Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Tumbang


__ADS_3

Vero terduduk lemas di bangkunya. Ini salah satu alasan kenapa Vero meminta Alzam menemaninya. Karena secara fisik dia masih sangat lemah.


Alzam yang melihat keadaan Vero yang semakin lemah segera menghampirinya.


"Lebih baik kita pulang. Kamu kayaknya sudah mulai nggak kuat," ungkap Alzam.


Vero pun mengangguk setuju, baru saja dia mencoba untuk berdiri dia sudah kembali jatuh pingsan. Untung Alzam ada di sana. Sehingga dia dengan cepat bisa segera menahan tubuh Vero sebelum tubuh wanita cantik itu membentur sesuatu.


Dia dengan panik dan di bantu oleh para pelayan restoran segera membawa Vero ke rumah sakit. Tepatnya ke rumah sakit Alatas Medical Center milik keluarganya.


***

__ADS_1


Alzam dengan buru-buru memanggil staf yang ada untuk menangani Vero sesegera mungkin. Di bantu oleh beberapa orang dokter. Alzam pun juga ikut memeriksanya.


"Dia terlalu stres dan tekanan darahnya juga cukup tinggi. Apalagi keadaan dia juga kayaknya lemah, mungkin karena kurang nutrisi dan gangguan hormon hamilnya," terang Jesika yang merupakan dokter kandungan di sana.


Alzam mengusap kepala Vero dengan perasaan yang sangat khawatir atas keadaan Vero saat ini. Jesika memperhatikan itu secara diam-diam dan pura-pura tidak memperhatikan.


Sesaat dia ingat. Dia belum memberitahu Qian perihal keadaan Vero. Dia pun segera merogoh handphone nya untuk melakukan panggilan.


"Plis, jangan hubungi dia. Nanti dia tau aku pergi sama kamu," lirih Vero yang kelihatannya baru saja sadar.


***

__ADS_1


Qian yang mendengar kabar Vero masuk rumah sakit dengan secepat mungkin segera menuju kesana. Dia sempat kesal kenapa Vero malah pergi ke rumah sakit ini. Tapi apa boleh buat, toh sudah terlanjur.


Qian lebih kesal lagi saat melihat Alzam duduk di samping Vero dengan tatapan hangatnya kepada Vero. Alzam menatap kedatangan Qian, Qian balik menatap tajam dan sinis kepada Alzam.


"Vero pingsan dan kebetulan aku ketemu dia di restoran tadi. Makanya aku bawak ke sini," terang Alzam tanpa di minta terlebih dahulu.


Qian mengacuhkannya dan lebih peduli dengan keadaan Vero saat ini. Wanita cantik itu masih tampak pucat dan lemah.


"Kenapa kamu pergi sendirian? Kenapa nggak tunggu aku pulang, Kak," lirih Qian seraya menggenggam tangan Vero erat dan terlihat sangat khawatir.


"Aku nemuin Mama. Aku mintak perhiasan aku sama dia tadi. Kalo nggak di ambil cepat, takut di hilangin lagi sama mama," ungkap Vero masih dalam keadaan lemah.

__ADS_1


"Jangan pikirin itu dulu, kak. Yang penting kakak nggak apa-apa. Kalo soal itu aku nggak peduli," ungkap Qian masih terlihat khawatir. "Toh, uang kan masih bisa di cari." Seulas senyum hangat dan kecupan hangat yang Qian berikan kepada Vero mampu membuat Alzam terbakar api cemburu. Sungguh rasa cintanya kepada Vero belum hilang sedikitpun. Dia memalingkan wajahnya.


Karena tidak tahan menonton kemesraan Vero dan Qian, Alzam pun segera keluar dari sana. Qian melirik sinis kepergian Alzam. Dia sengaja lakukan itu di depan kakaknya untuk membuat kakaknya cemburu dan pergi dari sana.


__ADS_2