
Pagi menjelang. Perlahan mentari memperlihatkan dirinya dengan malu-malu dari balik awan tebal setelah hujan di pagi buta. Udara cukup dingin dan sejuk pagi ini.
Perlahan Vero terbangun dengan tubuh yang terasa sangat pegal. Dia membuka matanya perlahan yang sempat kaget, pasalnya ia terbangun tepat wajah Qian hampir tak berjarak darinya. Sesaat Vero berusaha mengumpulkan kesadarannya seperti sebuah parsel yang terpisah. Dia kembali ingat dengan kejadian gila semalam. Sebuah senyum manisnya pun terukir dari bibirnya.
Wajah tampan dengan kulit putih bersih, hidung tipis mancung mulik Al-Qian seperti salah satu pahatan sempurna yang pernah tuhan ciptakan.
Perlahan Vero mengangkat telunjuknya menyentuh hidung Qian hingga ke ujung hidungnya. Qian pun membuka matanya dengan tenang, Vero kaget bukan kepalang. Lalu di detik berikutnya mereka berdua malah tertawa bersama.
"Jam berapa?" tanya Qian serak khas baru bangun tidur.
"Sembilan, kayaknya jam 12 kita harus segera check out sebelum extend," ingat Vero dan mulai bangkit. Qian malah membalikkan tubuhnya dan mulai tidur lagi. Dia masih mengantuk dan lelah. Vero menatap Qian yang baru saja tertidur kembali. Dia mendengus nafasnya kasar. Vero melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Saat keluar dia mendapati Qian sudah duduk bersandar di kepala ranjang dengan handphone nya. Vero hanya menatapnya sekilas lalu segera mengambil hairdryer untuk mengeringkan rambutnya.
"Mama nelpon puluhan kali semalam. Kirain nggak peduli dia," gumam Qian dengan senyum tipis. Vero tidak menyahut, dia tetap dengan kegiatannya.
Sekarang gantian Qian yang membersihkan dirinya. Selesai dia keluar sudah mengenakan pakaiannya kembali dengan rambut basah.
Dia duduk di bangku seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk. Qian menatap Vero yang tengah makeup lekat-lekat seolah ingin menanyakan sesuatu.
"Apa ... Kakak nggak nyesel?" tanya Qian tepat saat Vero baru selesai memasang lipstik nya.
"Kenapa? Kamu nyesel? Karena tanpa pengaman? Kamu takut aku hamil?" tebak Vero.
Qian diam sebentar sebelum menjawab.
"Kalau memang itu terjadi, cari aku. Aku akan bertanggung jawab. Tapi ... Kita ini belum lama kenal. Lalu kita lakukan hal seperti semalam dan ...," ucapan Qian terpotong.
"Jangan nambah beban pikiran lagi. Baru saja aku hampir gila semalam," ucap Vero memotong ucapan Qian. Qian pun kembali menarik nafas panjang.
Mungkin Vero benar. Tidak perlu di bahas lagi, toh sudah terjadi.
Selesai semua mereka pun bersiap akan pergi. Sebelum pergi Qian kembali memeriksa apakah ada barang yang tertinggal atau tidak. Dia mengecek beberapa sudut dari kamar hotel tersebut, hingga akhirnya dia menyingkap selimut yang mereka kenakan semalam.
Qian melihat sesuatu yang tertinggal dan tidak mungkin ia bawa pulang. Ada bercak darah merah di seprai. Qian berpikir sebentar lalu mengeluarkan dompetnya dan meletakkan dua lembar uang lima puluh ribu di atas ranjang tersebut.
__ADS_1
Vero yang baru keluar dari kamar mandi kaget dengan apa yang di lakukan Qian.
"Kenapa? Apa ada yang rusak?" tanya Vero terhadap uang yang Qian tinggalkan di sana. Qian menggeleng seraya tersenyum tanpa mengatakan apapun. Dia menggandeng Vero untuk segera meninggalkan kamar tersebut.
***
Setelah mengantar Vero, Qian pun kembali kekediaman nya. Dia si sambut ibunya yang tampak berantakan dan kelihatannya juga sangat marah.
"Hebat! Anggap saja rumah ini seperti penginapan yang tidak punya aturannya. Kamu bisa pergi atau pulang seenak jidat kamu," amuk Maya meluahkan perasaan yang ia tahan sejak semalam.
Qian menatap ibunya tenang.
"Aku bukan Azam. Mayat ku sekalipun yang diantar pulang, Mama mana mungkin sedih. Mama bisa anggap aku mati selama 4 tahun, kenapa kehilangan aku semalam Mama malah jadi gila? Mama khawatirin aku atau ... Cuman lagi kangen mas Azam?" tukas Qian membuat Maya terdiam menelan saliva nya yang pahit.
