Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Izin Kembali Bekerja


__ADS_3

Tiba-tiba terdengar mobil masuk pekarangan rumah. Vero yang tau betul jika yang datang adalah Qian pun segera keluar menyambut kedatangannya dengan seulas senyum bahagia.


Qian masuk dalam keadaan gontai karena memang dia sudah lelah bekerja seharian ini. Sesaat senyumnya kembali tersemat saat melihat senyum hangat Vero menyambutnya.


"Dimana Rumi? Apa dia sudah sembuh?" tanya Qian seraya melepaskan sepatunya dan menaruhnya di rak yang tak jauh dari pintu masuknya tadi.


"Sudah. Berkat Mama dia jadi nggak demam lagi sekarang," terang Vero antusias. Sesaat senyum Qian yang awalnya terpancar hangat perlahan mulai berubah dingin. Dia langsung masuk tanpa menghiraukan keberadaan Vero setelah meletakkan kedua sepatunya di tempatnya.


Menyadari perubahan sikap Qian serta alasannya. Itu membuat Vero juga ikut kesal terhadap reaksi Qian.


"Jangan kayak gitu. Dia itu ibu kamu. Mau kemana lagi tempat kamu ngadu kalo bukan sama orang tua. Yang udah nggak usah di bahas lagi. Kalo nggak sekarang mau kapan lagi damainya?" nasehat Vero yang terus mengikuti Qian hingga sampai di kamar mereka dan segera masuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya tanpa menjawab sepatah katapun.


Tidak lama Qian sudah keluar dari kamar mandi dalam keadaan lebih segar dan bersih. Sedangkan Vero sudah bersiap untuk tidur. Begitu pula dengan Qian.


Qian segera tidur dengan posisi membelakangi Vero. Vero membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Qian yang tengah membelakanginya itu.


"Senin depan aku mulai kerja. Lumayan kan bisa buat kamu ambil kreditan mobil. Nggak bagus kelihatannya kalo mobil kamu kalah bagusnya sama karyawan kamu. Jadi izinin aku balik ke hotel lagi ya buat kerja." Mendengar pernyataan Vero. Qian pun membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Vero.


"Rumi gimana? Kalo kita sewa suster hasilnya tetap aja sama dengan tanpa kakak kerja. Biaya sewa suster itu mahal," ungkap Qian.


"Berhubung Mama aku udah berangkat ikut om Ferdi, Rumi rencananya aku titip sama Mama kamu. Dia sendiri yang mintak di titipin sama dia tadi. Katanya kalo di titipin sama orang takutnya nggak bener jaganya. Ya, menurut aku masuk akal juga. Mama kamu kan banyak orang di rumah sakit. Jadi bisa sekalian kan jagain Rumi juga."

__ADS_1


"Jangan pernah biarkan Mama nyentuh Rumi lagi, Kak!" tukas Qian tajam.


"Terus gimana? Mau di bawak ke hotel tempat aku kerja? Atau sewa penitipan anak? Mana cukup uangnya nanti. Kan kamu sendiri bilang mahal."


"Bawak tempat aku aja. Nanti kalo dia lapar, aku antar tempat kakak. Simpan aja asinya. Nanti biar aku yang urus." Qian terdengar nekat dan itu membuat Vero semakin tidak yakin.


"Terus gimana Kalo dia sakit? Mau di bawak juga? Atau kalau kamu lagi ketemu klien di luar? Kamu mau repotin karyawan kamu buat urus dia?" sanggah Vero.


"Yaudah nggak usah kerja aja? Toh kebutuhan pokok kita selama ini juga tercukupi, kan? Aku nggak pernah bilang, kalo aku pengen mobil atau kendaraan. Nggak usah bikin mumet sendiri deh, Kak," ucap Qian mulai lelah berdebat. Ia pun bersiap untuk tidur lagi. Dia segera mengambil posisi membelakangi Vero kembali dan mencoba memejamkan matanya.


Vero hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Qian benar-benar tidak bisa di ajak bicara jika itu tentang ibunya. Akhirnya Vero pun ikut mencoba untuk tidur. Tapi dia tidak bisa memejamkan matanya.


Dia membalikkan tubuhnya menatap kearah sampingnya. Qian tampak sudah tak bergeming lagi.


Perlahan Vero mendekat dan mulai melilitkan tangannya di tubuh Qian secara perlahan. Qian yang menyadari ada tangan yang memeluknya dari belakang pun segera terbangun.


"Jangan dipunggungin, donk," bisik Vero ke telinga Qian langsung. Hingga membuat Qian merasa geli terkena hembusan nafas Vero di kuduknya.


"Apaan sih. Sana jauh," usir Qian pura-pura tak suka.


Padahal seulas senyum tipis terukir di wajahnya walau dia masih enggan membalikkan tubuhnya kearah Vero.

__ADS_1


"Kamu kok jahat!" lirih Vero memanyunkan bibirnya. Qian tersenyum, dia mulai tak tega, ia pun menggenggam tangan Vero erat dan Vero pun tersenyum ikut mengeratkan pelukannya dengan seulas senyuman hangat seraya menyesap bau tubuh Qian yang masih wangi sabun.


"Wangi banget," bisik Vero.


"Udah, tidur, Kak. udah malem," ucap Qian tanpa membuka matanya.


Dan akhirnya mereka pun tertidur.


Rumi si bayi mungil itu sudah lama terlelap sedari tadi di samping Vero. Karena ranjang yang mepet Kedinding sehingga dia tak mungkin bisa terjatuh.


***


Di kamarnya Wike masih belum tertidur. Dia masih sibuk memandangi jaket Qian yang ia pinjam tadi tengah tergantung dihadapannya.


"Aku akan mendapatkannya dan lepas dari si Bangsat Arnold," lirih Wike dengan senyum penuh arti.


Tidak lama terdengar deringan telepon Wike berbunyi. Dengan malas Wike mengangkatnya tanpa melihat si penelpon.


"Halo!" jawabnya malas.


"Halo Wike, sayang," sahut seseorang dari seberang. Sesaat Wike sadar siapa si penelpon. Ia dengan cepat segera mematikan sambungan telfonnya.

__ADS_1


'jangan harap kamu bisa lapas gitu aja dari aku, Wike. Aku akan kejar kemanapun kamu pergi,' tulis Arnold dalam sebuah pesan.


"Wike tersenyum penuh arti. Aku akan manfaatkan ini buat dapetin apa yang aku mau," gumam Wike pada dirinya sendiri seraya menggenggam handphone nya dan kembali memperlihatkan seringai senyumnya yang menakutkan.


__ADS_2