Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Jangan Ganggu Lagi


__ADS_3

Di rumah sakit Alzam tengah bersama Jesika di sela waktu istirahat rutinitas mereka.Mereka duduk santai di bangku taman rumah sakit.


Tampak beberapa orang pengunjung dan pasien yang hilir mudik di taman tersebut. Pasien-pasien yang mulai sembuh terkadang sering mencari panas pagi untuk menyegarkan tubuh mereka yang lama terbaring di ranjang. Dengan berjemur sebentar di pagi hari dapat membantu mereka menyegarkan tubuh mereka yang lemah.


Alzam dan Jesika duduk memperhatikan lingkungan sekitar yang tak asing lagi itu.


"Zam, sekarang kamu kayak orang yang nggak punya tujuan hidup. Kamu seolah terpuruk dan sibuk dengan patah hati kamu," ungkap Jesika seraya menyeruput kopi cappuccino panas kesukaannya.


"Entah lah. Aku merasa semuanya berantakan sekarang," jawab Alzam dengan tatapan kosong.


"Kamu harus belajar melupakan Vero dan mengikhlaskannya bersama Qian. Aku lihat gimana kamu selalu mendekati Vero saat Vero di rawat di sini waktu itu. Kamu kayak kehilangan diri kamu dengan lakuin hal kayak gitu. Kamu harus sadar di mana batasan kamu sama Vero sekarang. Kamu nggak bisa bersikap sama kayak kamu pacaran sama dia dulu," nasehat Jesika. Alzam diam tanpa menjawab apapun.


Dia tidak bisa berbohong bahwa dia masih sangat mencintai Vero dan tidak pernah bisa melupakan wanita itu. Dia berusaha bersikap sewajarnya tapi nuraninya malah selalu tak bisa. Dia selalu ingin mendekat dan memperdulikan wanita itu sama seperti saat mereka pacaran dulu. Walau dia sadar, jika Vero saat ini adalah istri adiknya.

__ADS_1


"Zam!" lirih Jesika lagi seraya menyentuh bahu Alzam lembut.


"Apa Qian bisa memperlakukan Vero dengan baik. Dia itu kasar, dan kalau marah, dia bisa hancurkan semua," ucap Alzam mengingat bagaimana Qian marah kepadanya semalam. Sangat mengerikan. Bahkan lima orang rampok yang menggunakan senjata tajam sanggup ia taklukan.


Itu menunjukkan betapa tangguhnya Qian dan itu juga menunjukkan ketangguhan ego Qian yang juga sangat tinggi.


"Jangan ragukan takdir tuhan, Zam. Pasti itu yang terbaik untuk Vero." Alzam menoleh kepada Jesika, ia tersenyum tipis penuh makna.


***


"Ada apa," tanya Alzam kepada Wanita hamil di hadapannya ini. Dia tau, ini pasti ada hubungannya dengan kejadian semalam.


"Ini uang kamu. Jangan ganggu kami lagi, dan jangan sakiti Qian lagi," ucap Vero lalu bangkit setelah menyerahkan uang tersebut.

__ADS_1


"Aku tidak butuh. Aku memberikannya untuk kalian. Kenapa kalian tidak bisa menerimanya? Dan mencurigai niat baikku?" ujar Alzam menatap Vero.


"Niat baik? Apa ada baiknya kamu jebak Qian dengan para perampok itu? Kamu lihat dari kejauhan bagaimana dia akan di bunuh oleh para perampok itu. ITU YANG KAMU KATAKAN BAIK?" sinis Vero yang sudah tak bisa mempercayai Alzam lagi.


"Dia adikku. Aku tau kemampuannya, melawan rampok seperti itu tentu sangat mudah bagi Qian," kilah Alzam.


"Qian terluka dan kehilangan uang yang bagi kami itu tidak sedikit, apa bagi kamu Qian baik-baik saja? Qian hampir mati semalam, hanya faktor beruntung yang bisa buat dia kabur dari sana." Amarah Vero sangat jelas terlihat saat ini.


Alzam melihat kebencian di mata Vero kepadanya saat ini. Tatapan hangat yang penuh cinta dulu telah lenyap dari Vero untuknya. Alzam tersenyum miris tanpa sepatah katapun.


"Baik. Aku terima uangnya," ucap Alzam setelah beberapa saat seraya mengambil uang yang Vero serahkan tadi di atas meja kerjanya.


"Oh, ya aku lupa. Ini cincin lamaran kamu waktu itu," ucap Vero lagi dan menyerahkannya kepada Alzam. Alzam menatap cincin yang kini tergeletak di atas meja kerjanya.

__ADS_1


Setelah itu Vero pun pergi dari sana. Alzam menatap sendu kepergian Vero. Dia mendesah nafasnya kasar dan mengambil cincin yang berada di atas meja kerjanya seraya menyunggingkan senyumnya yang seolah menertawakan dirinya sendiri.


__ADS_2