
Di sisi lain Vero kedatangan tamu spesial. Seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat elegan dan cantik di usianya yang tidak muda lagi. Dengan kacamata hitam barang branded dan make up mencolok dapat di pastikan dia wanita sosialita yang sangat mementingkan penampilan dan dirinya .
"Bagaimana hubungan kamu sama dokter itu? Apa dia sudah setuju buat nikahin kamu?" tanya si wanita paruh baya tersebut seraya menyuapkan sepotong steak daging ke mulutnya dengan manner yang sangat tertata.
Vero menggeleng pelan. Sontak itu membuat raut wajah si wanita tersebut berubah tegang, ia melepaskan pisau dan garpunya dan berganti posisi dengan kedua tangannya menyangga dagunya dan tatapan tajam bak elang akan menerkam ke arah Vero.
Vero yang mulai jengah dengan sikap itu pun balik menatapnya menantang. Dia memajukan wajahnya lebih dekat kearah si wanita, menatap tak kalah tajam dari wanita di hadapannya.
"Kalau Mama mau, silahkan minta Alex yang rayu dia dan ajak nikah sekalian. Jangan peralat hidup aku buat kepentingan kalian lagi," tukas Vero. Lalu meraih tasnya bersiap akan melangkah pergi. Baru beberapa langkah dia sudah di hentikan dengan sebuah seruan.
"Kamu tidak boleh putus darinya. Kamu harus menikah dengannya. Pikirkan masa depan Alex juga. Laki-laki itu tidak bisa diandalkan. Kalau bukan karena Alex sudah lama Mama buang dia kelaut. Kamu juga, ini semua karena kalian berdua yang terus paksa Mama bertahan sama pernikahan menyebalkan ini," serunya yang membuat Vero menarik nafas panjang untuk melegakan sesak di hatinya.
'Selalu begitu. Egois,' batin vero seraya berlalu dari sana.
Alex adalah adik yang satu ibu lain ayah dengan Vero. Ibunya sempat menikah lagi saat bercerai dari ayah Vero. Hingga akhirnya Vero besar bersama dengan neneknya yang kini tinggal bersamanya. Hanya kepada nenek seoranglah Vero bisa mengadu.
Dan Jill ibu Vero untuk menutupi kebutuhannya dan anak bungsunya dia seringkali memanfaatkan Vero dan ayah kandung Alex. Dia suka sekali berfoya-foya tapi dia tidak memiliki penghasilan tetap, karena itu untuk menutupi kekurangan hidupnya dia memanfaatkan semua orang. Dari Vero, ayah kandung Alex dan Alex sendiri juga di manfaatkan nya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang mewah.
***
Di rumah Qian tengah menjadi pelampiasan kekesalan ibunya karena tengah merindukan Alzam.
"Kamu itu kerjanya apa sih? Keluyuran terus tiap hari nggak jelas. Coba kerjain sesuatu yang bermanfaat dikit, kamu nggak kayak Alzam. Kalo nggak perlu amat dia nggak akan keluyuran," omel Maya yang tengah bosan kepada Qian yang sedang santai di ruang tamu dengan handphone nya.
"Udah deh, Mah. Kalo lagi suntuk mending Mama cari kesibukan lain saja. Jangan di lampiasin ke aku." Qian mulai jengah dengan tingkah ibunya sedari pagi terus-terusan mengomel.
Qian pun bangkit dari posisinya dan masuk kamar untuk mengambil kunci moge barunya.
"Mau kemana kamu?" seru Maya kepada Qian yang pergi begitu saja tanpa pamit.
__ADS_1
"Ada kerjaan," jawab Qian singkat seraya melangkah cepat. Maya hanya bisa merutuk kesal tanpa bisa menghentikan Qian lagi.
***
Qian menuju sebuah studio foto yang kelihatannya cukup berkelas dan elite. Dia mendatangi sang pemilik.
"Editannya bagus. Nanti sisa bayarannya saya transfer, ya," terangnya. Qian mengangguk setuju lalu pergi.
Qian memang tanpa sepengetahuan ibunya sering mengambil pekerjaan edit vidio pernikahan dan acara-acara yang di selenggarakan. Perlahan, dia mulai di kenal di dunia desain grafis. Dia mengambil beberapa pekerjaan secara freelance sehingga tidak terpantau oleh ibunya yang jarang di rumah.
