
Marvel terpelanting dari kendaraan nya karena tanpa sadar dia melewati lubang jalanan di tambah lagi dia memang kurang stabil karena perbuatannya kepada Qian. Seolah karma yang di bayar lunas. Dia dicelakai oleh perbuatannya sendiri kepada Qian.
Karena alasan itu Qian mengurangi kecepatan kendaraannya tadi, tapi Marvel malah melupakan itu dan memilih menyalip dengan bermaksud mencelakai Qian membuat dia tidak siap dengan lubang jalanan yang rusak. Ia terperosok kedalamnya dan membuat dia kehilangan keseimbangannya.
Itu hampir saja mengenai Qian yang sudah berhenti tak jauh darinya. Beruntung Qian masih bisa menghindarinya. Qian bangkit dari jatuhnya menatap Marvel atau akrab disapa El. Ia terjatuh lebih parah darinya. Tapi setidaknya dia masih bernyawa.
Tapi menyebabkan kecelakaan beruntun bagi yang lain. Mereka saling bertabrakan karena El yang menghalangi jalan dan tertabrak karena mereka yang tidak siap. Untung itu tidak terlalu parah.
Malam ini benar-benar malam yang kacau. Mereka yang terluka terpaksa di bawa ke rumah sakit. Qian menolak hal tersebut karena dia tau malam ini ibunya piket di rumah sakit. Dia pasti akan di hajar ibunya jika tau dia balapan liar lagi.
***
Di rumah sakit Maya menerima banyak pasien kecelakaan, Maya kaget saat mendapati salah satu pasiennya adalah Reo sahabat karib Qian.
"Dimana Qian?" tanya Maya seraya terus mengobati luka Reo.
Reo langsung tercekat bingung harus menjawab apa. Jika dia jujur maka dia akan mati di tangan Qian, tapi jika dia berbohong dia akan habis di tangan ibu Qian yang super galak ini
__ADS_1
"Qian dimana, Reo?" tanya Maya sekali lagi, kali ini dengan tatapan lebih tegas.
"Dia ikutan balapan juga? Dia jatuh juga?" tanya Maya penuh selidik.
"Qi-Qian lagi nggak sama kita tante," sanggah Reo ragu.
"Jangan bohong. Nanti nyampe rumah tante liatin Qian. Kalo dia luka kayak kamu juga, habis dia," ancam Maya dengan sedikit kasar menyuntikkan Reo sebagai sebuah ancaman nyata kepada Reo yang hanya bisa meringis kesakitan.
***
Dengan langkah tidak sabar Maya pulang lebih awal. Dia sangat yakin terjadi sesuatu kepada Qian. Sesampai rumah dia segera menuju kamar Qian, dan tenyata kamar tesebut di kunci Qian dari dalam. Itu membuat Maya semakin yakin, telah terjadi sesuatu terhadap Qian.
"Qian! Kalo kamu nggak bukak jugak, Mama hancurin pintu ini," ancam Maya semakin murka.
Akhirnya Qian yang terdesak pun terpaksa membuka pintu kamarnya. Dia membuka pintu itu secara perlahan mengintip dari balik pintu kamarnya yang terdengar berderit karena suara engkel pintunya yang mulai terbuka menyembulkan wajah Qian di balik kamar yang sengaja Qian gelapkan untuk menyamarkan penglihatan sang ibu dari luka memar yang terdapat di tubuhnya akibat gesekan di aspal tadi.
Maya yang seolah tahu apa yang tengah coba Qian sembunyikan pun tanpa basa-basi lagi langsung membuka pintu itu lebar-lebar dan masuk secara paksa.
__ADS_1
Dia mencari sesuatu dan dia mendapatkan apa yang di carinya dari atas meja belajar Qian. Kunci motor dan handphone.
"Kamu nggak boleh kemana-mana lagi mulai sekarang. Mama sudah tau apa yang tejadi," teriak Maya marah dan tanpa sengaja dia melihat ada bercak darah di balik baju kaos panjang yang Qian gunakan.
"Untung masih hidup kamu!" Qian hanya bisa menunduk. Terus terang dia masih trauma jika ingat kejadian tadi.
Maya menarik nafas panjang sebelum mulai bicara lagi.
"Untuk sekarang kamu nggak boleh kemana-mana lagi. Kamu harus fokus sekolah. Sebentar lagi ujian akhir, dan kamu harus siap-siap kuliah lagi. Mama tidak mau kamu gagal. Mama akan daftar kan kamu di kampus yang sudah Mama pilih. Kedokteran kayak mas Alzam. Kerja sama mas Alzam di rumah sakit kita, nggak ada keluyuran lagi. Nggak ada mode berandalan lagi. Nggak motor-motoran lagi. Sekolah yang bener, kuliah dan kerja."
Terang ini tidak bisa Qian terima begitu saja. Dia sama sekali tidak berminat dengan kedokteran dia suka desain. Dia suka gambar. Dia suka seni. Bukan kedokteran. Mau diapakan pasiennya dengan jiwa liar nya ini.
"Aku nggak mau. Kalo Mama paksa aku juga. Aku pastiin pasien pertama aku bakalan jadi karya seni pahat aku. Alias aku bantai dia jadi ukiran aku. Mau?!" Tolak Qian mentah-mentah.
"Terserah! Yang jelas kamu jangan keluyuran lagi. Mulai besok ke sekolah kamu pakek supir. Nggak ada handphone lagi. Makan bawak bekal dari rumah. Semua fasilitas kamu Mama tahan sampai kamu lulus ujian akhir."
Maya masuk mode tidak bisa di bantah. Qian hanya bisa menahan kesalnya di dada.
__ADS_1
Maya kembali melirik tangan Qian yang terluka, tapi dia tidak berniat mengobati Qian. Dia ingin memberi Qian, membiarkan Qian dengan akibat dari tingkahnya sendiri. Qian menatap kesal kepergian ibunya. Ia mendengus nafasnya kesal dengan sedikit membanting pintu. Dia masih belum berani bertingkah untuk sementara ini.