Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Sulit Terjangkau


__ADS_3

Di rumah keluarga Alatas, Vero tampak tengah mengobrol bersama Maya dan bersenda gurau bersama Rumi si bayi mungil berusia 7 bulanan itu. Mereka menunggu kedatangan Qian yang katanya akan menjemput mereka.


Vero tadinya memang sudah izin untuk datang menemui Maya. Dia ingin menjenguk mertuanya alias Maya yang tengah sakit. Tapi, hingga pukul 10 dia menunggu, Qian masih tidak datang. Vero terus menunggu dengan perasaan gelisah.


Apa Qian tidak ingin menjemputnya karena marah dia datang menemui ibunya? Atau sudah terjadi sesuatu di perjalanan Qian menemuinya? Ah, bagaimana jika terjadi sesuatu terhadap Qian. Pikiran buruk terus menghantui Vero saat ini.


"Tunggu saja. Mungkin memang belum datang dia," ucap Maya. Vero pun mengangguk.


"Iya, Mah," ucap Vero dengan seulas senyuman.


Sedangkan Alzam tidak ada di sana. Dia memang sedari Vero datang sudah masuk kamar dan tidak ingin keluar. Dia seperti menghindari Vero dan anaknya. Entah apa yang di pikirkan lelaki itu saat ini. Entah karena dia tidak ingin Qian salah paham atau karena memang dia tidak mau menemui Vero lagi. Vero tidak menanyainya dan juga merasa bersyukur dengan sikap Alzam. Ini membuat mereka tidak perlu merasa canggung saat bertemu.


***


Di sisi lain Qian tampak tengah berfikir. Dia masih memikirkan tentang Wike. Wanita itu tinggal di tempat kos yang lumayan sepi dan hanya ada ruko yang tidak berpenghuni saat malam hari. Walau dia tinggal di keramaian tapi akan sulit mendapatkan pertolongan jika malam hari. Apalagi kosan Wike jauh masuk kedalam lorong.


Qian tanpa berfikir panjang lagi segera memutar balik mobilnya. Dan menemui Wike kembali.


Dia memarkirkan mobilnya di pinggir jalanan yang baginya cukup aman. Lalu segera turun dan berjalan masuk menuju kosan Wike. Wike memang memutuskan untuk mencari kosan saat dia putus dari kekasihnya dan meninggalkan apartemen mewahnya.


Qian terus berjalan masuk sambil memperhatikan daerah sekitar. Dia ingin memastikan tidak ada yang aneh di sana. Dia khawatir pria itu akan datang lagi. Dia terluka karena perbuatan Wike, dia pasti akan kembali untuk membalas Wike. Apalagi jika lukanya tidak terlalu parah. Ada kemungkinan dia akan datang malam ini juga. Watak saiko seperti Arnold pasti tidak akan menerima kekalahan.


***


Di sisi lain Vero masih terus menunggu kedatangan Qian. Berkali-kali dia melihat jam di tangannya. Ini sudah terlalu larut, sudah hampir jam 12 malam. Rumi pun tampaknya sudah lama terlelap dalam tidurnya. Bayi mungil itu terbaring di sofa samping Vero dengan di temani sang nenek yang tampaknya langsung membaik saat di kunjungi oleh cucunya.


"Mungkin lagi ada urusan lain. Tunggu saja. Kalau memang kamu mau pulang, nanti bisa diantar Alzam saja," ungkap Maya.

__ADS_1


"Nggak usah, Mah. Mungkin sebentar lagi Qian datang. Tunggu sebentar lagi saja, Mah," jawab Vero cepat. Maya tahu betul jika antara Qian, Vero dan Alzam seperti terjebak perang dingin yang entah kapan akan berakhirnya. Oleh karena itu mereka seperti menghindari antara satu sama lainnya.


***


Qian kembali ke kosan Wike. Dia melihat dari luar kosan seperti melihat kearah sekitar. Melihat apakah ada sesuatu yang mencurigakan atau tidak.


Tidak ada yang aneh sejauh ini. Qian pun beralih pandang ke arah kamar kosan dua lantai itu. Dengan teras yang langsung ke pintu kamar kos. Tampak lampu teras kamar Wike masih menyala. Mungkin gadis itu tengah ketakutan di kamarnya hingga menghidupkan semua lampu di kamarnya.


Qian memutuskan untuk menunggu sebentar memastikan keadaannya benar-benar sudah aman. Tapi tiba-tiba mata Qian tertuju pada sosok pria yang baru masuk ke pekarangan kosan yang memang tidak memiliki satpam penjaga itu.


