
Di sisi lain Azlam sudah melakukan segala macam usaha untuk bisa mendapatkan sinyal. Tapi, hingga malam menjelang usahanya masih sia-sia.
"Udah, Zam. Besok aja. Lagian ini udah mending lagi mau hujan, mana ada sinyal kalo cuacanya jelek gini. Besok kita ke kota aja buat telfon keluarga bentar," ucap Jesika dari bawah. Karena saat ini Alzam tengah memanjat pohon. Bahkan sudah setinggi itu ia memanjat, ia tetap tidak berhasil mendapatkan sinyalnya.
"Sudah 3 minggu kita di sini. Aku belum sekali pun nelfon mama. Aku takut dia khawatir atau sakit. Qian pasti sibuk keluyuran nggak peduli sama mama," ungkap Alzam terhadap kekhawatiran nya.
"Secuek-cueknya Qian, dia juga nggak akan biarin mama kamu mati kali," cetus Jesika datar.
Alzam pun menarik nafasnya dalam dan akhirnya menurut pada nasehat Jesika. Jesika benar, Qian memang cuek terhadap ibunya, tapi apa mungkin dia akan tega membiarkan ibunya jika sakit atau terjadi sesuatu. Qian pasti akan bertindak membantu ibunya.
***
Di hari keberangkatannya. Qian menelepon Vero untuk bertemu. Qian mengajak Vero ke suatu tempat, tepatnya kamar hotel.
Vero merasa aneh dengan tempat bertemu mereka kali ini. Dia merasa sedikit khawatir dan ragu.
Tapi...
Vero malah bertindak sebaliknya, dia kekamar mandi hotel tersebut sebelum menemui Qian. Dia merapihkan make upnya bahkan menyemprotkan parfum serta mempersiapkan penampilan terbaiknya.
Setelah siap, Vero bercermin dan tersenyum melihat betapa seksinya dia saat ini dengan lipstik merah yang sengaja ia beli sebelum menemui Qian.
"Keliatan banget genit nggak sih," gumam Vero ragu. Dia segera merogoh tasnya dan mengambil tisu basah hendak menghapus makeup nya. Tapi ... Tiba-tiba dia membatalkan niatnya. Dia bahkan memasukkan kembali tisunya ke dalam tas dan kembali dengan senyum yang mereka keluar dari toilet menuju kamar yang Qian pesan.
***
Vero dengan ragu mulai menekan bel kamar tersebut. Dadanya berdegup kencang saat ini. Beberapa kali ia menggigit bibir bawahnya serta merapihkan rambutnya.
Tiba-tiba pintu terbuka dan di hadapannya telah berdiri seorang pria muda yang sangat tampan.
Wajahnya yang tampan, hidungnya yang mancung dengan kulit putih bersih dan tubuh yang jenjang. Sungguh tampilan sempurna sebagai seorang pria. Pantas saja dia bisa begitu cepat jatuh cinta kepada pria di hadapannya saat ini.
__ADS_1
Sesaat Vero merasa jantungnya berhenti berdetak. Apalagi saat Qian menarik tangan Vero untuk masuk dan tiba-tiba memeluknya erat tubuh Vero seraya memejamkan matanya seolah meresapi perasaan mereka saat ini.
"Kamu cantik banget hari ini," bisik Qian di telinga Vero yang seketika membuat wajah Vero menjadi memerah karena malu. Dia kembali menggigit bibir bawahnya.
Qian menatap wajah Vero dan mengulum tawanya yang tertahan karena merasa lucu dengan expresi malu Vero saat ini.
"Apaan sih, malah di ketawain. Lipstik aku terlalu merah, ya?" tanya Vero mulai tidak percaya diri dan hendak mengelap lipstiknya, tapi segera di tahan oleh Qian yang perlahan mendekati wajah Vero dengan memejamkan matanya yang membuat jantung Vero berdetak kencang seperti orang yang habis lari-larian. Karena tidak sanggup menahan perasaannya saat ini, Vero pun ikut memejamkan kedua matanya.
Dan di detik selanjutnya, mereka benar-benar bercumbu. Perlahan pakaian yang mereka kenakan pun lepas satu persatu hingga tak menyisakan apapun kecuali seutas selimut di tubuh keduanya yang bahkan sudah tak memiliki kesadaran lagi di bumi ini. Perasaan dan pikiran mereka sudah melayang ke nirwana yang melayangkan mereka membuat mereka melupakan semua tentang batasan diri masing-masing.
