
Pagi-pagi Alzam kembali mencoba menghubungi adiknya lagi, dan masih belum bisa tersambung. Alzam pun terpaksa izin tidak bekerja untuk mencari adiknya kembali.
"Qian, ngerepotin banget sih nih anak," rutuk Alzam sendirian seraya melempar handphone nya ke ranjang dan bangkit dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.
***
Di sisi lain, tepat pukul 09:10 wib , Qian baru saja bangun. Dia menghidupkan kembali handphone nya lalu membiarkan handphone tersebut loading sebelum benar-benar aktif.
Dia bangkit dari tempat tidurnya menuju balkon kamar.
"Biasanya si berisik Una selalu bangunin," gumam Qian pada dirinya sendiri seraya berdiri memegang besi pembatas balkon kamarnya.
Ia membuang pandangannya jauh ke pemandangan kota. Dia berdiri tepat di lantai 10 hotel. Tak terdengar apapun dari atas sana, tapi masih dapat ia lihat bagaimana kesibukan orang-orang di bawah sana.
__ADS_1
Qian ingat sesuatu, dan ia pun masuk kamarnya dan kembali dengan sebuah buku gambar sketsa miliknya yang biasa ia bawa untuk menggambar apapun yang ia lihat saat di jalan.
Qian memang suka mengumpulkan lukisan-lukisan yang ia buat saat di jalanan, kadang ia gunakan sebagai bagian dari desainnya kadang hanya sebagai hiburannya semata. Kadang juga dia desain menjadi seperti anime singkat yang sering ia bagikan di Instagram miliknya.
Walau ia hanya memiliki alat seadanya, tapi hasil desainnya cukup sering di puji dan di sukai banyak orang. Ia juga sering mendapatkan tawaran freelance untuk desain, baik iklan mau pun edit video. Itu menjadi salah satu alasan kenapa dia masih bisa punya uang untuk menginap di hotel saat ini.
Saat sedang asyik menikmati paginya di balkon. Tiba-tiba Qian dikagetkan dengan suara handphone nya.
Qian segera masuk dan mengangkat telpon nya.
"Mama bilang dia mau beliin kamu moge baru. Semalam Papa transfer uangnya buat kamu. Jadi pasti di beliin. Ayok cepetan pulang. Ini mas juga sore nanti mau pergi tugas, masa mas tinggalin mama sendirian di rumah. Bibik kan nggak nginep, sore dia pulang (bibik adalah ART yang bekerja di kediaman Maya). Pulang Qian, mas janji siang ini kita langsung liat mogenya di showroom," bujuk Alzam lagi.
Sebenarnya Qian pergi bukan hanya karena soal itu saja, tapi juga karena dia tidak tahan rindu dengan kehadiran Una yang tiba-tiba tidak ada lagi di sampingnya saat ini. Hanya saja dia terlalu gengsi untuk mengakui itu semua.
__ADS_1
"Iya, nanti aku pulang. Aku mau mandi dulu," jawab Qian santai lalu mematikan sambungan telfonnya.
***
Qian yang tiba-tiba memutuskan sambungan telfonnya membuat Alzam kaget. Sedangkan Maya yang di samping tampak sudah tidak sabar menunggu kabar dari Alzam tentang Qian
"Gimana?" tanya Maya tampak tak sabar.
"Tunggu aja, Mah. Katanya dia lagi mau mandi," jawab Alzam.
"Dia di mana sekarang?" tanya Maya lagi.
Alzam bingung garuk-garuk kepala, dia lupa menanyakan hal itu kepada Qian tadi. Hingga dia hanya bisa menyedikkan bahunya bingung. Maya langsung menampilkan wajah merengut melihat Alzam yang tidak tuntas menanyakan kabar adiknya.
__ADS_1
"Udah lah, Mah. Yang penting dia baik-baik saja sekarang," hibur Alzam lagi seraya merangkul pundak sang ibu. Maya mengangguk dengan seulas senyuman hangat.