Qian mengikuti pria itu dan mengintip dari bawah apa yang pria mencurigakan itu lakukan. Pria itu terus naik kelantai atas. Sepertinya kosan ini sangat mudah di masuki oleh orang asing karena letaknya yang di ujung dan tanpa pengawasan ketat.


Tiba-tiba pria itu menggedor pintu cukup keras. Qian mulai bereaksi. Dia masih memantau dari kejauhan. Tidak lama Wike membuka pintunya dan mereka tampak terlibat cekcok. Qian segera menghampiri.


Saat melihat kedatangan Qian, Wike segera berlari ke samping Qian seraya memegang lengannya seolah meminta perlindungan.


"Nggak usah sok lugu kamu. Kamu itu pemain handal. Dasar perempuan ******," sarkas si pria itu lagi.


"Qian, aku takut," lirihnya lagi semakin erat memegang lengan Qian.


"Pergilah. Jangan buat keributan disini," usir Qian datar. "Terlepas apapun permasalahan kalian. Kalian jangan buat gaduh malam-malam begini. Nanti bisa-bisa yang lain terganggu bisa panjang urusannya," ucap Qian lagi.


"Jangan ikut campur kamu," ucap pria itu lagi dan satu pukulan ia layangkan secara mendadak kearah Qian. Untungnya Qian punya gerakan reflek yang cukup bagus. Ia segera menangkis pukulan itu dan secara spontan membalasnya dengan satu pukulan telak yang langsung membuat pria itu tersungkur.


Menyadari adanya keributan beberapa orang mulai naik ke lantai atas mendekat kearah mereka.


Melihat keadaan yang semakin kacau. Pria itu segera kabur sebelum dia benar-benar menjadi bulan-bulanan warga nantinya. Apalagi kelihatannya Qian cukup tangguh untuk ia lawan.

__ADS_1


"Ingat ucapanku. Dia bukan wanita baik-baik. Dia ular," ingat si pria seraya memegang perutnya yang sakit karena pukulan Qian tadi.


Wike hanya menyunggingkan senyumnya di balik punggung Qian seraya terus bersembunyi seperti wanita lemah di balik seringai liciknya.


"Lihat saja nanti!" Ingat si pria sebelum dia benar-benar pergi dari sana


Ia pun menyela keramaian sebelum semua orang datang. Qian tidak mengejarnya lagi. Bagi Qian itu sudah cukup buat peringatan untuk si pria. Agar tidak datang mengganggu lagi.


"Qian nginep, ya. Aku takut," lirih Wike dengan expresi memelas seraya memeluk lengan Qian. Qian menepisnya secara perlahan dengan senyum canggung.


"Maaf, istri sama anak aku udah nunggu," ucap Qian membuat Wike terdiam. Tadinya dia masih mengira jika Qian hanya bercanda, tapi kelihatannya Qian benar-benar sudah menikah. "Aku rasa dia nggak akan balik lagi," ucap Qian lagi tanpa bisa Wike tahan.


Saat melihat Qian benar-benar pergi, Wike hanya bisa menggerutu kesal melihat permintaannya di tolak mentah-mentah.


"Sialan," gerutu Wike yang masih di ke rubungi para penghuni lain pasca kejadian pengintainya tadi.


***


Sedangkan Qian langsung turun menuruni tangga seraya melihat jam di handphone nya yang telah menunjukkan pukul 12 malam lewat. Qian sudah sangat terlambat menjemput Vero.


Dia buru-buru ke mobilnya meninggalkan tempat tersebut. Wike masih menatap kepergian Qian dari lantai atas kamarnya. Ternyata tidak mudah menggoyahkan lelaki tampan ini.


***


Sesampainya di halaman rumah keluarga Alatas yang sebenarnya merupakan rumahnya sendiri, Qian segera menelpon Vero untuk menjemputnya pulang.


"kak, aku di luar," ucap Qian yang langsung mematikan sambungan telponnya saat sudah selesai memberitahu Vero. Dia tidak ingin berdebat untuk di paksa masuk nanti jika seandainya dia bicara lebih lama lagi dengan Vero.

__ADS_1


Dia masih tidak mau masuk rumahnya sendiri. Masih ada amarah yang ia simpan. Mengingat bagaimana selama ini ibu dan kakaknya menentang pernikahannya itu semua masih menyisakan rasa sakit hati bagi Qian.


__ADS_2