
Pagi-pagi sekali Qian sudah terbangun. Dia mengambil kunci mobil ibunya diam-diam. Qian mengendap-endap seperti seorang pencuri hingga dia berhasil keluar dari rumah tersebut.
Dia menuju hotel tempat Vero bekerja. Dia masuk area hotel yang tampaknya masih sepi karena memang masih pagi. Setelah celingak-celinguk beberapa saat, Qian tidak bisa melihat keberadaan Vero. Mika rekan kerja Vero pun tidak terlihat di sana.
"Mungkin pagi ini bukan shiftnya dia," gumam Qian yang langsung berbalik melangkah pergi dari sana.
Baru beberapa langkah Qian sudah di hentikan oleh seseorang.
"Qian!" serunya.
Qian pun menoleh kearah sumber suara. Ternyata itu adalah Mika. Gadis cantik bersanggul rapih itu berjalan agak cepat kearah Qian.
"Kamu nyariin Vero?" tanya nya setelah sampai. Qian mengangguk pelan.
"Ayok ikut saya. Saya mau bicara," ucap Mika lagi dengan mimik wajah serius membuat Qian penasaran.
Mereka segera berjalan menuju suatu tempat yang lumayan sepi.
"Vero sudah di pecat," ungkap Mika tanpa basa-basi. "Dia ... Dia hamil!" lirih Mika lagi. Qian terpaku kaget setengah mati mendengarnya. Sesaat dia merasa seolah seperti berhenti detak jantungnya sesaat.
"Ha-hamil? Ve-Vero?" tanya Qian terbata-bata masih tak percaya.
__ADS_1
"Anak kamu, kan?" tanya Mika frontal dengan wajah datar seraya bersidekap dada. Dia mulai menunjukkan sikap konfrontasinya terhadap Qian.
"Trus sekarang dia di mana?" tanya Qian cepat tanpa menjawab pernyataan Mika.
"Di rumahnya mungkin," jawab Mika dingin. Terus terang dia kesal dengan perbuatan Qian kepada sahabatnya itu. Selama tiga minggu mereka kehilangan kontak, lalu sekarang lelaki muda ini datang begitu saja di hadapan mereka.
"Dia mau nikah sama cowok kaya raya. PUAS KAMU? Kamu bisa lari sejauh mungkin dari kenyataan dan tidak perlu bertanggung jawab lagi atas kehamilannya," lanjut Mika lalu meninggalkan Qian begitu saja sangking kesalnya dia. Dia mulai tidak tahan menghadapi lelaki muda tampan ini lagi. Sebelum dia hilang kendali lebih dia segera mengakhiri pembicaraan mereka.
Qian hanya terpaku di posisinya tak sanggup berkata-kata lagi. Dia seolah kehilangan separuh nyawanya masih merasa tidak percaya.
***
Qian tanpa buang-buang waktu lagi segera menuju kediaman Vero. Tapi setelah mengebel dan menggedor pintu beberapa kali tetap tidak ada sahutan dari dalam.
Qian menatap hampa. Dia masih tidak percaya jika Vero tengah hamil. Begitu banyak hal yang terjadi semenjak ia pergi. Dia melewatkan banyak hal selama 3 minggu ini.
Qian mulai menerawang jauh. Anak? Dia akan menjadi seorang ayah? Ah pasti menyenangkan. Senyum Qian terukir di bibir merahnya.
Eh tunggu dulu! Tapi sesaat dia kembali berfikir. Dia masih 20 tahunan. Belum punya pekerjaan tetap dan dunianya masih seputar games dan huru hara bersama teman-teman bangsatnya.
Bertanggung jawab untuk dirinya sendiri saja dia masih berantakan. Bagaimana bisa dia bertanggungjawab untuk seorang bayi dan istri.
__ADS_1
"Ah, sudah lah. Riski tuhan yang atur," gumam Qian berusaha menguatkan hatinya sendiri seraya mengusap wajahnya kasar dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi tempat duduknya.
Saat sibuk dengan pikirannya sendiri tiba-tiba seseorang datang. Dia lah Vero. Wanita cantik dengan rambut bergelombang, mata yang besar berwarna kecoklatan dan bibir mungil dan dagu tirusnya. Sungguh dia wanita yang sangat jelita. Pantas jika banyak lelaki yang mengincarnya.
Sesaat Vero yang masih kaget dengan kehadiran Qian di hadapannya tidak bisa beranjak dari posisinya. Dia menatap Qian dengan tatapan dalam. Entah apa yang tengah ia pikirkan saat ini. Marah? Rindu? Atau kecewa?
Dia marah terhadap Qian yang hilang kontak selama berminggu-minggu ini. Tapi dia juga rindu dan sangat ingin bertemu dengannya. Namun tersemat rasa kecewanya juga karena lelaki ini mengingkari janjinya dulu dan telah membuat dia kehilangan pekerjaannya juga.
Qian yang perlahan bangkit melangkah untuk mendekatinya. Vero pun seolah mulai tersadar. Dia dengan langkah cepat langsung membuka pintu dan masuk ke rumahnya serta menguncinya dengan cepat tanpa memberi kesempatan Qian untuk bicara.
Qian yang bingung dengan reaksi Vero berusaha mengetuk pintu beberapa kali.
"Kak! Dengerin dulu aku mau ngomong, kak." Masih tidak ada reaksi dari Vero. "Kak, plis jangan gini. Kasih kesempatan buat aku jelasin," seru Qian dari luar lagi. Sedangkan Vero berdiri bersandar di belakang pintu dengan perasaan campur aduk.
"Pergi kamu," usir Vero lantang. "Jangan kemari lagi," lanjutnya. Sesaat tak terdengar apapun dari luar laghi. Apa Qian sudah pergi? Apa dia berhasil membuat Qian menjauh.
Sedangkan di luar Qian terdiam sesaat. Apa Vero begitu membencinya saat ini? Tapi sungguh dia tidak pernah berniat menghilang. Kenapa Vero tak memberinya kesempatan untuk bicara. 'Ah, kenapa jadi kacau begini' batin Qian.
Melihat keadaan yang semakin sulit. Qian pun memutuskan untuk pulang. Dia kembali ke kediamannya. Bahkan dia tidak perdulikan omelan ibunya yang marah karena dia membawa mobil tanpa seizinnya tadi pagi. Qian langsung berjalan cepat menuju kamarnya dan membanting pintu cukup keras.
"Anak ini semakin lama semakin nggak ada sopan santunnya. Mau jadi apa dia nanti!" gerutu Maya kesal.
__ADS_1
Qian seharian di kamar bahkan dia tidak mau keluar meski terus panggil oleh ibunya. Bahkan Maya membujuknya dengan makanan kesukaannya Qian tetap tidak mau keluar.