Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Permainan Dan Kejujuran


__ADS_3

Sesampai rumah Vero kaget melihat lampu rumah yang sudah menyala menandakan jika sudah ada seseorang di rumah, dan itu tandanya Qian sudah pulang. Untung semua merek belanjaan mereka sudah mereka lepas saat di dalam taksi tadi.


"Mah gimana nih? Qian udah pulang," lirih Vero kepada ibunya.


"Ya temuin aja. Nggak usah takut. Dia nggak akan bunuh kamu juga." Vero melotot mendengar pernyataan ibunya yang terdengar tidak mau tau.


Sekarang Vero hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri untuk menghadapi Qian dan juga kemarahannya. Vero dengan jantung berdebar mencoba untuk mengatur nafasnya dan mulai membuka pintu kamarnya perlahan.


Saat pintu terbuka dia terpaku melihat Qian yang tengah tertidur di ranjang dengan posisi membelakanginya. Vero pun bergerak perlahan tak ingin mengganggu tidur Qian.

__ADS_1


Ia meletakkan paper bag dan kantong belanjaan nya di pinggir ranjang. Ada pikiran yang mulai mengganggunya saat ini. Dia sungguh merasa berdosa jika menyembunyikan ini dari Qian. Bukankah dia sudah berjanji akan selalu ada di pihak Qian? Tidak. Dia harus berkata jujur. Dia tidak akan menyembunyikan kebenaran ini dari Qian.



Vero membaringkan tubuhnya perlahan di samping Qian yang tengah tertidur, ia melingkarkan tangannya di tubuh Qian, menyesap sesaat aroma tubuh Qian yang sangat maskulin. Sangat wangi dan menenangkan hatinya. Ia mempererat lilitan tangannya di tubuh Qian. Walau sebenarnya dia juga tengah memikirkan banyak hal agar bisa jujur tapi tetap bisa di terima oleh Qian. Matanya tampak gelisah terus memikirkan sesuatu.


Hingga tendangan janin kecil di rahim Vero membuat Qian membuka matanya kaget. Ia mulai membuka matanya dan membalikkan tubuhnya kearah Vero dan di sambut Vero dengan senyuman hangat.


"Dari mana?" tanya Qian yang baru bangun.

__ADS_1


"Tadi, Mama kamu telepon aku. Minta buat periksa. Kita kan udah telat 2 minggu buat kesana," ucap Vero berhati-hati. Seketika raut wajah Qian mulai berubah.


"Dia sungsang," ucap Vero cepat sebelum Qian marah. Dia dengan cepat mematahkan amarah Qian dengan memancing rasa simpati Qian. "Mama bilang, coba gerakan yang udah mama kirim ke aku waktu itu, buat lurusin posisinya dia." Pandangan mata Vero tertunduk, Qian pun hanya diam mendengar lanjutan ucapan Vero. Vero mulai merasa kalau ini tidak akan berhasil membujuk Qian. Lelaki ini tak menunjukkan sikap apapun.


Seketika tangis Vero pecah. Qian kaget dan ia secara reflek membawa Vero ke pelukannya pelan. "Aku takut ... Aku takut ... Bagaimana nanti." kesah Vero di pelukan Qian.


"Hpl nya sebentar lagi. Dua minggu lagi," lirih Vero.


"Tidak apa-apa. Kan ada aku," lirih Qian seraya memeluk Vero dengan hangat. Vero mulai merasa tenang. Qian kembali bisa di kuasainya. Mungkin ini waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya. Vero melerai pelukan Qian perlahan, ia menatap mata Qian dalam.

__ADS_1


"Mama tadi ... Beliin ... Perlengkapan bayi." Qian mengernyitkan keningnya bingung mendengar pernyataan Vero. "Tapi ... Jangan marah, ya. Aku udah coba tolak. Tapi dia maksa," ungkap Vero lagi.


1Sekarang Qian paham yang di maksud Vero Mama adalah ibunya. Dia mendengus nafasnya kasar. Dia diam berfikir, ia menatap kedalam mata blow coklat yang berkaca-kaca dengan tatapan lugunya, dia menyelidiki sesuatu dari balik mata indah itu. Sedangkan Vero di buatnya gelisah menunggu reaksi Qian selanjutnya.


__ADS_2