"Kalau kamu bersikap baik apa kamu pikir Mama akan kayak gitu? Kamu curi tas Mama, kamu buat kacau semua rencana Mama, kamu selalu bersikap semau kamu. Kamu tidak seperti Azam. Dia baik ...," ucap Maya terpotong.
"Apa aku buruk? Apa buruknya aku? Apa aku pecandu alkohol? Nge-drugs? Sering bawa perempuan nginap? Atau apa? Nggak kan, Mah? Aku nyuri tas Mama itu karena aku udah mintak baik-baik Mama malah nggak peduli. Lain kali kalo Mama nggak puas sama hidup Mama jangan lampiasin ke aku," seru Qian mulai tidak bisa menahan dirinya. Dia menantang ibunya dengan tatapan mata yang memerah dan tangan terkepal menahan amarah.
***
"Dari mana kamu semalam, Vero?"ini tanya neneknya lembut dan tampak masih cantik di usia senjanya. Masih tampak sehat dan anggun.
"Da-dari tempat teman, Nek. Maaf, handphone aku lupa hidupin lagi semalam," terang Vero bohong.
"Apa ibumu meminta uang lagi kemarin?" tanya neneknya penuh selidik. Seketika membuat Vero terdiam. Nenek paham, dia menarik nafas panjang dan melepaskannya dengan kasar.
"Dia menelpon terus semalam. Katanya dia sangat butuh uang itu, dia sudah di tagih hutang. Dan suaminya marah besar karena berhutang untuk memesan tasnya lagi," terang nenek membuat Vero semakin terdiam.
"Tolak saja kalau kamu tidak sanggup Vero. Jangan mau diperalat dan di perasnya," nasehat nenek lagi seraya menyentuh bahu Vero lembut.
"Alex gimana, Nek?" tanya Vero tentang adiknya.
"Alex tidak tinggal bersama ibumu lagi, dia sudah di bawa neneknya." Vero bisa bernafas lega. Akhirnya Alex tidak di permainkan ibunya lagi. Setidaknya sekarang dia bisa menentang ibunya lagi, karena selama ini ibunya selalu menggunakan Alex adiknya untuk menekannya.
"Yaudah, Vero ke kamar dulu, Nek," izin Vero. Neneknya mengangguk.
__ADS_1
Nenek merasa ada yang aneh dengan Vero pagi ini. Ada yang berbeda dari Vero pagi ini, tapi dia tidak tahu apa itu.
"Dari mana dia semalam," lirih nenek mulai curiga.
***
Di kamar Vero membaringkan tubuhnya di ranjang. Dia mengambil handphone nya dan terdapat chat dari Qian.
'Sudah sampai?' tanya Qian melalui chat.
'Udah. Ini baru sampai rumah 😊' jawab Vero dengan sebuah emoticon senyum manis.
Qian tersenyum melihat emoticon tersebut.
"Kayak ABG," gumam Qian dengan senyuman tipis.
Ia membuang handphone nya begitu saja di ranjang lalu menghempaskan tubuhnya lepas keranjangnya. Rasanya dia masih sangat mengantuk. Ia pun kembali melanjutkan tidurnya.
***
Di sisi lain Alzam tampak tengah berjibaku dengan para pasiennya. Dia tengah menjadi tenaga suka relawan di sebuah desa terpencil bahkan bisa dikatakan desa tertinggal karena sangking terisolasinya daerah ini. Dan mereka di sana di rencanakan sampai 2 bukan kedepannya.
Jesika yang sudah selesai dengan pekerjaannya pun menghampiri Qian yang masih sibuk dengan satu pasiennya. Setelah selesai ia pun mendekati Alzam.
"Gimana Vero? Udah di hubungin? Soalnya kemaren aku usilin dia," jujur Jesika.
"Kamu apain dia?" tanya Alzam.
"Nggak. Iseng aja kirim foto random kita ke dia. Nggak di balasnya cuman centang biru. Aku pikir itu bisa pancing dia hubungin kamu. Ternyata malah ngambek beneran dia kayaknya." Tawa Jesika di ujung keterangannya. Alzam menautkan alisnya bingung dengan tingkah Jesika.
"Kamu apaan sih. Udah tau aku bermasalah sama dia." Alzam tampak tidak menyukai tindakan Jesika.
"Kamu juga kenapa nggak jelasin kalo kita sepupuan. Dia itu sinis-in aku tiap kali ketemu."
"Ah, udah ah. Nanti malam saja aku ngomong sama dia kalo udah ada sinyalnya." Alzam kembali membereskan semua peralatan medisnya karena memang mereka akan pindah lokasi lagi. Jesika hanya tersenyum mendengarnya.
__ADS_1