
Di sebuah kafe dengan tema klasik dan suguhan menu kopi hitam serta segelas jus jeruk yang terhidang di hadapan dua insan manusia yang tampaknya tidak tengah baik-baik saja. Ada aura ke tegangan terpancar dari ke duanya.
Terutama dari sosok wanita yang kelihatannya cukup mapan dan matang di usianya. Itu terlihat dari penampilannya yang elegan dan formal. Gaya gesture tubuhnya yang ber-manner dapat di simpulkan dia bukan wanita yang mudah untuk di taklukkan.
Si pria pun tak kalah berkelasnya dengan stelan formal, jam tangan mahal dan sepatu pantofel mengkilap pastinya bukan barang murah yang bisa di kenakan oleh siapapun. Dia masih tampak tenang dengan tatapannya yang lembut.
"Aku bukan tidak pernah serius dengan hubungan kita. Hanya saja ... Kau tau kan! Kalau ibuku tidak pernah mengetahui tentang hubungan kita selama ini. Jadi, pernikahan bukan sesuatu yang bisa aku janjikan. Aku harus memperkenalkan kamu pelan-pelan di hadapan mama," terang si pria membuka pembicaraan mereka dengan serius seraya menyeruput kopi hitamnya.
__ADS_1
Dia lah Alzam Alatas Mahendra, yang kini sudah sukses menjadi seorang dokter hebat di usia ke 30 tahunnya. Dia menjadi pria mapan dan seharusnya sudah siap dengan sebuah pernikahan. Tapi tiap kali kekasihnya menanyakan hal tersebut dia selalu tak mampu berikan kepastian itu hingga hari ini.
"Tiga tahun yang konyol kita habiskan selama ini seperti buang-buang waktu bagiku. Kau bisa tenang karna kau laki-laki sedangkan aku wanita. Aku butuh kepastian, tapi jawabanmu selalu menyebalkan seperti ini," tukas si wanita walau terlihat tenang dan terdengar datar namun cukup emosional.
Tatapan liarnya yang menyapu seluruh ruangan berusaha menutupi emosinya dengan seteguk jus dingin yang ia nikmati dalam keadaan hati yang mulai panas hingga ke ubun-ubun karena emosi.
"Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Lebih baik kita akhiri pembicaraan ini," lanjut si wanita seraya mengambil handphone nya yang tergelatak di meja dan menenteng tasnya segera keluar dari ruangan tersebut meninggalkan si pria.
__ADS_1
Ia membalik tubuhnya dengan tenang, menatap Alzam beberapa saat hingga akhirnya ia melepaskan paksa genggaman Alzam pada pergelangan tangannya. Dia sudah jengah dengan sikap Alzam yang tidak bisa tegas pada hubungan mereka.
"Belajar lah memutuskan sesuatu tanpa ibumu," hunus Vero mulai jengah dengan sikap Alzam yang selalu mengandalkan ibunya di setiap langkahnya.
Alzam hanya bisa terdiam dan perlahan menarik tangannya ke sisinya dengan hembusan nafas kasarnya. Menatap kepergian Vero yang kian menjauh.
Alzam berbeda jauh dari Al-Qian. Qian yang pemberontak dan Alzam yang patuh. Qian yang mengandalkan insting tanpa pikir panjang, Alzam yang selalu penuh pertimbangan.
__ADS_1
Ada sesuatu yang mengganjal selain perihal ibunya yang membuat Alzam sulit untuk memutuskan pernikahan. Dia sangat mencintai Veronica, bahkan hanya bersama Veronica lah dia bisa menjalani hubungan serius selama ini. Tapi ada satu hal yang membuat dia tidak berani memutuskan pernikahannya yang bahkan juga sudah di desak oleh ibunya untuk segera Alzam wujudkan di usianya yang sudah sangat matang.
"Seandainya aku bisa jujur," gumam Alzam sendirian seraya mendekap wajahnya.