Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Peringatan


__ADS_3

Siang itu Qian memang agak telat keluar makan siangnya. Dia berjalan terburu-buru menyusuri lobby gedung tersebut.


Tiba-tiba langkah Qian di hentikan oleh seseorang.


"QIAN!" seru seseorang.


Qian menoleh dan benar saja. Seorang wanita cantik datang menghampirinya. Dengan pakaian minim dan heelsnya yang super tinggi membuat tubuh jenjangnya semakin terlihat tinggi.


"Aku udah nungguin kamu dari tadi. Aku mau nelpon tapi nggak punya nomer kamu. Jadi aku tunggu kamu di lobby sampe kamu turun," terangnya.


"Oh... Ada apa, wi!" tanya Qian perihal kedatangan Wike kali ini. Dia tengah membawa sebuah paper bag di tangannya.


"Aku mau balikin ini sama kamu. Makasih ya kami udah nyelamatin aku kemarin," ucapnya seraya menyerahkan paper bag tersebut. Qian mengambilnya dengan seulas senyum basa-basi.


"Iya sama-sama. Oh, ya. Aku harus pergi sekarang. Mau makan siang dulu," ucap Qian tampak tidak ingin memperpanjang urusannya.


"Oh, ya? Kebetulan. Aku juga belum makan siang. Boleh aku ikut?" pintanya manja dengan wajah antusias seraya menyentuh lengan Qian. Qian perlahan menepisnya. Dia tidak ingin ada orang yang salah paham dengan ini.


"Kenapa? Aku nggak boleh pegang kamu? Padahal dulu kita dekat banget, kan. Udah biasakan aku pegang lengan kamu gini."


"Aku nggak mau orang-orang salah paham nanti," ucap Qian.


"Kamu udah punya pacar?" tanya Wike dan berharap Qian menjawabnya 'belum'.


"Nggak!" ucap Qian santai membuat senyumnya kembali terukir di wajah cantiknya.

__ADS_1


"Tapi aku udah nikah," ucap Qian yang seketika membuat Wike mengernyitkan keningnya tidak percaya. "Bahkan udah punya anak," sambung Qian yang membuat Wike semakin yakin jika Qian bercanda.


"Ah, udah ah bercandanya. Katanya mau makan. Yuk buruan, aku juga udah laper banget," ujar Wike seraya menarik tangan Qian menuju restoran terdekat.


"Aku nggak bercanda, itu beneran."


"Ok. Aku percaya. Tapi kita makan dulu," ucap Wike terus menarik Qian. Qian menyunggingkan senyumnya. Yang jelas dia sudah mengatakan yang sebenarnya.


Di sana sudah menunggu Reo, Bisma dan yang lain. Qian segera berjalan cepat menuju mereka semua. Sedangkan Wike tampak kurang suka karena yang dia inginkan adalah makan berdua bersama Qian, tanpa ada yang lain.


Tiba-tiba handphone Wike berdering. Ia mengangkatnya dengan cepat.


Setelah bicara sebentar dia pun segera mengejar langkah Qian.


"Qian!" serunya.


Saat sampai Qian di sambut yang lain.


"Tuh udah gue pesenin. Makan aja," ujar Reo yang di tatap Qian tajam.


"Ini bebek? gue nggak suka," tolak Qian seraya mendorong piring yang berisi bebek panggang itu.


"Bukan. Itu ayam. Ayam kampung bakar. Udah di pesanin bukan makasih malah banyak tingkah," rutuk Bisma kesal.


Qian tidak ambil pusing dengan celotehan Bisma. Sudah biasa mereka seperti itu.

__ADS_1


"Eh, Qian. Tadi itu kayak Wike, ya? Emang lo masih berhubungan sama Wike? Belum kapok lo dulu di damprat om-om pacarnya waktu SMA?" kenang Reo pada masa lalu Qian.


Qian memang sempat menjalin hubungan bersama Wike. Tapi naas saat itu Qian hampir di hajar karena pacar Wike yang bapak-bapak cemburu. Sialnya lagi bahkan dia sempat bersaing mendapatkan Wike bersama Marvel.


Untung hal itu cepat Qian ketahui. Walau sebenarnya saat itu Qian mengencani Wike hanya untuk menghindari perempuan lain yang juga gencar mendekatinya.


Qian yang tidak enakkan menolak terang-terangan akhirnya memutuskan untuk menerima Wike yang dianggapnya paling normal diantara yang lain yang pernah mendekatinya.


Karena yang lain sangat agresif membuat Qian takut. Tapi ternyata Wike lebih agresif dari yang lain. Bahkan dia selalu bertindak berani terhadap Qian walau selalu Qian tolak dengan lembut. Sampai akhirnya dia punya alasan yang tepat untuk memutuskan hubungan mereka.


Tapi sepertinya sekarang masih ada yang Wike anggap belum selesai diantara mereka. Sebab mereka berpisah karena keadaan, bukan karena keinginan mereka sendiri.


***


Selesai makan siang mereka kembali bekerja. Kali ini Qian benar-benar mengawasi Reo dan Bisma dengan baik. Dia tidak ingin dua sahabatnya yang tidak bertanggungjawab ini mangkir lagi dari tugasnya.


"Yo!" seru Qian saat mereka di lift. Reo menoleh.


"Sekali lagi lo tinggalin kerjaan lo sama Rendi. Gue bakalan pindahin Rendi jadi atasannya dan lo bawahannya. Ingat. Kalian, gue lebih berhak soal atur posisi kalian. Jadi gue bisa lakukan apapun itu buat kebaikan perusahaan kita. Termasuk jadiin lo babu nya Rendi," ingat Qian keras membuat Reo diam tak berkutik dan tidak berani melawan.


"Dan buat lo!" ucap Qian lagi seraya mencengkeram bahu Bisma kuat hingga ia meringis kesakitan.


"Auu... Sakit Qian," ringis Bisma dan tak di perdulikan oleh Qian.


"Sekali lagi lo kelantai 22 di jam kerja. Gue bakalan buat lo yang isi posisi OB kita yang masih kosong itu. Kalian berdua yang bikin ulah, dan kalo waktu revisi di kejar deadline gue lagi yang harus turun tangan selesein," ucap Qian geram dengan tingkah laku sahabatnya ini. "Kapan gue punya waktu buat keluarga gue sendiri, kalo hari libur pun gue pakek buat kerja gara-gara kelalaian bangsat model kalian berdua gini," rutuk Qian.

__ADS_1


Reo dan Bisma hanya diam tertunduk mendengar omelan Qian. Jika mereka melawan, maka itu artinya sama saja dengan mereka cari mati. Oleh karena itu mereka lebih memilih untuk tidak menyahut sepatah katapun.


"Dah lah. Paling besok kalian ulangin lagi. Capek gue," ucap Qian pergi meninggalkan sahabatnya itu seraya memijit tengkuknya yang penggal karena terlalu lama duduk bekerja di depan layar komputer.


__ADS_2