Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Wanita gelas kosong


__ADS_3

"Nggak tau. Mereka semua kadang menyebalkan." Qian menatap dengan tatapan kosong yang seolah pikirannya sedang berkelana entah kemana.


"Mama sebenarnya juga tidak dalam hubungan yang baik sama papa Ferdi. Mama seperti menikah hanya sekedar menikah saja. Hanya untuk mengisi bagian yang kosong di hidup mama, tapi tidak ada jiwa Mama di sana," ungkap Mama Jill tiba-tiba. Qian menoleh mulai tertarik.


"Sudah berapa kali Mama Jill nikah?" tanya Qian penasaran. Di lihat dari gaya liarnya, Mam Jill tampaknya bukan tipe yang bisa bertahan dalam satu hubungan.


"Empat kali." Sontak membuat Qian menoleh kearahnya kaget.


"Pertama sama papa Vero, lalu sama papa Ferdi sampe dapat Alex, lalu cerai, Mama nikah sama brondong, tapi malah mama di porotin, Mama cerai lagi lalu rujuk sama papa Ferdi. Papa Ferdi banyak aturan dan Mama nggak pernah di kasih pegang uang. Semua aset atas nama Alex. Mama cuman sebagai istri aja, nggak dapat apa-apa, kecuali untuk Alex." Dia menarik nafas dalam seraya membuang puntung rokoknya yang telah habis.

__ADS_1


"Kok Mama jadinya capek ya, walau papa Ferdi nggak pernah selingkuh, atau main kasar, tapi Mama rasanya capek. Kayak ngisi gelas kosong yang berlubang, mau di isi berapa banyak pun tidak akan penuh. Mama tetap merasa kesepian dan butuh sesuatu yang bisa untuk mengisi ke kosongannya." Qian mencoba memahaminya dan berpikir dalam.


"Mama tidak bisa melupakan cinta pertama Mama, yaitu papa nya Vero. Mama selalu mencari sosok itu selama ini, karena itu Mama tidak puas." Tebak Qian.


Mama Jill tertegun, tatapannya kosong menerawang jauh ke masa lalu di saat ayah Vero masih hidup


"Kita tidak bisa menjalani hubungan karena balas budi. Apalagi cinta. Saat kita membalas pemberian dengan cinta, rasanya pasti hambar. Itu tidak sebanding."


"Hmmm ... Yaaahhh ... Sangat hambar. Semakin di paksakan malah semakin tersiksa rasanya. Tapi ... Apa aku bisa tanpa dia. Maksud Mama Alex. Bagaimana dia nanti."

__ADS_1


"Alex kan udah gede, Mah. Udah mulai kuliah, dia lebih banyak di tempat kuliahnya dari pada di rumah. Lagian menurutku, melihat orang tua ribut lebih menyakitkan daripada melihat mereka berpisah." Kenang Qian kepada masa lalunya. Lalu ia pun tersenyum miris, saat ingat bagaimana dulu ayah dan ibunya sering saling memaki di hadapannya. Membuat dia takut dan bingung di balik dinding mendengar cacian mereka terhadap satu sama lainnya.


"Hah, udah malam. Nanti kak Vero ngomel lagi," tutur Qian lagi seraya bangkit dari duduknya bersiap akan pergi.


"Kamu panggil istri kamu 'Kak' kadang kedengeran aneh buat Mama. Setua apapun istri kamu dari kamu, tetap kamu imamnya," sela Mama Jill.


"Udah kebiasaan," ucap Qian di sela tawanya. Lalu pergi meninggalkan Mama Jill sendiri di sana. Yang tidak lama juga ikut menyusul.


"Dia sangat sopan. Bahkan lebih penyayang dari Alzam. Kenapa ibunya menganggap dia kasar?" gumam Mama Jill sendirian. "Hhmmm...," kesah Mama Jill mengepulkan lagi asap rokoknya untuk terakhir kalinya sebelum ia membuangnya.

__ADS_1


__ADS_2