ferdi. Lelaki yang sudah lama tidak ia dengar lagi kabarnya dan bahkan tidak mencari keberadaannya saat dia pergi. Jill pikir dia menolak untuk datang, ternyata dia datang.
Keduanya terdiam saling pandang penuh arti.
__ADS_1