Mereka memejamkan mata keduanya saat mereka mencapai puncaknya. Dan perlahan kembali sama-sama membuka mata mereka. Vero tersenyum di bawah kungkungan Qian. Qian menyeka rambut yang menutupi wajah Vero dan mengecup kening Vero dengan hangat.Hari yang indah sebelum keberangkatan Qian.
***
"Jam berapa kamu berangkat?" tanya Vero yang kini tengah di pelukan Qian dengan tubuh polos keduanya.
"Jam 2," jawab Qian singkat tanpa menatap Vero hanya jemarinya yang terus mengusap lembut bahu mulus Vero yang semakin masuk kedalam pelukan Qian.
"Aku lapar!" lirih Qian manja, Vero pun tersenyum melihat expresi lucu Qian. "Ayo kita makan." Kali ini Qian menatap mata Indah Vero yang tersenyum padanya dan di balas Qian dengan senyuman hangatnya.
Mereka pun menuju restoran yang terdekat dari bandara dan menikmati makan siang mereka di sana.
Saat tengah menunggu pesanannya datang. Qian pun mengobrol bersama Vero.
"Ini, kakak pegang ATM aku. Nomer pin-nya tanggal lahir kita berdua. Nanti 3 atau 4 hari lagi mereka akan kirim bayaran aku yang belum lunas. Cek aja, masuk apa nggak. Empat puluh tiga juta lagi. Itu dari 5 klien aku. Jadi kalo kurang kakak kasih tau aku. Nanti aku telfon mereka langsung," terang Qian membuat Vero menaikan alisnya bingung. Dan seolah bertanya bagaimana dengan Qian.
"Aku pakek uang dari Mama. Dia transfer tadi pagi buat aku. Jadi yang ini kakak pegang aja. Males aku pegang, nanti malah habis buat belanja nyampe sana. Apalagi di sana, ada temen aku yang spek gelandangan. Pasti aku di palaknya nyampe sana."
"Siapa teman kamu?"
"Reo. Teman sekaligus sahabat aku. Dia kerjaannya pinjam duit aja saban hari. Utang dia udah numpuk tapi belum ada hilal nya kalo dia mau bayar. Kemaren aku suruh dia urus ijazah aku. Pasti nanti dia minta bayaran. Ogah. Utangnya dia udah banyak sama aku. Jadi kakak pegang saja ATM aku yang ini." Vero tertawa mendengar pernyataan Qian barusan kepadanya.
__ADS_1
"Sebenarnya ini tabungan tersembunyi aku. Buat suatu tujuan. Tapi ... Kayaknya aku punya tujuan lain sekarang. Kakak pegang ini sampe aku pulang nanti," ungkap Qian. Vero terdiam, dia berfikir sejenak lalu ia mengangguk dan tersenyum. Tanpa menanyakan lebih dalam lagi apa maksud Qian.
Sepertinya di balik jiwa lepas Qian, ada sesuatu yang selalu ia tahan jauh di dalam hatinya.
Selesai makan, mereka pun menuju bandara dan Vero menemani Qian hingga dia menuju pesawatnya.
"Ingat. Tungguin aku. Aku pasti pulang," ingat Qian sekali lagi.
Vero mengeluarkan kartu ATM dan rekening Qian.
"Aku percaya!" Qian tertawa melihat kartu ATM dan rekeningnya malah digunakan Vero menjadi jaminannya.
Sesaat penggilan keberangkatan pesawat Qian pun terdengar. Qian dan Vero harus berpisah sekarang.
Qian melambaikan tangannya hingga ia hilang di balik pintu kaca. Vero menghela nafasnya dengan sebuah senyuman.
***
Di hotel Mika sudah menunggu kedatangan Vero sedari tadi. Dia tampak kesal karena Vero yang pergi terlalu lama. Padahal sebelum pergi dia sudah berjanji hanya sebentar.
"Sorry, sorry, sorry." Vero buru-buru minta maaf saat melihat expresi masam di wajah Mika.
"Katanya bentaran. Tapi aku nunggunya udah sampe lumutan di sini. Tuh, kamu di cariin GM. Ke sana dulu, gih."
Vero pun segera menuju ruang general manager mereka.
***
Di sisi lain. Alzam tampak mulai berkemas-kemas. Ini adalah hari terakhir dia di sana. Dia dan yang lain akan pulang esok hari.
Alzam yang sudah sangat merindukan rumah menyambutnya dengan antusias.
__ADS_1
"Kangen mama atau pacar, nih?" goda Jesika.
"Dua-duanya," jawab Alzam santai. Lalu mereka tertawa bersama. Dan kembali membereskan barang-barang mereka.