
Qian mulai mengusir rasa jengahnya dengan duduk sendirian di sebuah bangku kosong di taman kota. Sepuntung rokok ia hisap dan mengepulkan asapnya di udara. Mencoba melampangkan sesak di dadanya. Dia terlihat seperti tengah menunggu seseorang di bangku taman kota itu.
Ia mulai memikirkan satu tahun lebih pernikahannya. Tidak terasa sudah sejauh itu waktu bergulir. Rasa cinta yang ia isi karena rasa kosong ternyata malah menetap di hatinya. Rasa yang ia isi karena harinya membosankan.
Iseng menerima tawaran Vero untuk menghabiskan waktu bersama. Bercerita tentang kacaunya hati mereka saat itu. Berakhir dengan kedamaian yang mereka cari melalui cara yang salah. Dan akhirnya bayi mungil itu membuat mereka harus bersama. Empati, rasa bertanggungjawab dan akhirnya dia benar-benar jatuh cinta.
Tapi sekarang bisa-bisanya Vero terus mempertanyakan itu. Vero dan yang lain seringkali menyudutkan dia dan mempertanyakan kembali perasaannya. Dia merasa sangat kesal dan marah saat di ragukan. Entah kenapa dia tak suka di ragukan begini.
Tidak lama seseorang datang mendekat. Qian menyadari kehadiran sosok tersebut tapi dia memilih untuk tidak menoleh.
"Kenapa?" tanya Reo duduk di bangku kosong di samping Qian.
"Vero marah gue terima kerjaan dari Wike. Kayaknya dia mulai cari tau tentang Wike. Dia jarang mempermasalahkan sesuatu tapi tadi kita malah ribut jadinya," ucap Qian yang membuat Reo khawatir.
"Jangan batal lah. Perusahaan kita itu masih dalam masa berkembang. Kita butuh kerjasama proyek besar buat bisa lebih berkembang. Jangan libatin masalah pribadi sama kerjaan lah," ucap Reo seperti merengek.
"Kalian aja yang urus. Gue malas ribet," ungkap Qian masih dengan rokoknya.
"Nggak bisa Qian. Mereka itu sukanya desain lo, masak lo yang mundur. Ntar yang ada di batalin lagi kerjasamanya sama mereka. Ini kesempatan langka. Nggak akan datang dua kali. Ini proyek besar buat kita," ucap Reo berusaha meyakinkan Qian. Membuat Qian semakin pusing memikirkannya.
"Ah, tau lah. Pusing gue," ucap Qian pasrah seraya membuang puntung rokoknya yang habis.
"Kenapa pusing. Ya, jangan mundurlah. Lo mau korbanin kita semua demi bucin lo itu?" ucap Reo khawatir. Qian melirik Reo dan mendorong kepala Reo kesal karena di sebut bucin.
"Eh bangsat! Wajar kan kalo gue pertahankan. Itu anak sama bini gue. Kadang nih anak sama tololnya sama si Mbim," rutuk Qian.
__ADS_1
"Hahaha... Jangan bawak-bawak dia. Dia lagi dinner, ntar kesedak wine dia," ucap Reo tertawa membuat Qian mulai ikut tertawa mendengarnya.
"Gue nggak nyangka. Lo beneran serius mau nikah. Gue pikir lo bakalan cuek dan acuh setelah anak lo lahir. Taunya lo malah kayak gini sekarang," ungkap Reo seraya mengambil rokok yang baru Qian nyalakan dari tangan Qian. Qian hanya tersenyum dengan tingkah sahabatnya itu.
"Jangan terlalu banyak ngerokok. Lo punya bayi di rumah. Dah, pulang gih. Urusan kerjaan. Di pikirin ntar lah gimana bagusnya," ucap Reo akhirnya.
***
Di sisi lain Alzam tengah di sibukkan dengan kencan butanya dengan seorang wanita yang baru pertama kalinya ia temui hari ini. Seorang wanita cantik yang tampak elegan dengan tampilan glamornya. Mereka tengah menghabiskan waktu dengan makan malam romantis di sebuah restoran mahal yang sudah di atur oleh orang tua mereka.
"Aku kerja di bank sekarang. Mungkin waktu aku nggak banyak. Ini aja udah seminggu baru bisa luang. Kamu nggak apa-apa kan?" tanya si wanita membuka topik pembicaraan. Alzam hanya tersenyum menanggapinya.
"Kamu dokter apa? Bukan dokter muda yang baru merintis karir, kan? Aku nggak mau harus nunggu kamu mapan dulu. Aku mau yang sudah mapan dan pasti," ungkapnya lagi yang mulai terlihat angkuhnya. Alzam menghentikan tangannya yang tengah menggoyang gelas wine di tangannya.
