
Qian dan Reo tampak asyik mengobrol berdua sambil menikmati waktu mereka jalan-jalan di kota tersebut.
Hilir mudik para pengunjung tampak lebih ramai dari pada tempat lainnya, karena ini memang tempat wisata yang cukup terkenal dan selalu menjadi incaran para traveler untuk berkunjung. Jadi jika mereka ingin ber-swafoto mereka harus rela antri untuk foto di spot tertentu di tempat ini.
Tapi tampaknya Reo dan Qian tak begitu peduli dengan keramaian yang ada. Mereka datang ketempat itu hanya untuk menghibur diri saja, karena memang kebetulan lokasinya lumayan dekat dari kampus mereka.
Reo sengaja mengajak Qian kesana untuk mengobrol santai. Kapan lagi dia bisa bersama sahabatnya ini. Selesai urusannya Qian pasti akan pulang. Jadi, dia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan bersama Qian saat ini.
"Lo sekali serius pacaran masak sama cewek yang udah tua sih, Qian? 7 tahunan lagi. Dia pasti udah siap nikah, emang lo mau nikah muda sama dia? Ingat. Lo itu 21 tahun, mau lo kasih makan apa anak orang? Nggak bisa lo kasih makan 'i love you' tiap hari," ungkap Reo. Qian tertawa mendengar pernyataan Reo yang terdengar lucu baginya.
"Ya nggak lah, anjing. Gue juga kerja, uang bayaran kerja gue udah gue serahin ke dia. Nanti selanjutnya biar dia yang pegang terus. Gue bakalan mulai nabung buat modal kita nikah. Itu emang rencana gue. Biar gue bisa segera pergi dari rumah terkutuk itu. Capek gue ngadepin nenek sihir itu tiap hari. Lama-lama jadi malin kundang gue di sana," ungkap Qian seraya menegak minuman sodanya. Reo mulai menatap penuh curiga kearah Qian. Dia mulai menangkap sinyal-sinyal aneh dari sahabatnya ini.
__ADS_1
"Hmmm... Gue mencium aroma keperjakaan yang telah tergadaikan, nih," selidik Reo dengan tatapan aneh seraya angguk-angguk kepala paham kenapa dia selama ini merasa ada keanehan terhadap sahabatnya ini, yang di balas dengan tatapan sinis tajam oleh Qian seraya mengernyitkan keningnya.
Reo heran, kenapa pertikaian sahabatnya dan ibunya itu masih tidak bisa berakhir. Selalu saja ada alasan yang buat Qian dan ibunya bertikai kembali. Reo memang sudah sering mendengar cerita tersebut. Tapi dia tidak menyangka jika Qian benar-benar berencana buat pergi dari rumahnya karena hal itu.
"Siap-siap aja lo ngegembel kalo keluar dari rumah," celetuk Reo menakuti Qian.
"Bodo!" tukas Qian cuek.
***
Belum selesai Qian mengikat tali sepatunya, tiba-tiba seseorang menyambar handphone Qian. Qian yang tidak siap blank sesaat dan di detik selanjutnya dia baru sadar.
__ADS_1
"Handphone gue!" seru Qian panik dan spontan mengejarnya penjambret tersebut. Reo yang tidak tau apa-apa dan dalam keadaan masih bingung ikut mengejar Qian yang tiba-tiba berlari mengejar seseorang.
Tapi, sekeras apapun Qian mencoba mengejar, tetap tidak berhasil. Reo yang tidak tau apa-apa pun ikut berlari mengejar Qian yang sudah terengah-engah dan berhenti karena kehabisan nafas. Dia menoleh ke belakang, Reo berlari santai menuju kearahnya.
"Kenapa sih lo lari-larian?" tanya Reo dengan polosnya.
"Anjing! Handphone gue di jambret, BANGSAT!" rutuk Qian kesal. Seolah meluahkan kemarahannya kepada Reo, Reo hanya bisa mengecut ngeri melihat kemarahan Qian kepadanya. Sesaat Reo baru sadar dengan keadaan dan mulai tampak panik.
"Iya kah?" tanyanya polos.
Qian tak menjawab, ia menatap malas kearah teman telminya itu, masih dalam keadaan nafasnya tersengal-sengal. Jika bukan karena mereka sudah bersahabat dari kecil mungkin sudah sedari tadi dia enyah kan makhluk satu ini di sungai seberang sana.
__ADS_1
"Dah lah, capek gua," lirih Qian terduduk selonjoran di jalanan. Sekarang yang ia pikirkan, bagaimana caranya dia bisa menghubungi Vero. Dia tidak menyimpan nomor kontak Vero lagi. Pasti gadis itu akan kesulitan menghubunginya. Qian menyibakkan rambutnya dengan kasar kebelakang.
Reo menepuk-nepuk pundak Qian pelan. Karena memang tidak ada yang bisa ia lakukan lagi saat ini. Pencuri itu pasti sudah sangat terlatih dan pasti sulit untuk menangkapnya. Melaporkan ke pihak berwajib juga percuma, pasti prosesnya lama dan riweh.