
Malamnya Qian benar-benar di paksa untuk tampil rapih. Karena sedang malas ribut dia pun menurut saja. Walau sebenarnya dia tidak dalam keadaan mood yang baik.
"Hari ini saja kamu jangan cari gara-gara. Ini calon istri kakak kamu. Setelah ini kamu mau gila atau mau apa juga terserah, Mama nggak peduli," ucap Maya yang tampak sibuk menata ini itu dari tadi. Qian tersenyum sinis mendengar pernyataan Maya barusan.
"Biasanya juga nggak peduli Mama sama aku," jawab Qian datar seraya mengambil sepotong cake di talenan yang di bawa ART lalu pergi.
Maya menghentikan kegiatannya dan menatap kepergian Qian sekilas, dia menarik nafasnya dalam mencoba untuk tidak terpancing kali ini. Lalu kembali memfokuskan diri pada kesibukannya dan mengabaikan Qian.
Maya begitu antusias dengan hari ini karena ini adalah pertama kalinya Alzam memperkenalkan seorang wanita kepadanya, apalagi wanita yang Alzam kenalkan sangat cantik dan lembut. Maya langsung menyukainya saat pertama kali bertemu kemarin.
Oleh karena itu dia tidak ingin terganggu oleh tingkah Qian untuk sementara ini. Selagi si bungsu itu tidak berbuat hal yang fatal, ia akan coba abaikan saja.
***
Saat tengah asyik menyiapkan semua tiba-tiba terdengar bel pintu berbunyi. Maya tersenyum senang. Ia yakin itu adalah tamu yang ia tunggu-tunggu.
"Akhirnya," lirih Maya girang.
"Zam! Bukain, Nak. Itu tamunya mungkin yang datang!" seru Maya dari ruang makan. Dia masih terlalu sibuk untuk membukanya sendiri.
__ADS_1
Alzam tidak menunggu waktu lama, ia segera berlari menuju pintu. Sedangkan Qian masih sibuk dengan tayangan Netflix di televisi ruang keluarga. Dia bahkan mengacuhkan kakaknya saat Alzam menoyor kepalanya. Dia hanya melihat sekilas lalu kembali fokus dengan tontonan nya.
"Kalo dia cantik. Gue gaet, ya!" seru Qian membalas menggoda kakaknya dengan expresi cueknya serta handphone di tangannya. Entah apa yang benar-benar ia lakukan saat ini. Menonton televisi atau bermain games di handphone nya.
"Awas aja!" sahut Alzam seraya berlari menuruni tangga untuk membuka pintu tamu istimewanya. Qian hanya tertawa tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar handphone.
***
Saat Alzam membuka pintu, betapa kagetnya dia mendapati si gadis cantik berkulit putih mulus dengan rambut bergelombangnya yang ia ikat sebagian dan dress putih selutut nya, plus senyum manisnya yang membuat Alzam semakin terpana menatapnya.
"Ha-hai!" sapa Alzam kikuk sekaligus grogi karena terpesona dengan kecantikan Vero saat ini, dan di sambut senyum malu-malu dan anggukan oleh Vero.
Sesaat Alzam lupa dengan kehadiran nenek di samping Vero. Hingga nenek berdehem untuk menyadarkan Alzam dengan kehadirannya dan mereka yang sudah lama berdiri di depan pintu.
Seolah paham dengan kode yang di berikan nenek, Alzam pun segera tersadar dari lamunannya.
"O... Oh iya. Ayo masuk. Mama udah nungguin dari tadi." Alzam segera mempersilahkan tamunya masuk dengan sopan.
"Zam! Itu Vero yang datang ya?" seru Maya yang baru datang dari dapur.
__ADS_1
Mendengar nama Vero di sebut itu cukup menarik perhatian Qian yang tengah menonton televisi. Dia segera membenahi posisinya. Dan mencoba memasang telinganya untuk lebih tajam lagi.
"Iya Tante!" sahut Vero khas dengan suara lembutnya.
Kali ini Qian benar-benar tidak bisa diam di tempat. Dia segera bangkit dan berlari melihat siapa gerangan yang datang. Apa itu Vero yang sama dengan kekasihnya.
Sesaat langkah Qian membeku saat melihatnya langsung. Ternyata itu benar Vero yang sama.
"Vero!" seru Qian mengagetkan semua orang, membuat semua mata orang menoleh kepadanya. Saat sudah benar-benar yakin, Qian semakin tidak percaya ini.
Apa? Calon istri kakaknya adalah kekasihnya? Bagaimana bisa? Pasti ini hanya mimpi. Qian menampar wajahnya berharap dia bisa sadar dari mimpi anehnya ini. Tapi, tidak. Ini nyata. Sangat nyata.
"Qi-Qian?!" seru Vero tak kalah kagetnya. Dia merasakan seolah degup jantungnya berhenti sesaat, ketika melihat sosok Qian berdiri di hadapannya saat ini.
Nenek yang di samping Vero tak kalah shocknya. Sesaat dia tidak bisa berkata-kata.
"Ka-kamu Qian kekasih Vero? Lelaki yang menghamili Vero, bukan?" lirih nenek shock. Dan tanpa sadar malah mengatakan semua.
Kini Alzam dan Maya yang menjadi sangat shock dan menatap Qian dan Vero secara bergantian.
__ADS_1
Dan...
BUKKK...