Bayaran yang lumayan besar membuat Qian tidak perlu meminta uang saku lagi dari Alzam dan ibunya. Walau dia selalu dianggap pengangguran karena tidak bekerja di sebuah perusahaan atau apapun itu yang memiliki kantor. Qian memilih untuk bungkam, dia tidak berminat untuk menceritakan tentang pekerjaan nya ini.
***
Tidak terasa hari semakin malam, Qian malah tidak berminat untuk pulang malam ini. Dia merasa tidak betah di rumah bersama seorang ibu yang uring-uringan di tinggal anak kesayangannya. Membuat Qian semakin merasa tidak dianggap keberadaanya di rumah. Sebagai si bungsu seolah kehadirannya hilang di hadapan ibunya.
Tiba-tiba seseorang datang, Qian yang tengah bersandar di sandaran bangku menoleh kesamping tanpa merubah posisinya.
Dia adalah Vero, Vero datang dengan wajah yang tampak sedih. Qian menatapnya intens tanpa sepatah katapun. Tiba-tiba Vero menyeka air matanya. Qian yang semula acuh pun jadi mulai penasaran dengan apa yang terjadi.
"Kakak kenapa?" Qian kini tengah duduk tegap menatap Vero penasaran.
"Baru tadi siang aku bertemu dengan ibu sialan itu, lalu tadi perempuan brengsek itu mengirim foto nya tengah bersama dengan pria yang tengah menjalin hubungan denganku. Kenapa semua orang sangat menginginkan aku menangis dan terluka," isaknya.
Qian yang tidak tega tapi juga sungkan hanya bisa diam menatap tanpa berani berucap sepatah katapun.
Vero balik menatap Qian. Qian bingung karena di tatap dengan tatapan aneh oleh Vero sedangkan air matanya masih membasahi wajahnya.
"Ayo kita jadi orang yang buruk malam ini. Aku lelah selalu memuaskan semua orang," ucap Vero membuat Qian bingung.
__ADS_1
"Ayo kita ke bar, aku sangat lelah," lanjut Vero lagi.
"Ka-kakak, nggak papa, kan?" tanya Qian merasa aneh dengan tingkah Vero malam ini.
Dia tidak menggubris perkataan Qian. Dia segera menyeret Qian menuju ke suatu tempat. Qian membonceng Vero di motor barunya.
"Ini moge baru kamu?" tanya Vero saat mereka sudah dalam perjalanan.
"Hem...," gumam Qian.
"Keren!" puji Vero terdengar mulai normal. Qian hanya tersenyum tipis mendengar pujian Vero pada motor barunya. "Ayo kita pergi," ucapnya saat sudah naik dan menepuk pelan pundak Qian. Qian yang bingung tetap mengikuti permintaan Vero. Dia mulai menstarter motornya dan membawa Vero kesatu tempat.
***
Mereka sampai di suatu tempat seperti sebuah bukit kecil dengan padang rumput dan sebuah bangku di puncak tertingginya. Qian mengikuti langkah Vero dari belakang dengan tatapan yang tak pernah lepas dari Vero dan ikut duduk di bangku yang sama dengan Vero.
"Ini bukan bar yang bisa buat mabuk-mabukan," lirih Vero cemberut. Qian tertawa kecil.
"Mau ngapain mabuk-mabukan? Mabuk cuman bikin kita lupa sebentar lalu waktu sudah sadar kita kembali di hadapkan ke permasalahan yang sama lagi," tukas Qian menoleh kepada Vero dengan senyuman hangat.
"Tenang kan diri kakak disini saja. Kakak bisa teriak keras dan nggak akan ada yang peduli. Kakak bisa nangis sekencang-kencangnya juga nggak akan ada yang liat. Di sini sepi kalo malam," terang Qian lagi.
Entah kenapa saat bersama Vero, Qian seolah bisa menjadi lebih lembut.
"Ibuku selalu memanfaatkan pacarku untuk mendapatkan uang. Adikku, masih sekolah dan menjadi tanggungjawab ku. Sekarang kekasihku. Eh, mantan mungkin. Dia sepertinya sangat menikmati hari-harinya bersama dengan wanita lain," terang Vero atas permasalahan hidupnya. Qian hanya mendengarkan tanpa berniat untuk menyela.
Tapi, diamnya Qian malah membuat Vero penasaran.
"Bagaimana denganmu?" tanya Vero. Qian hanya tersenyum tanpa sebuah jawaban.
__ADS_1