
Qian menemui ayahnya di sebuah restoran. Karena sudah bertepatan dengan jam makan siang juga saat ini. Dia sengaja memesan makanan kesukaan sang putra.
Saat dia melihat kedatangan sang putra ia pun melambaikan tangannya untuk memberitahukan keberadaannya. Qian tersenyum dan menghampiri sang ayah.
Saat sampai dia melihat semua pesanan sudah datang. Qian duduk dan menatap ayahnya yang menikmati steak wagyu nya dengan garpu dan pisau di tangannya.
"Papa sudah pesan makanan kesukaan kamu. Kita makan bareng, papa sudah sangat lapar makanya pesan duluan," terang Arial. Qian hanya tersenyum seraya meletakkan tasnya di bangku kosong di sampingnya. Dia masih menatap sang ayah yang tengah menikmati makanannya. Sudah lama mereka tidak bertemu, ayahnya masih tampak berkharisma seperti dulu.
"Kenapa Papa kesini?" tanya Qian penasaran dan masih tak menyentuh hidangan di hadapannya.
"Nanti saja kita bahasnya. Kita makan dulu," jawab Arial tidak ingin merusak selera makannya jika membahas itu sekarang.
"Aku sudah makan," jawab Qian datar.
Arial menatap putranya itu menghentikan kegiatan makannya. Kelihatannya Qian tengah membangun tembok diantara mereka. Arial dapat rasakan aura kemarahan dan rasa kecewa di dalam diri Qian saat ini.
"Beneran. Aku sudah makan tadi sebelum kesini. Istriku sudah menyiapkan bekal sebelum aku berangkat kerja. Jadi aku makan di tempat kerja tadi sebelum kesini. Aku sudah kenyang," ungkap Qian meyakinkan.
Arial berfikir sejenak sebelum melanjutkan makannya dan tidak memaksa Qian lagi. Dia tidak ingin merusak suasana yang tampaknya sangat sensitif saat ini. Salah sedikit Qian bisa kabur dan semua rencananya bisa berantakan.
"Kalau begitu pesan minuman saja. Dan makanan yang sudah terlanjur Papa pesan di bungkus bawa pulang saja, ya. Kamu temani Papa makan," ucap Arial menawarkan. Qian setuju dan ia pun memesan minuman dingin disela waktunya menunggu sang ayah selesai makan.
Mereka mengobrol obrolan ringan di sela acara makan siangnya Arial.
"Apa kabar Zee, Pah?" tanya Qian tentang adiknya itu. Adik yang satu ayah tapi lain ibunya itu, karna Zee merupakan anak Arial bersama Lisa.
"Dia baik. Dia sudah mulai sekolah sekarang. Dia sering nanyain kenapa kamu nggak pernah datang nemuin dia lagi. Bahkan waktu kita lewat depan kos lama kamu dulu dia minta buat mampir sampai nangis-nangis. Kita sampai harus turun buat buktikan sama dia kalau kamu sudah tidak tinggal di sana lagi," ungkap Arial. Qian hanya tertawa kecil mendengar pernyataan Arial barusan. Tawa Qian seolah memberi angin segar untuk Arial. Dia setidaknya punya kesempatan untuk membicarakan tujuannya kepada Qian nanti.
__ADS_1
Selesai makan siang, Arial meminta untuk mengunjungi anak dan istri Qian.
"Kita ke rumah kamu, ya. Papa punya kado buat dia. Sekalian Papa mau kenalan sama istri kamu," ungkap Arial bersemangat dan tak menunjukkan sikap menentangnya seperti Maya.
Qian awalnya terdiam sesaat sebelum akhirnya dia mengikuti keinginan sang ayah. Dengan langkah berat dia membawa ayahnya menggunakan mobil yang ia bawa, yaitu mobil Vero.
Ada rasa takut di hatinya jika ayahnya tau wanita yang ia nikahi adalah wanita sederhana.
Saat sampai di depan mobil jazz merah milik Qian, Arial mengernyitkan keningnya heran. Mobil ini bukan gaya Qian dan seingatnya dia pernah membelikan putranya ini kendaraan impiannya saat dia di beritahukan tentang Qian yang kabur karena marah saat tahu Alzam di belikan kendaraan dan dia tidak.
"Bukannya kamu punya motor, ya? Apa motor yang Papa belikan itu juga di ambil sama Mama kamu?" tanya Arial curiga.
Karena rasanya tidak mungkin Qian mau mengendarai mobil merah yang penuh aksen interior pink seperti ini. Ini pasti bukan milik Qian, begitu batin Arial.
"Motor udah aku jual buat modal bangun perusahaan aku sama teman-teman," ungkap Qian.
Arial terdiam. Dia sadar, dia telah melewati banyak hal. Banyak hal telah terjadi selama kepergiannya dari sisi Maya dan anak-anaknya.
Di sisi lain Lisa tampak banyak termenung dan seringkali terlihat melamun semenjak kepergian Arial menemui mantan istri dan anaknya. Dia memikirkan banyak hal semenjak kepergian Arial.
