
Qian bersandar di sandaran bangkunya dengan sedikit menurunkan tubuhnya hingga kepalanya tersangga di sandaran bangku panjang tersebut.
"Capek! Besok mau kerja pakek apa? Taksi online lagi," keluh Qian. Alzam menatap Qian yang tengah menatap langit malam. Dia kelihatannya benar-benar lelah. Mulai timbul perasaan kasihannya pada pada adiknya ini.
"Mau pakek mobil Mas? Di rumah ada satu mobil yang nganggur. Kamu bisa pakek kalo mau," tawar Alzam.
Sesaat Qian merasa seperti menelan pil pahit.
"Semua yang aku lakukan kayak sia-sia terus akhir-akhir ini. Tabungan, motor, bahkan mahar yang aku kasih ke Vero pun habis. Ada saja musibah yang buat kita kehilangan semuanya. Kadang rasanya udah capek," lirih Qian hampa, lalu ia mendekap wajahnya seraya tertunduk.
Alzam termangu sesaat melihat reaksi adiknya. Dia tidak menyangka Qian bisa selemah ini akhirnya. Alzam memberanikan diri untuk menyentuh bahu Qian. Qian hanya diam.
"Kamu mau pegang restoran punya Mas? Daripada di pegang orang lain terus. Jadi mas bisa lebih fokus di rumah sakit," tawar Alzam.
Qian menatap kakaknya. Dia melihat tatapan hangat di mata Alzam saat ini.
"Nggak usah. Aku nggak paham, lagian aku masih kerepotan sama perusahaan aku sama Reo dan Bisma," jawab Qian.
"Kamu masih jauh lebih beruntung. Kamu punya perempuan yang selalu mendukung kamu. Dia nggak banyak ngeluh dan nuntut," ungkap Alzam yang membuat Qian kembali berfikir. Alzam benar, Vero selalu mendukungnya selama ini tanpa banyak tuntutan.
"Iya. Dia dan Rumi selalu jadi penyemangat buat hidup aku. Rasanya nggak terlalu terasa berat kalau ada mereka," ucap Qian dengan seulas senyuman.
"Sekali-kali pulanglah. Jenguk Mama. Dia kangen sama kamu. Dia merasa kamu ninggalin rumah dan nggak mau pulang," ucap Alzam yang kembali membuat Qian terdiam.
"Dia yang usir aku. Lempar semua barang-barang aku. Kenapa Mas masih tanya kenapa aku nggak pulang? Jelas nggak ada alasan aku buat pulang. Aku nggak pulang 4 taun aja nggak di tanyain. Apalagi ini yang baru 1 tahun lebih. Bahkan masih sering ketemu," ucap Qian tajam membuat Alzam mengernyitkan keningnya.
"Orang tua marah dan negur kita itu kan lumrah. Kamu harusnya jangan terlalu diambil hati," nasehat Alzam.
"Nggak tau lah. Aku pusing sekarang. Hidup aku lagi banyak masalah," tukas Qian bangkit dari posisinya.
__ADS_1
"Mau kemana kamu?" tanya Alzam.
"Mau cari makan. Laper," jawab Qian datar.
"Pakek apa? Emang kamu ada kendaraan?" tanya Alzam lagi, tapi Qian malah terus pergi tanpa peduli dengan pertanyaan Alzam. Tampaknya dia tidak begitu mendengar pertanyaan dari Alzam.
"Qian!" seru Alzam tapi tetap tak di gubris oleh Qian. Alzam mengeluarkan kunci mobilnya. Tapi kelihatannya Qian sudah cukup jauh dan pastinya dia sengaja karena ingin menghindari perdebatan mereka.
"Anak itu sangat liar sekali," gumam Alzam menarik nafasnya dalam dan melepaskannya dengan kasar.
***
Di sisi lain tampak Wike yang baru pulang entah dari mana wanita itu selarut ini. Dia menuju mobilnya dan akan membuka pintu mobilnya.
Baru saja dia memegang pintu mobil itu, tiba-tiba dia merasa ada seseorang yang menyentuh bahunya. Sontak membuat Wike terlonjak kaget.
"Kenapa kamu kesini? Kita udah nggak ada hubungan apapun lagi. Pulanglah ketempat istrimu dan jangan ganggu aku. Aku nggak mau berurusan dengan wanita gila itu lagi," seru Wike memberontak.
