
Di sini saat ini mereka berdua. di sebuah bangku yang tak jauh dari restoran. Jill menolak saat Ferdi menawarkan untuk mengantarnya, karena sudah terlanjur menelpon Qian. Itu alasannya, yang sebenarnya dia memang ingin menghindari Ferdi sang suami.
"Apa kabarmu, Jill? Kamu sudah lama tidak pulang. Kelihatannya kamu betah di sana," ucap Ferdi membuka topik pembicaraan mereka.
"Aku menunggu kelahiran cucuku. Itu membuat waktu bergulir tanpa terasa," ungkap Jill dengan senyum simpulnya yang terlihat lebih keibuan dan hangat.
"Kamu dari mana?
"Kamu ... sudah ... Kembali seperti dulu lagi. Begitu sederhana, cantik, dan anggun. Sepertinya aku melewati sesuatu yang besar terjadi kepadamu," ungkap Ferdi lagi. Mama jill kembali tersenyum simpul.
"Dia bilang ... Dia tidak punya apa-apa lagi. Tapi, dia terlihat bahagia bersama suaminya. Itu membuat aku berfikir. Bahagia itu sederhana, dan ... Sangat dekat. Hanya aku saja yang terus mencari sesuatu yang tidak ada selama ini. Hingga merubah aku menjadi sesuatu yang tak aku kenali lagi," ungkap Mama Jill dalam penuh makna. Ferdi terdiam sesaat sebelum ia kembali angkat suara.
"Ayo kita kembali lagi. Aku janji aku akan berubah, Jill," ungkapnya tulus.
"Fer ... Sepertinya aku tidak bisa lagi. Aku ... Ingin ... Kita pisah. Dulu aku seperti gelas kosong yang berlubang. Mau di isi berapa banyak pun tetap tidak akan penuh. Aku membeli tas bermerek, bergaul bersama mereka, memakai make up tebal untuk dapat menarik perhatianmu kembali dan menutupi kesepianku. Namun Hati ku tetap kosong. Aku tetap merasa ada yang kosong tak bertujuan, tapi semenjak aku disini bersama menantu, anak dan cucuku. Aku mulai merasa kekosongan ku terisi. Merawat anak dan menantuku, bercanda bersama, atau membereskan rumah bersama mereka semua, itu membuat perlahan lubang di gelas kosongku mulai tertambal. Aku seolah menemukan tujuan dan alasan hidupku." Mama Jill tak menatap Ferdi, tapi senyum tulus terus terukir di wajahnya. "Mungkin sejak awal aku tidak menginginkan pernikahan ini, aku hanya berusaha mencari sesuatu untuk mengisi hatiku setelah Reza meninggalkan aku. Aku ... Tidak bisa melupakan Reza, Fer. Dia sangat baik dan selalu memanjakan aku. Seperti Vero selama ini kepada ku," ungkap Mama Jill kali ini dengan mata berkaca-kaca. Ferdi dapat lihat kebahagiaan di mata itu sekarang. Kebahagiaan yang sudah lama tak ia lihat di wajah Jill.
"Maaf Jill, aku menyakitimu. Aku hanya butuh waktu untuk mempercayaimu lagi setelah kau membawa kabur semuanya dari ku dulu bersama laki-laki muda itu. Aku berusaha keras untuk hidupku setelah kau mengambil semua dariku," Mama Jill tertunduk penuh penyesalan. Ferdi yang melihat penyesalan itu segera meraih tangan Mama Jill dan menatap wajah cantik itu dalam. "Sekarang, ayo kita mulai lagi dari awal. Aku akan berikan apa yang menjadi kebutuhanmu. Selama beberapa minggu kamu tidak ada di rumah, membuat aku sadar. Bahwa setiap sudut rumah itu kamu yang isi, Jill. Dan betapa kamu sudah berusaha keras melakukan yang terbaik, hingga kamu bosan dan memilih untuk pergi. Aku merindukan tawa canda mu yang selalu terdengar di rumah Jill, masakan unikmu ... aku tidak bisa tanpa itu semua dari mu. Hanya kamu yang bisa lakukan itu untukku." Bujuk Ferdi lagi.
"Maaf. Aku tidak bisa. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri lagi. Aku tidak bahagia selama ini. Aku ... Tidak mencintaimu, Fer. Maaf ... Aku tidak bisa lagi," putus Mama Jill berat.
Ferdi menarik nafas dalam. Mungkin Jill benar-benar butuh waktu untuk sendiri saat ini. Dia tidak bisa memaksa nya saat ini.