Semenjak pernikahannya bersama Arial. Lisa tidak pernah sepenuhnya merasa Arial miliknya. Lelaki itu selalu memikirkan tentang anak dan mantan istrinya. Dia seolah dinikahi hanya karena Arial tidak ingin bermasalah dengan ibunya.
Arial selalu bersikap sekedar, walau dia bertanggungjawab dan perhatian, tapi Lisa seringkali merasa hati Arial tidak bersamanya hingga Zee berusia 6 tahun seperti saat ini.
Saat sedang asyik dengan lamunannya tiba-tiba saja Lisa dikagetkan oleh seseorang dengan sentuhan lembut di bahunya yang sontak membuat Lisa terlonjak kaget.
"Kamu sedang memikirkan apa?" tanya ibu mertuanya itu. Karena memang semenjak Arial pergi, lisa memutuskan untuk tinggal bersama ibu mertuanya.
__ADS_1
"Sudah ibuk bilang, kan. Sebaiknya jangan biarkan Arial menemui Maya. Maya akan menggodanya kembali dan kamu akan kehilangan Arial," lirih ibu mertuanya itu terdengar agak sinis dan terpancar tatapan penuh amarah dan kecewa di mata tuanya saat ini.
"Tidak, Buk. Aku tidak menyesal. Aku bahkan merasa seharusnya persoalan keluarga itu harus segera di selesaikan. Aku tidak ingin kisah mereka yang belum usai terus menghantui hubungan kami. Mungkin dengan membuat mas Arial menemui mbak Maya akan membuat mereka bisa menyelesaikan apa yang belum selesai dalam hubungan mereka," tutur Lisa lembut. Widya sanga ibu mertua mengerutkan keningnya tidak paham dengan pola pikir Lisa.
"Mereka akan berhubungan kembali dan itu akan membuat kamu kehilangan Arial, Lisa," seru Widya menatap kedalam mata Lisa.
"Dua tahun di awal pernikahan kami. Aku harus menghadapi sikap dingin mas Arial padaku, Buk. Dia tidak menyentuh sama sekali. Setelah sekian lama aku berjuang untuk mendapatkan hatinya, baru dia bisa luluh, Buk. Tapi ... Aku masih tidak yakin kalau dia benar-benar mencintaiku. Oleh karena itu, jika memang mas Arial memutuskan untuk berpisah denganku, aku ikhlas, Buk. Dalam hubungan ini bukan hanya aku, mas Arial dan mbak Maya saja yang terluka. Tapi juga anak-anak kami, Buk," ungkap Lisa.
Widya hanya diam. Dia menarik nafas panjang dan menatap wajah cantik Lisa. Dia menepuk lembut pundak Lisa dengan seulas senyuman.
"Maya, perempuan itu penuh ambisi dan obsesi. Dia selalu ingin membuktikan bahwa dia hebat dan tak terkalahkan. Itu yang buat ibuk kasian terhadap Arial yang selalu harus mengerti dengan ambisi Maya." Lisa menatap ibu mertuanya itu.
"Kisah mereka sudah usai, Lisa. Arial dan Maya hanya masih tidak puas, karena amarah ibuk lah yang membuat mereka pisah. Ibu menghinanya waktu itu. Karena ibuk sangat muak dengan ambisinya yang bahkan seringkali mengabaikan keberadaan Arial dan anak-anaknya." Widya menatap kedalam mata Lisa.
"Kamu yang memberikan Arial cinta yang tulus. Percayalah, Arial tidak akan meninggalkan kamu. Dia sudah menemukan kemana tempat hatinya berlabuh." Widya menggenggam tangan Lisa erat dengan tatapan hangat yang membuat Lisa tenang, Lisa membalasnya dengan senyuman hangat dan memeluk erat ibu mertuanya itu.
"Terimakasih, Buk. Ibuk selalu menyayangi aku selama ini," lirih Lisa tulus, Widya tersenyum hangat seraya mengelus lembut punggung menantunya itu.
Tidak lama Zee datang dan di sambut dengan hangat oleh ibu dan neneknya.
"Apa mas Qian punya dedek bayi, Mih?" tanya Zee dengan lugu.
"Iya. Bayi mas Qian laki-laki, sayang. Ganteeeng banget," ungkap Lisa seraya menduduki anaknya di pangkuannya.
"Zee pengen liat," rengeknya pada ibunya.
"Iya, nanti kita pasti kesana buat liat bayi mas Qian, ya. Makanya Zee jangan nakal, supaya papa mau ajak Zee sama Mami ikut kesana lain kali," ungkap Lisa memberi pengertian kepada anaknya.
__ADS_1
Widya menghela nafasnya panjang mendengar pernyataan Lisa.
"Kamu tidak bisa mempercayai semua orang begitu saja, Lisa. Sisakan sedikit untuk rasa curiga, agar kamu bisa waspada," ungkap Nenek Widya sebelum pergi meninggalkan Lisa dan Zee. Lisa hanya tersenyum mendengar pernyataan mertuanya itu.