Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Berbaikan


__ADS_3

Paginya Qian terbangun kepalanya terasa sangat berat. Dia memegangi kepalanya dan mencoba bangkit dan membuka matanya. Sesaat Qian kaget saat melihat yang tidur di sampingnya bukanlah Reo melainkan Vero.


"Sejak kapan dia ada di sini?" gumam Qian bingung.


Qian tersenyum dan mengecup wajah Vero yang masih terlelap. Tapi, sepertinya Vero masih terlalu mengantuk. Ia tidak terjaga sama sekali dengan apa yang Qian lakukan kepadanya.


Melihat Vero yang memang sangat terlelap. Akhirnya Qian pun bangkit dan memutuskan untuk membersihkan dirinya di kamar mandi.


Selesai mandi. Dia melihat Vero masih terlelap padahal sekarang sudah pukul 8 pagi. Biasanya Vero selalu bangun pagi-pagi buta. Ini aneh sekali.


Memang Semalam Vero baru bisa tidur saat pukul lima pagi. Dia sibuk menjaga Qian yang semalaman meracau di tidurnya. Mungkin karena itu pagi ini Qian bisa merasa sedikit lega dari pada semalam.


"Tapi aku masih kesel. Dia pergi sama Alzam kemaren," rutuk Qian yang kembali ingat dengan kejadian semalam.


Melihat tidur nyenyak Vero, Qian tak tega. Qian menghampiri Vero dan mencium kening istrinya itu lagi.


Lalu ia turun kelantai bawah menemui Reo yang ternyata juga sudah datang.


"Semalam istri lo nangis. Dia datang jam 3 ke sini nemuin lo. Dia nggak tidur semalaman," terang Reo. Qian diam. Mulai timbul rasa bersalah dalam dirinya.


"Jangan gitu Qian. Dia itu lagi hamil anak lo. Masak lo gituin," tutur Reo lagi seraya memakan sarapannya yang ia beli sebelum datang ke sini tadi. Dia sengaja membawakan Qian sarapan karna dia yakin Qian dan Vero pasti kelaparan saat bangun tidur nanti.


Qian mulai tidak tahan. Ia pun bangkit dan kembali ke kamar. Reo menatap kepergian Qian dan tersenyum.


"Gampang marah. Gampang nyesel," gumam Reo seraya meminum minumannya.


Qian melihat Vero yang mulai terbangun walau masih tampak terbaring di ranjang. Dia tersenyum melihat kedatangan Qian.

__ADS_1


Qian tak membalas senyumnya. Ia menghampiri Vero. Vero mencoba untuk duduk walau terlihat agak kesulitan dengan kondisinya hamil saat ini. Qian pun segera menghampirinya dengan cepat dan membantu Vero.


"Aku nggak ngapa-ngapain sama Alzam. Aku cuman nanyain soal uang yang dia sisipin, itu saja," terang Vero dengan suara seraknya yang baru bangun tidur. Qian mengusap tangan istrinya.


Merasa Qian sudah tidak marah lagi. Vero segera memeluk suaminya itu.


"Jangan marah, Qian. Aku takut," ujarnya di pelukan Qian. Qian mengangguk seraya tersenyum dan mengusap lembut rambut panjang Vero.


Vero semakin mempererat pelukannya dan menyesap bau tubuh Qian yang wangi dengan parfum maskulinnya yang khas.


"Nanti kita periksa kandungan kakak, ya, di tempat Mama," tutur Qian, Vero pun mengangguk setuju.


Sesaat Vero ingat sesuatu. Qian akan menemaninya periksa? tapi kan dia kerja.


"Emang kamu nggak kerja?" tanya Vero bingung seraya mengurai pelukan mereka.


"Aku ... Udah ... Di pecat. Aku ribut sama keponakannya HRD. Aku tonjok dia sampe giginya patah. Terus di pecat," terang Qian seraya garuk-garuk kepalanya.


Vero mengernyitkan keningnya heran.


"Jadi selama ini kamu kemana saja kalo pergi dari pagi sampai sore? Terus uang yang sering kamu transfer itu dari mana?" tanya Vero heran. Qian nyengir lagi.


"Itu ... Aku ... Bikin desain juga kayak aku dulu. Freelance bareng Reo sama Bisma. Jadi aku masih punya sedikit tabungan. Uangnya kita pakek buat ganti uangnya Alzam saja ya, Kak," pinta Qian.


"Aku nggak mau kita punya hubungan lagi sama dia. Dia pasti cari gara-gara lagi dengan alasan hutang itu. Dia akan terus buat alasan untuk ketemu kakak dengan hutang itu," ungkap Qian lagi. Vero tersenyum melihat Qian cemburu, dan ia pun mengangguk setuju.


"Yaudah kita pulang saja dulu. Nanti siap-siap ke rumah sakit buat periksa sama Mama. Sekalian aku mau ngomong itu sama kakak SETAN satu itu," rutuk Qian kesal. Vero hanya tersenyum.

__ADS_1


Mereka pun segera turun menemui Reo. Reo melihat Qian dan Vero sudah berbaikan, terlihat dari senyum keduanya yang terpancar. Walau tidak bergandeng tangan mesra tapi keduanya terlihat mesra dengan canda mereka sepanjang perjalanan mereka menuruni tangga.


"Udah baikan? Cepet amat. Belum juga gue undang Bisma kesini buat liat kalian berantem," gurau Reo.


"Ngapain lo ngundang dia?" tanya Qian tidak suka seraya mengernyitkan dahinya.


Reo hanya tertawa. Dia juga ikut senang akhirnya Qian bisa berbaikan.


"Eh iya, Kak. Qian udah cerita nggak. Kalo dia sekarang pengangguran?" ledek Reo yang membuat Qian geleng-geleng kepala dengan keisengan sahabatnya yang satu ini.


"Sudah tadi dia cerita," jawab Vero lembut. Qian pun menyunggingkan senyumnya.


"Dasar teman bangsat lo. Untung gua udah ngomong duluan," rutuk Qian seraya mendorong kepala Reo yang di sambut Reo tawa keras.


"Dah ah, kita pulang aja, Kak," ajak Qian menggandeng tangan Vero untuk meninggalkan Reo sendirian di sana yang masih dengan tawanya.


"Eh, bangsat. Gue udah beliin lo sarapan. Masak nggak lo makan. Bawa-in pulang. Ntar nggak ke makan," seru Reo.


"Kasih satpam bawah aja," seru Qian terus berlalu.


"Dasar!" rutuk Reo.


Setelah berpamitan dengan Reo, mereka pun pulang kembali ke kediaman mereka yang sederhana tapi sangat nyaman. Rumah sederhana dengan konsep minimalis yang terlihat lumayan elegan setelah mereka renovasi tempo hari.


"Emang uang kita masih ada buat ganti uang Alzam?" tanya Vero saat sampai di rumah dan sekarang mereka tengah duduk santai di tuang keluarga.


"Masih cukuplah, Kak. Kan ada uang dari Mama kakak juga yang dia kasih kemaren," terang Qian. Vero hanya mengangguk paham.

__ADS_1


__ADS_2