
Maya pulang masih dalam keadaan pikiran yang kalut. Dia mendekap wajahnya pada setir mobilnya.
"Dia selalu menempatkan ego yang paling utama," kesah Maya.
Setelah puas dan cukup tenang, Maya pun keluar dari mobilnya dan masuk dengan langkah gontai.
Tatapannya masih kosong menatap. Dia masih sangat mengkhawatirkan Rumi si bayi mungil itu. Sungguh dia tidak mau jika cucu nya di perlakukan semena-mena nantinya di sana.
Bagaimana jika bayi itu sakit karena banyak tangan yang menggendongnya sembarangan. Bagaimana jika dia sakit nanti gara-gara asap rokok di ruangan kerja ayahnya. Atau Qian yang tidak bisa telaten nanti mengurus makan dan kebersihannya.
"Ah, Vero. Bisa-bisanya kamu percaya sama Qian. Sama diri dia sendiri saja dia sembarangan. Apalagi sama bayi yang masih renta!" kesah Maya. Tapi baru beberapa langkah Maya melangkah.
"May!" Tiba-tiba terdengar seruan seseorang yang membuat Maya terlonjak kaget.
__ADS_1
"Kamu baru pulang?" sapa orang itu lagi yang datang mendekat. Maya mengelus dadanya sendiri karena kaget.
"Eh, kamu, Mer! Ngagetin aja," ucap Maya seraya menutup pintu mobilnya dan berjalan beriringan masuk ke rumah beriringan bersama Merly yang menggandeng tanganya.
"Kamu dari mana? Itu di belakang ada Retno lagi ngobrol bareng Alzam,"
"Iya! Tadi dia datang waktu aku mau pergi. Makanya aku mintak dia tunggu aja di rumah. Di mana sekarang dia, mbak Retno?"
"Udah di bilangin di belakang. Kamu kok kayak orang kurang fokus gitu. Emang kamu dari mana tadi?" curiga Merly penuh selidik.
"Ngapain Mama nemuin dia? Mama ini cari penyakit saja," celetuk Alzam yang baru datang bersama bunda Retno.
"Kan udah aku bilang. Jangan terlalu terlibat sama dia. Dia itu keras kepala. Mama nasehatin dia sama aja Mama cari penyakit," ucap Alzam yang terlihat kesal dengan sikap keras kepala ibunya.
__ADS_1
"Nggak. Kalian malahan harus tetap menjaga hubungan sama dia. Dia seperti itu karena dia ingin kalian bersungguh-sungguh mendekatinya. Kalau kalian sampai benar-benar menjauhi dia. Kamu akan benar-benar kehilangan dia, May," ingat Bunda Retno tidak setuju dengan pendapat Alzam yang ingin menjauhi adiknya.
"Kalian itu hanya bertiga. Apapun yang terjadi tetap dekap dia ke sisi kalian," lanjut Bunda Retno lagi.
"Dia itu keras kepala, Bund. Mana mau dia tetap didekatin. Yang ada kita di usirnya terus kayak gini. Ujung-ujungnya cuman bikin sakit hati dan memperumit keadaan," bantah Alzam.
"Mau bagaimanapun dia tetap adik kamu, Zam. Semarah apapun dia, dia juga nggak akan nyakitin kalian secara fisik. Paling omongan dia yang keras. Itu makanya jangan dikerasin dulu. Sekarang ya sabar-sabarin aja kalian sama dia," timpal Merly yang diangguki Bunda Retno.
"Keluarga itu biasa kalau ada selisih paham. Yang penting langsung di selesaikan. Bukannya malah terus di perbesar masalahnya," tambah Merly lagi.
Alzam menarik nafasnya panjang. Dia masih tidak setuju dengan keputusan itu. Dia pun akhirnya bangkit dan meninggalkan ibu beserta tantenya itu.
"Kalian harus terus menunjukkan sikap perdamaian sama dia sampai dia luluh. Toh dia anak kamu juga, May. Kamu mau nanti dia benar-benar jauhin kamu dari cucu kamu. Atau dia bakalan benar-benar pergi dari rumah ini. Qian itu bukan Alzam. Kalian keras, dia lebih keras lagi orangnya," ucap Bunda Retno. Maya tampak diam berfikir.
__ADS_1
"Kamu harus ingat. Setidaknya kamu masih bisa mempertahankan garis keturunan kamu dari Qian," bisik Merly pelan takut Alzam mendengarnya dan tersinggung. Dan itu sukses membuat Maya kembali berfikir.