Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Rencana Licik


__ADS_3

Qian sampai di temat tujuan tapi tidak ada Alzam di sana. Qian pun mulai menyambungkan sambungan telfonnya untuk menanyakan keberadaan Alzam.


"Kamu di mana?" tanya Alzam lebih dulu.


"Mas bilang kan di simpang jalan bawah pohon, ya aku di situ lah," terang Qian dingin.


"Oh kamu di pohon beringin dekat simpang itu ya. Yang pakek baju hitam celana jeans? Kamu bawak bawak lima puluh jutanya kan?" ucap Alzam cukup keras hingga menarik perhatian segerombolan pria di sampingnya yang tengah berkumpul. Mereka mulai bisik-bisik seraya menunjuk arah yang di beritahu Alzam.


Mereka mulai tampak membicarakannya. Segerombolan pria urakan itu tampak merencanakan sesuatu dengan suara pelan dan kode tersendiri satu sama lainnya. Alzam cukup paham. Sepertinya pancingannya sudah di makan target. Dia hanya cukup menunggu hasilnya saja di sini.


Alzam menyunggingkan senyumnya melihat rencananya akan berjalan lancar.


Sedangkan di sisi lain. Tepatnya di persimpangan jalan yang cukup sepi karena memang sudah malam dan larut, membuat jarang ada kendaraan yang melintas.

__ADS_1


Qian mengernyitkan keningnya mendengar kakaknya bicara aneh begitu. Jarang-jarang Alzam bicara lantang, tapi tadi Alzam bicara seperti orang yang tengah berteriak.


"Yaudah, aku ke situ. Tapi tunggu aku ambil barang dulu di mobil, ya. Kamu tunggu di bawah pohon di situ sebentar. Nanti aku ke sana," Alzam pun kembali ke mobilnya, dia seolah sengaja mengulur-ulur waktu.


Sedangkan segerombolan pria yang tadi berkumpul di pinggir jalan mulai terlihat mendekati Qian.


Qian yang menangkap gelagat aneh langsung bersiap siaga. Dia menatap waspada kepada beberapa pria yang datang menghampirinya.


"Lagi ngapain, mas?" sapa salah satu diantara mereka yang bertubuh paling besar dan terdapat tato di sebagian besar lengan dan tangannya.


'Dasar kakak bangsat. Bisa-bisanya dia khianatin gue kayak gini,' rutuk Qian membatin dan berusaha untuk tetap tenang di saat gentingnya seperti ini.


"Itu kantong isi apaan? Duit? Coba sini kita liat," ujar si tubuh besar lagi.

__ADS_1


"Awas! Saya mau pergi," elak Qian mencoba menghindari dengan buru-buru ingin segera pergi. Untung motornya sudah Qian parkir agak jauh dari sana.


"Eits, tunggu dulu, donk. Ngobrol aja dulu," sela si cungkring yang bertubuh penuh tato dengan pakaian lusuh dan tindik di mana-mana. Qian semakin yakin jika mereka datang dengan niat tidak baik.


"Mau kemana mas buru-buru," timpal yang lain dan sekarang auto Qian terkepung tidak bisa lari. Qian mulai pasang kuda-kuda waspada.


"Ati-ati, bos. Kayaknya dia bisa bela diri," bisik si cungkring kepada teman-temannya. Mereka bisa menebak hal tersebut dari kuda-kuda Qian yang menandakan gerakan dasar dari ilmu bela diri.


Melawan empat sampai lima orang itu masih mudah Qian atasi.


"Fokus saja sama uangnya. Habis itu kita kabur," bisik si tubuh besar dengan tatapan fokus pada tas yang Qian bawa. Si cungkring pun mengangguk paham.


"Kita nggak mau ngapain kok mas. Kita cuman mau ngobrol sebentar," ucap si cungkring lagi, masih terus mencari celah yang bagus.

__ADS_1


Saat Qian lengah, dengan cepat si cungkring merebut tas yang Qian pegang, lalu dengan cepat ia kabur. Sedangkan yang lain malah menahan Qian. Qian mengeluarkan pisau lipatnya dari saku. Dia tidak bisa tinggal diam lagi. Melihat Qian memiliki senjata tajam mereka semakin ketar-ketir.


"Bahaya!" bisik salah seorang dari mereka.


__ADS_2