"Lepasin aku BANGSAT. Aku nggak mau sama kamu. Aku nggak sudi jadi simpanan kamu selamanya. Aku memang hamil tapi ini bukan anak kamu, ini anak laki-laki lain," ucap Wike sengit.
"Bohong! Jelas itu bayiku. Kamu jangan bohong, Wike!"
"Terserah. Aku ibunya, aku yang lebih tau ayah dari anakku," tukas Wike lagi seraya berusaha menyingkirkan Arnold untuk masuk mobilnya.
Tapi tanpa Wike duga, Arnold mendorongnya dengan keras hingga membuat dia terjatuh.
"Aaa... Apa yang kau lakukan, ARNOLD!" seru Wike kesakitan karena terjatuh.
"Kalau itu bukan anakku, maka kamu harus menggugurkannya. Kamu milikku, selamanya akan menjadi milikku. PAHAM!"
__ADS_1
"Kau gila! Aku bukan milik siapapun! Aku milik diriku sendiri!" teriak Wike lantang masih belum bangkit dari posisinya.
Marah melihat reaksi Wike Arnold pun mencengkram wajah Wike kuat hingga membuat Wike yang sudah menangis menjadi semakin ketakutan dan mulai pasrah dengan keadaannya.
"Heh dengar, kau perempuan jahanam. Kau sudah menghabiskan banyak uangku, jadi kau adalah wanitaku. Berani-beraninya kau hamil anak laki-laki la ...," ucapan Arnold terpotong saat sebuah tendangan membuat dia terpelanting beberapa meter dari posisinya.
"Beraninya sama cewek. Dasar pengecut," ucap seseorang santai.
Wike yang melihat siapa yang datang langsung menyambutnya dengan bahagia. Dia berlari ke pelukan lelaki itu. Lelaki itu kaget melihat reaksi Wike yang langsung berlari ke pelukannya. Membuat dia risih tapi apa boleh buat.
Dialah Qian. Qian tadinya mau ke minimarket untuk membeli rokoknya kembali, karena rokoknya sudah di rampas kakaknya saat di rumah sakit.
"Qian!" ucap Wike yang langsung memeluknya. Qian tidak begitu peduli dengan tindakan Wike. Dia masih sangat marah melihat perbuatan Arnold kepada Wike.
"Kau yang bajingan. Berani-beraninya kau menyentuh kekasihku. Bukannya kau sudah beristri," ucap Arnold meluahkan kemarahannya.
"Apa bedanya denganmu," tukas Wike yang saat ini sudah melepaskan pelukannya pada Qian dan berdiri di samping Qian.
Qian berjalan mendekati Arnold dan mencengkram wajah Arnold seperti Arnold lakukan kepada Wike tadi.
"Dengar. Sekali lagi gue lihat lo kasar sama cewek ... Gue hajar lo sampe mati, banci!" ucap Qian tajam. Arnold segera menepis tangan Qian dari wajahnya dan berusaha melayangkan satu pukulannya menggunakan sebuah batu kepada Qian yang untungnya dengan cepat Qian berhasil menghindar.
"Saya tidak akan berhenti. Kalian berdua tidak akan bisa hidup tenang selama saya masih hidup. Lihat saja nanti, kalian akan tau akibatnya karena sudah berani mempermainkan aku. Terutama kamu Wike!" ancam Arnold lantang.
Diam-diam Arnold kembali berusaha menyerang Qian dengan pisau yang ada di sakunya. Kali ini Qian kembali bisa menangkisnya saat sebuah pisau lipat hampir melukai wajahnya. Qian dengan cepat menangkap tangan Arnold dan memelintirkan tangan Arnold kebelakang hingga membuat Arnold kesakitan dan pisau di tangan Arnold pun terlepas.
"Jangan ancam gue. Yang ada lo yang gue matiin. Paham!" hardik Qian yang semakin menekan tangan Arnold ke punggungnya belakang hingga membuat Arnold meringis kesakitan.
Melihat Arnold yang sangat kesakitan. Wike pun mulai tidak tega.
__ADS_1
"Qian! Sudah cukup. Lepasin dia," cegah Wike tidak tega. Qian melihat Wike yang memelas kepadanya pun hanya bisa menurut. Dia melepas tangan Arnold dari cengkeraman nya. Dia juga tidak berniat menyakiti Arnold. Dia hanya berniat memberi peringatan kepada Arnold.