
Siang itu bunda Retno datang ke kediamannya Maya. Dia memang sering datang ke sana untuk berkunjung. Walau sudah tidak tinggal serumah lagi, tapi jarak mereka tidaklah jauh lagi seperti dulu. Hanya butuh waktu 1 jam berkendara untuk sampai ke kediaman keluarga Maya. Karena sekarang dia tinggal di panti asuhan tempat Maya kecil dulu. Di bekerja membantu di sana untuk mengisi kesendiriannya.
Ia menghampiri Alzam yang tengah duduk santai di gazebo taman belakang. Alzam yang masih asyik membaca tidak begitu peduli dengan kedatangan bunda Retno.
"Bagus bukunya, Zam?" sapa bunda Retno dengan seulas senyuman ramahnya yang menunjukkan sisi keibuannya.
"Eh, Bunda! Kapan datang?" seru Alzam antusias dan mulai menyambut senang kedatangan Bunda Retno. Dia menutup bukunya dan meletakkannya di sampingnya.
"Barusan. Tapi, Mama kamu lagi pergi sebentar katanya. Makanya Bunda cari kamu kesini. Ternyata kamu lagi baca buku." Alzam hanya tersenyum mendengarnya.
"Nggak, Bund. Nggak ada kerjaan di rumah seharian. Makanya aku iseng baca-baca buku. Ke restoran juga udah kemarin," terang Alzam. Alzam memang memiliki bisnis restoran yang tidak ia kelola sendiri. Melainkan ia serahkan kepada orang lain.
__ADS_1
"Bagaimana hubungan kamu sama Mama, sama Qian? Apa sudah baikan kalian?" tanya bunda Retno yang mulai membuat raut wajah Alzam berubah, tapi dengan cepat ia menutupnya dengan senyuman lagi.
"Nggak ada masalah kok, Bund. Bunda kayak nggak tau Qian aja. Dia memang suka buat keributan. Nanti kalo dia capek juga dia bakalan pulang sendiri," ucap Alzam menyangkal.
Alzam sungguh merasa tak nyaman jika harus menceritakan keadaan yang rumit tengah mereka jalani saat ini. Lebih baik dia menutupinya saja agar bunda Retno tak banyak tanya dan berhenti membahasnya.
"Dulu waktu masih kecil kamu sayang sekali sama Qian. Tiap kali Qian rusakin barang, kamu selalu bilang itu kamu yang lakukan. Akhirnya kamu yang di marahin sama mama. Tiap kali Qian pulang terlambat, kamu selalu sembunyiin guling di balik selimut Qian supaya kelihatan kayak Qian yang lagi tidur, jadi Mama kamu nggak tau kalau Qian telat pulang. Atau kalau Qian lagi Mama hukum nggak di kasih jajan, kamu malah kasih sebagian jajan kamu buat dia," kenang Bunda Retno tentang bagaimana Alzam sangat menyayangi adiknya dulu.
"Sedari kecil Qian sudah biasa hidup dalam perlindungan kamu. Bahkan kamu jauh lebih paham Qian di banding Mama kamu sendiri. Tapi sekarang kenapa? Kenapa, Zam?" Alzam diam sesaat dan menatap bunda Retno dalam.
"Kenapa sekarang dia jadi asing buat kamu? Mama kalian memang sering marahin dia habis-habisan. Kamu tau kenapa Mama bisa lakukan itu? Itu karna Mama tau, dia punya kamu untuk melindunginya nantinya. Sekarang saat kamu juga musuhin Qian kayak gini maka Qian pun jadinya tidak punya siapa-siapa lagi. Bunda dengar kalau Qian sempat jadi pelayan dan terpaksa bawak istrinya lahiran ke klinik gara-gara nggak punya uang, dan jual motornya gara-gara biaya rumah sakitnya Mama kamu naikin. Apa kamu nggak kasihan sama dia, Zam?"
__ADS_1
"Bunda. Dia sendiri yang keras kepala. Kenapa sekarang aku yang di salahin. Dia pilih klinik karena ikutin egonya buat nantang mama padahal sudah mama ingatkan buat bawak ke Alatas. Terus aku minta dia buat nggak usah bayar hutangnya, dia malah dengan sombongnya bilang dia nggak butuh dikasihani dan nggak mau bantuan dari aku. Dan perampokan itu juga aku nggak niat jahat sebenarnya, aku cuman mau buat bikin bungkam sikap menyebalkannya," ungkap Alzam.
Bunda Retno menatap Alzam dalam. Ada kesumat di mata itu saat ini. Seperti sebuah luka yang sangat sakit dan butuh tempat untuk ia luahkan rasa sakitnya agar bisa merasakan lega.
Tidak lama terdengar seruan Merly yang antusias saat melihat kedatangan bunda Retno.
"Retno kapan datang?" seru Merly heboh dan langsung di sambut Bunda Retno ramah dengan cipika-cipiki.
"Barusan tadi. Kamu apa kabar? Sehat?" tanya Bunda Retno balik. Alzam yang tadi ada di sana diam-diam pergi meninggalkan kedua tantenya itu.
Jadilah sekarang pembicaraan mereka teralihkan dengan hal lain. Merly memang sering datang berkunjung kekediaman Maya. Alzam bisa selamat dari introgasi Bunda Retno.
__ADS_1