__ADS_1
"Baik. Tapi ... Jika kau ingin kembali. Kau tau arahnya ... dan pintu selalu terbuka untukmu," lirih Ferdi. Membuat Mama Jill mengangkat wajahnya dan menatap ferdi. Seulas senyum terukir di wajah yang tak muda lagi itu, tapi masih terlihat sangat berkharismatik, Mama Jill kembali menyematkan senyumannya.
"Terimakasih," ucap Mama jill yang bersamaan dengan kedatangan Qian. Qian menghentikan motornya tepat di hadapan keduanya. Ia membuka helm full face nya dan menyapa Ferdi dengan seutas senyum hormat.
"Hai, Qian. Apa kabarmu?" sapa Ferdi ramah.
"Baik, om. om, gimana? Sehat?" balas Qian dengan ramah.
"Sehat," jawabnya ramah. "Oh, ya. Om titip Mama Jill ya. Om pergi dulu," ucapnya seraya melangkah pergi setelah menatap sekilas ke arah Mama Jill dengan seulas senyumnya. Mama jill hanya menatap kepergian Ferdi suaminya dengan tatapan yang dalam. Qian hanya diam menyaksikan keduanya.
Setelah beberapa saat baru mereka pergi dari sana. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam dengan pikiran masing-masing. Qian memikirkan tentang ibu dan istrinya. Mama Jill memikirkan tentang Ferdi dan kelanjutan hubungannya yang kini malah membuat dia bingung dengan keputusan yang akan ia ambil.
Perjalanan malam terus membawa mereka ke arah tujuan yang sama. Membelah kegelapan malam dengan cahaya kendaraan. Setelah sekian lama larut dengan pikirannya Mama Jill mulai menyadari jika menantunya ini membawa kendaraannya seperti melayang di udara sangking cepatnya.
Qian yang tengah mengenakan helm fullface nyaris tak dapat mendengar apapun dari Mama Jill kecuali tepukan keras nya di pundaknya.
Qian sedikit menoleh ke belakang.
"PELAN!" seru Mama Jill dengan suara yang keras.
Qian tersenyum dan perlahan mengurangi kecepatannya. Karena terlalu masuk dengan alam bawah sadarnya membuat Qian tidak menyadari jika kecepatannya sudah melewati batas rata-rata kendaraan di jalanan umum. Untung dia memiliki jiwa balapan yang membuat dia bisa mengimbangi jalanan ramai dengan kecepatan kendaraannya tersebut secara naluriah.
***
__ADS_1
Tidak lama mereka pun sampai dan seperti biasa Vero sudah membukakan pintu sebelum Qian turun dari motornya, karena Vero sudah hafal betul dengan suara motor Qian.
Dia menatap heran kenapa Qian dan ibunya bisa pulang berbarengan begini.
"Kok barengan?" tanya Vero penasaran.
"Mama Jill habis pacaran tadi," seloroh Qian usil yang di sambut Mama Jill dengan cubitan di lengan Qian yang membuat Qian mengaduh kesakitan. Dan ia pun masuk kamarnya meninggalkan Qian dan Vero yang tampaknya masih harus menyelesaikan permasalahan mereka.
Seolah paham dengan tatapan Vero yang seolah menuntut kejelasan.
"Besok kita beli yang masih kurang tanpa harus membuat kita merasa terhutang lagi. Benda itu akan membuat kita terhutang nantinya. Aku tidak mau itu. Motor itu, ayahku yang belikan. Jika tidak, tentu sudah ibuku ambil dariku. Aku tidak mau anakku juga begitu nantinya. Kakak tidak lihat bagaimana mana ibuku mengusirku? Seperti itu aku di matanya. Mudah menjadi asing dan di lupakan. Bagaimana dia bisa peduli dalam sekejap?" ungkap Qian. Vero masih terdiam tanpa sahutan. Qian melihat Vero masih tampak sulit menerima. Ia pun akhirnya beranjak dari sana seraya menenteng helm nya
***
Saat tidur Vero masih kelihatan kesal. Dia membelakangi Qian tanpa suara. Qian yang tidak ingin terganggu dengan sikap Vero mencoba untuk melupakan sikap Vero itu. Ia membalikkan tubuhnya dan mencoba memejamkan matanya.
***
Di sisi lain. Maya masih terdiam di hadapan baju-baju bayi itu. Sedangkan Alzam yang mengintip berusaha untuk tidak ikut campur. Dia hanya melihat sekilas bagaimana ibunya bersedih lalu beranjak pergi dari balik pintu kamar ibunya yang sedikit terbuka itu.
Maya menghela nafasnya dalam dan menyimpan kembali pakaian bayi itu ke dalam box khusus dan meletakkannya kedalam lemarinya. Seolah masih percaya jika suatu saat nanti akan ada kesempatan untuk ia kenakan kepada cucunya kelak.
__ADS_1