
Qian seharian bolak-balik dari satu ruang akademik ke ruang lain untuk mengurusi kekacauan yang telah di buat Reo. Hingga malam menjelang masih belum juga rampung.
"Gimana?" tanya Reo saat Qian baru pulang.
"Besok lagi. Sama rektor," jawab Qian seraya melempar tubuhnya keranjang dan membuang tasnya ke sembarangan arah. Rasa lelah dan kacau menyelimuti Qian saat ini.
Dia mengutak-atik handphone nya. Percuma. Dia tidak akan bisa menemuinya disana. Dia meletakkan handphonenya di atas nakas dan menghela nafas dalam, melepaskannya seraya menutup mata dan mendekap wajahnya.
Ah, kenapa sesesak ini rasanya. Apa yang Vero pikirkan tentangnya saat ini. Ingin rasanya dia segera pulang, tapi nanti akan sulit untuk kembali lagi.
"Sialan!" lirih Qian.
Reo melirik Qian, dia baru saja menyelesaikan hajatnya di kamar mandi. Lalu ia duduk di sebuah bangku tempat dimana ia biasa habiskan waktu untuk belajar.
"Fokus aja selese-in ini dulu. Urusan cewek belakangan juga bisa, kalo di putusin ya ... cari baru lah. Masak lo lemah gini sih. Biasanya lo paling jago bikin patah hati, masak sekarang lo galau!" ungkap Reo. Qian tidak menyahutnya, percuma di jelaskan yang ada nanti malah buat masalah baru lagi.
__ADS_1
***
Vero memulai paginya dengan rasa lemas dan malas, jika bukan karena tugas maka takkan mungkin ia bangkit dari ranjangnya. Ini ia alami sudah beberapa hari ini. Ia mulai mengalami gangguan ibu hamil.
Seperti pagi ini, dia rasanya sudah tidak punya apapun lagi di perutnya untuk di keluarkan, tapi tetap saja rasa mual-nya tidak kunjung reda.
Vero merasa lemas dan rasanya tidak mungkin ia sanggup lagi untuk bekerja pagi ini, tapi apa boleh buat. Dia tidak bisa libur karena sudah terikat dengan kontrak kerja.
Dengan lemas Vero bersiap untuk berangkat kerja dengan seragam hotel yang selalu ia kenakan lengkap dengan make-up tebalnya sebagai penunjang kinerjanya sebagai seorang resepsionis yang bekerja di garda terdepan di hotel.
Tak lupa ia juga mengenakan heels yang super tinggi. Tapi, dia kembali teringat akan sesuatu. Ia meraba perut ratanya.
Ah, kekenyolan yang berakibat sangat fatal baginya. Tapi, entah kenapa jauh di relung hatinya terbersit rasa bahagianya saat ia menyadari jika sebentar lagi akan memiliki seorang bayi, tapi malah otaknya menolak menerima bayi ini.
Dia belum siap. Belum siap berumah tangga dengan Qian, setidaknya hingga pria muda itu memiliki pekerjaan tetap terdahulu. Atau hingga dia benar-benar yakin dengan lelaki itu dulu.
__ADS_1
"Qian, pulanglah. Ayo kita selesaikan ini," bisik Vero di sela isak tangisnya.
Selesai semua, Vero pun bersiap untuk pergi. Pagi ini Vero memilih untuk menggunakan taksi online karena merasa ragu mengendarai kendaraannya sendiri.
Saat tengah asyik mengena sepatunya Vero tiba-tiba dikagetkan oleh sentuhan seseorang di bahunya. Vero pun terlonjak kaget dan menoleh. Saat menyadari itu adalah neneknya Vero pun tersenyum.
"Nenek! Kok ngagetin sih," seru Vero yang masih sibuk dengan sepatunya.
Nenek duduk di samping Vero.
"Kenapa pakai sepatu datar, biasanya kamu pakai sepatu yang tinggi runcing itu. Nenek sampai takut lihat kamu jalan kalau pakai sepatu itu, kenapa hari ini tidak pakai? Kamu bilang itu bagian aturan hotel," tanya Nenek heran.
"Iya, Nek. Hari ini Vero lagi nggak enak badan, takut nggak imbang kalo pakek heels. Libur aja kali ini heelsnya," jawab Vero yang baru selesai mengenakan sepatunya.
"Yaudah. Vero pamit dulu ya, Nek.
__ADS_1
Itu taksinya juga udah dateng. Vero nggak bawak mobil dulu hari ini," ungkap Vero sembari menyalami tangan neneknya takzim.
Tanpa Vero sadari saat Vero pergi, Nenek terus saja memperhatikan tingkah Vero. Sudah beberapa hari ini beliau mulai merasa ada yang aneh pada diri Vero. Dia terlihat pucat dan lemas. Tapi saat di tanya Vero selalu menghindar seolah tengah menyembunyikan sesuatu.