Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Menyebalkan


__ADS_3

Setelah menempuh waktu cukup lama, akhirnya Qian sampai di tempat tujuannya. Dia kaget saat celingak-celinguk di bandara ada seorang pria paruh baya yang sangat ia kenali melambaikan tangannya kepadanya.


Itu lah ayahnya Arial Alatas. Qian tersenyum melihat kehadiran sang ayah menyambut kedatangannya. Qian langsung menghampirinya dan memeluknya erat. Rasa rindunya terhadap sang ayah pun terobati sekarang.


"Mama bilang kamu kabur. Kenapa?" tanya sang ayah saat mereka sudah sampai mobil


"Orang nggak mau kedokteran malah maksa. Yaudah, aku jual aja tas nya buat modal kabur." Sontak Arial tertawa mendengar keterangan sang putra.


Qian memang lebih dekat dengan ayahnya di bandingkan Azam. Di tambah lagi mereka memiliki kesukaan yang sama, yaitu menggambar. Bedanya, Arial bekerja sebagai arsitek sedangkan Qian lebih menyukai desain grafis.


Mereka terus mengobrol hingga tak terasa mereka sudah sampai di sebuah rumah yang cukup arsitetik, sepertinya rumah ini hasil desain ayahnya sendiri.


Qian menatap kagum rumah tersebut.


"Keren, Pah," puji Qian pada rumah di hadapannya. Ayahnya hanya tersenyum dan mengajak Qian untuk masuk.


Di rumah Qian di sambut oleh Lisa istri kedua ayahnya. Ia tampak tengah menggendong bayi mungil yang sangat tampan.


"Wah, udah gede ya kamu? Udah mecahin apa aja kamu?" tanya Qian usil seraya mengambil bayi 11 bulan itu dari gendongan sang ibu sambung.


"Udah banyak, kak. Dari toples, bedak Bundanya, sampe maket Papa juga pernah di berantakin sama dia," terang Lisa ramah. Lisa dan Qian mungkin hanya berjarak 7 tahun. Lebih tua dari Qian tapi lebih muda dari dari Alzam. Karena Alzam dan Qian berjarak 8 tahun. Mungkin karena itu pula yang membuat Qian enggan untuk dekat dengan ibu sambungnya. Karena terlalu muda baginya.

__ADS_1


Saat Masuk Qian berpapasan dengan Neneknya yang kebetulan juga tinggal bersama Arial dan keluarga kecil nya. Qian masuk tanpa menyapa neneknya sepatah katapun. Pandangan si Nenek mengekori langkahnya dengan tatapan sinis. Sedangkan Arial hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah cucu dan Neneknya itu.


Qian terus berjalan menuju kamar tamu dan beristirahat setelah perjalanan jauhnya.


***


Di sisi lain. Maya tengah menunggu telfon dari mantan suaminya. Tak lama yang ditunggu pun datang. Handphone nya berdering, dengan cepat Maya mengangkatnya.


"Dia sudah sampai. Sekarang sedang makan malam," terang Arial.


"Baguslah. Kalo gitu aku titip dia selama dia di sana. Aku akan ke sana kalo ada waktu senggang," jawab Maya singkat. Setelah mengobrol sebentar mereka pun sepakat memutuskan sambungan telfonnya.


Maya menarik nafasnya panjang. Saat ini ia tengah berada di kamar Qian. Tiba-tiba dia merindukan putra bungsunya itu. Maya menatap ke sekelilingnya. Biasanya anak itu selalu membuatnya khawatir dan kesal. Selalu ada saja tingkahnya yang membuat dia mengelus dada, sekarang si pembuat onar sudah pergi. Tiba-tiba dia merasa rumah ini begitu sepi seperti tak berpenghuni.


"Biasanya dia jam segini sedang rame-ramenya dengan musik metalnya yang berisik. Sekarang kamar ini sepi," lenguh Maya dengan senyum mirisnya. Alzam tersenyum seraya mengangguk. Dia menghampiri ibunya dan memeluknya hangat. Dia tau, jauh di lubuk hati ibunya, Ibunya sangat menyayangi Qian. Senakal apapun Qian, pada kenyataannya dia tetap di sukai banyak orang.


***


Sedangkan Al-Qian saat ini tengah sibuk dengan syarat pendaftarannya di sebuah universitas yang dia inginkan. Qian yang memang pada dasarnya pintar tidak kesulitan menjalani tes untuk masuk universitas tersebut.


Tapi, ada satu hal yang membuat Qian agak terbebani. Dia tinggal bersama sang ayah yang kristiani sedangkan dia muslim. Itu membuat dia kesulitan. Dia merasa tidak enak dengan makanannya yang selalu harus di pisah dari mereka semua. Apalagi terkadang Qian juga merasa risih jika seandainya mereka sedang memasak menu Babi.

__ADS_1


Qian merasa, dia tidak bisa tinggal bersama ayahnya lebih lama lagi. Lebih nyaman jika seandainya dia tinggal sendiri. Lagi pula dengan tinggal bersama ayahnya tentu itu membuat ibunya tak nyaman jika datang berkunjung.


Qian pun memutuskan untuk membicarakan ini kepada ayahnya.


"Ada apa Qian? Kamu butuh sesuatu?" tanya Arial kepada sang putra yang datang mengunjunginya ke ruang kerjanya.


"Pah! Aku pengen ngekos aja lah. Aku nggak enak tinggal di sini. Makannya musti di pisah terus, bikin repot aja rasanya. Apalagi kan tante Lisa pasti sibuk urus si baby, terus di tambah lagi ngurusin aku. Apalagi kalo Mama kesini. Dia pasti nggak nyaman."


Arial mengangguk paham.


"Kamu mau kos-an dekat kampus? Besok papa cariin, ya."


Qian senang, ayahnya dapat memahami keinginannya. Selesai berbincang-bincang sebentar Qian pun keluar dari ruangan tersebut meninggalkan ayahnya.


Dia kembali berpapasan dengan neneknya. Dia melewati neneknya tanpa suara. Tapi beberapa saat dia kembali berbalik dan berseru.


"Aku nggak akan tinggal di sini, kok," seru Qian dengan menyunggingkan senyumnya kearah sang nenek, lalu berlalu dari sana.


Lisa mendekati mertuanya itu.


"Maya tidak bisa mengajari anaknya sopan santun," rutuk sang mertua kepada Lisa.

__ADS_1


"Dia masih muda, Buk. Jangan diambil hati," nasehat Lisa mencoba menenangkan ibu mertuanya. Si ibu mertua menarik nafas panjang lalu pergi berlalu dari sana meninggalkan Lisa yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah ibu mertuanya dan anak sambungnya itu.


__ADS_2