
Di sinilah Qian saat ini. Tak di beli kan gitar, handphone dan motornya di sita. Hidup berbulan-bulan belakangan ini merupakan penjara yang panjang bagi Qian.
Dan akhirnya ...
Lihat dia saat ini. Dengan musik syahdu dari headphone model terbaru dan mahal serta menumpangi pesawat kelas bisnis yang sangat bergengsi dengan harga tiket selangit serta pelayanan ekslusif dari para pramugari khusus.
Makanan mahal pun sanggup ia pesan. Ia memesan seenak jidatnya tanpa peduli harga lagi. Seolah penyiksaan berbulan-bulan selama ini terbayar sudah pada hari ini.
Yang jadi pertanyaan adalah. Uang dari mana?
Jelas. Dari hasil menjual beberapa tas branded ibunya. Dan ini pun masih menyisakan banyak untuknya bekal sampai ke tempat tujuan.
__ADS_1
Dia dengan santainya menikmati hidupnya dengan hidangan mewah yang baru sampai. Pelayanan kelas bisnis ternyata sangat lah bersahabat. Qian bak raja dengan singgasana bangkunya yang super nyaman saat ini.
Sesaat Qian melirik ke bule di bangku seberangnya. Tepat saat sang bule juga melirik kearah Qian. Karena gaya Qian saat ini sangatlah parlente dan mengundang perhatian.
"Perjalanan yang menyenangkan, bukan!" sapa Qian ramah saat si pria bule menatapnya. Tentunya tak ada jawaban dari si pria bule, karena dia juga tidak mengerti Qian tengah mengatakan apa. Dia hanya tersenyum ramah seraya mengangkat gelasnya menyambut Qian dan Qian pun melakukan hal yang sama. Ia kembali menikmati perjalanan mereka masing-masing.
***
Disisi lain ada Maya sang ibunda Qian yang tengah menelpon mantan suaminya.
"Yasudah, tidak apa-apa. Dia aman di sini. Nanti aku jemput dia ke bandara. Kamu tenang saja. Jangan terlalu di pikirkan. Kan kamu tau sendiri, dia sudah sering begitu," ucap mantan suaminya alias ayah kandung Qian itu mencoba menenangkan Maya.
__ADS_1
Tapi itu tetap saja itu tak mampu menghilangkan beban pikirannya. Retno terus memijit tengkuk Maya yang terasa sangat berat saat ini.
"Sudah, Mbak. Qian pasti baik-baik saja di sana. Kalo soal tas aku rasa, mbak masih punya banyak, kan?" Retno ikut mencoba menenangkan Maya.
"Kalo soal tas aku nggak ambil pusing. Tapi ini, aku ada aja dia selalu bikin ulah, gimana ini kalo aku nggak ada di sana. Apalagi tingkahnya nyampe sana?" kesah Maya meluahkan kekhawatirannya.
Retno tersenyum.
"Dia cukup bertanggung jawab kalo soal itu, Mbak. Dia itu sebenarnya hanya susah di atur dan suka iseng aja orangnya. Kalo soal kenakalan lain, aku rasa mbak nggak usah khawatir. Qian pasti bisa jaga diri dan tau batasannya," ujar Retno yang terdengar lebih mengenal bagaimana Qian di bandingkan dia ibu kandungnya. Karena memang pada kenyataannya Qian lebih terbuka kepada Retno dari pada dengannya. Dia dan Qian selalu seperti anjing dan kucing.
"Entah lah Retno. Aku tidak yakin dengan itu. Dia itu suka sekali bertingkah. Bagaimana mungkin dia bisa sendiri," ucap Maya masih khawatir. Maya diam sejenak. Dia berfikir dan manarik nafasnya panjang.
__ADS_1
"Baiklah, Retno. Aku tidak akan mengunjunginya kesana. Biarkan saja dia tau bagaimana rasanya tidak ada aku. selama ini dia selalu anggap aku yang jahat karena ngekang dia," dendam Maya, Retno hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah ibu dan anak yang tidak pernah bisa damai ini.
"Terserah lah, Mbak. Kalian itu sama-sama keras kepala. Pusing aku," gumam Retno dan berlalu dari sana.