
Di sisi lain Qian kembali didatangi oleh Wike.
"Sorry aku kabur. Habis istri kamu kayak mau ngamuk gitu tampangnya. O ... Ya, orang yang aku bilang tempo hari ngajak ketemuan buat ngobrolin yang kemarin," ungkap Wike. Wike memang sempat mengatakan bahwa ada kenalannya yang dari perusahaan besar sedang mencari desain grafis untuk produk barunya. Ternyata pernyataan Wike tidak sekedar, tapi memang benar-benar ada.
"Oh, kirain bercanda. Yaudah, nanti aku omongin dulu sama tim." Qian pun segera pergi dari sana dengan buru-buru meninggalkan Wike yang terlihat masih ada yang ingin ia sampaikan.
"Hmmm... Belum juga di kasih tau kapan waktunya udah kabur aja. Yaudah lah, WA aja nanti," ucap Wike yang akhirnya juga pergi dari sana.
"Hmmm... Istrinya pencemburu juga, ya," gumam Wike dengan menyunggingkan senyumnya sambil terus berjalan.
***
Di tempat lain Vero baru saja sampai di rumah sakit Alatas Medical Center. Tapi ternyata Rumi tengah terlelap di sana.
"Dia baru Mama kasih makan siang tadi. Dia nggak terlalu rewel dan banyak yang bantu jagain juga tadi sama suster di sini. Tadi banyak yang ajak foto dan Mama larang. Nggak suka saja Mama dia di jadiin konten Instagram mereka," ungkap Maya. Vero hanya tersenyum tipis. Pikirannya masih melayang tentang kejadian tadi.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Ver?" tanya Maya yang juga merasakan ada keanehan dari diri Vero. Vero yang di tanya begitu langsung mengubah posisi duduknya yang ia rasa kurang nyaman.
"Nggak, Mah. Nggak ada apa-apa," ungkap Vero tak ingin melibatkan ibu mertuanya.
"Kalau ada apa-apa cerita saja. Mama akan dengarkan," ungkap Maya lagi. Vero hanya tersenyum dan mengangguk.
Tidak lama Alzam pun datang. Dia kelihatannya baru melakukan kunjungan terhadap pasiennya.
"Yasudah, Mama masih ada kerjaan di atas. Kamu Mama tinggal dulu, ya," ucap Maya sebelum pergi. Vero mengangguk.
"Sudah lama kamu hindarin aku," ucap Vero seraya melirik Alzam dengan nada menyindir.
"Hmmm...," desah Alzam dengan hanya seutas senyuman.
"Apa kabar Jesika? Aku dengar kalian lagi dekat," tanya Vero membuka topik pembicaraan.
__ADS_1
"Nggak juga. Dari dulu juga kita kayak gitu. Aku lagi pusing sama Mama yang terus jodoh-jodohin aku sama anak sahabatnya," ucap Alzam seraya tersenyum dan geleng-geleng kepala serta melepaskan kacamatanya.
"Yaudah. Nikah aja. Apalagi yang di tunggu. Pasti Mama mau kamu bahagia ada yang nemenin. Jangan sendirian terus, diam, kayak orang yang lagi ...," ucapan Vero terputus.
"Apa?" tanya Alzam menunggu lanjutan ucapan Vero.
"Nggak," bantah Vero tak ingin melanjutkan. " Oh, ya. Aku mau tanya. Apa kamu kenal sama cewek yang namanya Wike?" tanya Vero mengalihkan topik pembicaraan.
"Oo... Itu teman SMA Qian. Kalo nggak salah pernah pacaran juga. Mereka putus gara-gara Mama lihat dia ke hotel bareng cowok. Qian kayaknya nurut waktu di mintak putus, nggak banyak ngebantah dia. Hmmm ... Kayaknya Qian iseng pacarannya. Sebab sebelum pacaran dia sempat bilang pengen cari pacar biar nggak di bilang Una ngenes lagi. Hahaha... Dia sama Una itu sama-sama iseng orangnya," terang Alzam yang membuat Vero kembali berfikir.
"Kenapa?" tanya Alzam mengagetkan Vero yang tengah kosong pikirannya.
"Oh, ooo ... Nggak. Nggak ada apa-apa. Cuman pernah dengar Reo sama Bisma ngomongin dia," ucap Vero berbohong.
"Oh, kirain dia gangguin Qian lagi. Dia itu orangnya memang agak nekad dan genit," ucap Alzam yang kembali membuat Vero semakin khawatir dan kepikiran. "Jangan sampai Qian ketemu lagi dengan perempuan itu. Banyak drama dia. Dan agak narsistik juga," ungkap Alzam yang membuat Vero ketar-ketir.
__ADS_1