"Aku belum mapan. Masih dokter biasa, dan kayaknya masih butuh waktu lama buat kamu nunggu aku kaya-raya." Alzam mulai terlihat tak suka di lihat secara materialistis di awal pertemuan begini. Si wanita mulai menatap Alzam serius.
"Iya. Tenang saja, aku nggak tersinggung," ucap Alzam lagi menatap si wanita.
"Berapa penghasilan kamu sebulan?" tanyanya lagi secara gamblang. Alzam mulai berfikir. Ia melihat tas branded dan tampilan mewah sang wanita.
"Aku nggak yakin bisa sanggup beli tas kamu. Keuangan aku di pegang ibu aku. Semua aku serahin sama dia. Aku hanya ambil seperlunya saja. Nggak tau dia simpan atau sudah habis," ungkap Alzam mulai memperlihatkan sikap tak pedulinya.
"Kamu masih diatur ibu kamu? Gimana nanti kalo kita nikah?" sinis si wanita. Alzam hanya menyedikkan bahunya seraya meneguk wine di gelas yang ada di tangannya.
Si wanita mendengus nafasnya kasar mulai jengah. Karena Alzam sepertinya tidak masuk kedalam kriterianya.
__ADS_1
Sedangkan Alzam tampak santai dan tak minat untuk meneruskan pembicaraan mereka, tapi masih berusaha ia menyembunyikan dengan senyuman tenangnya. Si wanita langsung bangkit dan meninggalkannya.
"Maaf, aku ada urusan lain. Nggak apa-apa kan kalo aku tinggal," ucapnya sebelum pergi dan meninggalkan beberapa lembar uang ratusan ribu di bill. Alzam benar-benar dianggap kelas rendah yang tak mampu membayar tagihan dinner nya. Alzam hanya tertawa miris melihat perlakuan seperti itu. Ia meneguk habis wine di tangannya dan menambahkan jumlah bill nya lalu bangkit dan pergi dari sana.
Tepat saat Alzam keluar dia berpapasan dengan si wanita yang ternyata memarkirkan mobilnya tak jauh dari mobil Porsche mewah milik Alzam. Sesaat si wanita terbelalak dan menganga lebar melihat mobil mewah yang menjadi kendaraan Alzam. Alzam masih sempat tersenyum ke arah si wanita sebelum ia pergi.
Sekarang dia baru paham kenapa Alzam mengatakan penghasilannya di kelola oleh ibunya. Ternyata Alzam pria mapan dengan banyak bisnis.
Si wanita tampak kesal melihat kesempatan besar yang ia lepas saat di restoran tadi. Berani-beraninya dia bersikap angkuh di hadapan Alzam. Karena dia pikir Alzam hanya bermodalkan tampang saja untuk mendekatinya. Tapi ternyata Alzam sosok kaya raya dan berpenghasilan besar.
Ya, Alzam selain seorang dokter dia juga pebisnis yang sebagian tidak ia kelola sendiri tapi di handel oleh orang kepercayaannya. Karena dia ingin menjaga rumah sakit milik ibunya. Hingga ia melepaskan bisnisnya bersama orang-orang kepercayaannya saja. Dia hanya datang sesekali untuk mengontrol nya.
***
Saat sebelum pulang Alzam berhenti di sebuah minimarket yang kebetulan tidak jauh dari kediaman adiknya saat ini. Dan saat dia masuk ke minimarket tersebut dia malah berpapasan dengan Qian yang tampak cuek tanpa menatapnya seperti orang yang tak saling kenal.
Dia menatap punggung adiknya yang terus berjalan menjauh. Sepertinya Qian berjalan kaki tanpa kendaraan.
'Masih menyebalkan saja dia,' batin Alzam masih dengan tatapan mengekori Qian.
***
Saat pulang ia sempat berhenti sebentar melihat kediaman Vero dan Qian beberapa saat sampai akhirnya ia putuskan untuk pergi dari sana.
Tanpa Alzam ketahui Qian ternyata tengah duduk di depan ruko yang tak jauh dari tempat Alzam berhenti.
__ADS_1
"Masih kepo aja dia," rutuk Qian seraya membuang botol minuman kalengnya yang kebetulan sudah ia habiskan.
Tadinya dia memang sengaja membeli minuman untuk menghilangkan bau rokok pada dirinya yang masih melekat. Tapi dia malah menangkap basah sang kakak yang ternyata masih ingin tau dengan kehidupannya.