Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Wisuda Tanpa Perayaan


__ADS_3

Beberapa tahun telah berlalu. Qian sudah memasuki semester akhir. Tapi dia tidak sekalipun pulang. Dia merayakan hari-hari besar bersama dengan keluarga ayahnya.


Maya yang berniat memberi pelajaran kepada Qian dengan tak menghubungi putra nya itu sekarang malah dia yang terjebak dengan permainannya sendiri. Ternyata Qian jauh lebih cuek dari yang dia duga. Qian malah sama sekali tak memancingnya untuk di hubungi.


Alhasil Maya hanya bisa menanyakan kabar putranya melalui istri muda mantan suaminya itu.


"Bulan depan dia wisuda, Mbak. Mbak nggak datang?" tanya Lisa ramah.


"Iya, nanti aku datang. Dia sehat, kan?" tanya Maya tentang keadaan putranya itu.


"Iya, Mbak. Dia sehat. Nilainya dia selama ini juga bagus-bagus," terang Lisa ramah.


Maya tersenyum mendengar keterangan Lisa. Akhirnya putranya berhasil dengan caranya sendiri. Baiklah, mungkin ini waktu yang tepat untuk berdamai dengan Qian. Dia akan menyiapkan semuanya nanti.


***

__ADS_1


Di sisi lain Qian tengah memegang 2 undangan wisuda di tangannya. Dia berharap ibunya bisa datang.


"Mah, besok aku wisuda. Apa Mama bisa datang?" pesan suara yang Qian kirim. Berat rasanya dia untuk bicara langsung kepada ibunya.


Dia terus berpikir, sesaat dia kembali membuka handphone nya dan menghapus pesan tersebut. Kelihatannya tidak mungkin, ibunya pasti tidak akan mau datang. Selama 4 tahun ini bahkan ibunya tak pernah menanyakan kabarnya. Apa pedulinya dia di wisuda atau tidak. Berhasil atau gagal. Sakit atau sehat. Atau bahkan hidup atau mati.


Qian memejamkan matanya menyandarkan kepalanya di dinding putih kosannya. Tiba-tiba dia merasa sendirian. Sangat kesepian.


Di musim panas ini terasa dingin baginya. Mulai memikirkan apa yang sudah ibunya lakukan untuknya dan Alzam. Tak terasa air matanya malah mengalir dengan lancangnya membasahi wajahnya tanpa seizinya. Qian dengan cepat menghapusnya segera.


"Tidak perlu ada yang datang," gumam Qian mulai kehilangan harapannya.


***


Hari yang di tunggu pun datang. Qian benar-benar memutuskan untuk datang sendirian. Beberapa mata yang mengenal Qian menatapnya sedih dengan Qian yang tampak cuek berusaha menyembunyikan perasaannya sendiri.

__ADS_1


Qian yang menatap lurus ke depan terlihat tengah berusaha menahan perasaannya sekuat hati. Mereka ingin menanyakan keadaan Qian, tapi Qian tampak tak ingin di ganggu. Mereka pun mengurungkan niatnya.


"Dia benar-benar datang sendirian," bisik orang tua Una yang kebetulan juga datang sebagai tamu undangan wisuda Una yang kebetulan juga wisuda di hari yang sama bersama Qian.


"Maya sama keterlaluan," bisik ibu Una lagi yang segera di hentikan oleh suaminya karena tidak ingin di ketahui oleh Qian.


"Ssttt... Sudah. Jangan urus urusan orang lain lagi," tukas ayah Una yang segera membuat ibunya berhenti membicarakan soal Qian.


Sampai lah ke momen pemindahan tali wisuda. Setiap langkah semakin mendekatkan Qian pada momen tersebut. Salah satu teman wisuda Qian yang berasal dari indonesia memotret Qian dan mengirimkan nya ke media sosialnya.


"Semoga orang tua kamu lihat, ya Qian. Ini kenangan buat kamu juga," gumamnya.


Di podium setelah sesi wisuda, Qian berjalan turun dari podium setelah pemindahan tali wisuda. Dia berjalan dengan tatapan datar. Dia keluar dari ruangan tersebut dan langsung pulang tak ingin mengikuti acara apapun lagi. Dan mengabaikan panggilan dari teman-temannya.


Dia mengurung diri di kamarnya seharian sendirian. Dia merayakan hari itu dengan tidur seharian menggunakan pakaian toga nya. Dia bangun saat hari sudah gelap. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.

__ADS_1


Dia bangkit dan duduk dengan memeluk lututnya yang menyentuh dagunya. Dia masih tanpa suara. Tak ada yang ingin dia sampaikan. Tak ada yang ia rasakan. Hanya kesepian.


__ADS_2