Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Mengkhawatirkan


__ADS_3

Maya baru pulang dari kediaman Qian saat hari sudah lumayan larut. Ternyata kepulangannya langsung di sambut oleh Alzam dengan wajah khawatir. Dia yang tengah duduk di ruang keluarga langsung bangkit menyambut kedatangan Maya saat mendengar kedatangan mobil ibunya. Sudah sedari tadi dia menunggu kepulangan ibunya.


"Mama dari mana saja sampe malam gini?" tanya Alzam kepada Maya yang kini ikut duduk di sofa bersama. Maya tampak senang dan lebih bersemangat setelah mengunjungi Vero dan cucunya tadi.


"Mama dari tempat Qian. Mama jenguk anaknya. Lucu anaknya. Gemuk dan gembul. Bikin Mama betah seharian di sana," ungkap Maya dengan wajah berbinar-binar. Alzam yang melihat kebahagiaan ibunya tampak biasa saja. Dia hanya tersenyum tipis seolah menyimpan sesuatu di hatinya.


"Udah mah, dia itu kayak ulat bulu. Lucu kalo di liat dari jauh. Tapi jadi masalah kalo mama sentuh. Jadi nggak usah ke sana lagi. Kalo dia baik-baik saja sama Vero. Yaudah. Mama nggak perlu repot ke sana lagi," ucap Alzam tidak suka. Dia takut jika kebahagiaan ibunya saat ini akan menjadi alasan luka ibunya di kemudian hari buat ibunya.

__ADS_1


"Kamu jangan ngomong kayak gitu. Dia itu adik kamu. Apalagi sekarang dia nggak punya apapun lagi," ucap Maya sedih mengingat bagaimana anaknya begitu bekerja keras selama ini untuk anak istrinya. "Motornya sudah dia jual buat modal usahanya. Dan tabungannya habis, dan itu juga gara-gara kamu," ucap Maya membuat Alzam mengernyitkan keningnya tak terima dengan tudingan ibunya ini terhadapnya. "Sudah. Mulai sekarang baikan saja kalian," ucap Maya lagi. Alzam hanya bisa tertawa kecil mendengar pernyataan ibunya. Maya pun bangkit hendak pergi dari sana meninggalkan Alzam yang masih terpaku di bangkunya.


"Mama capek. Lepek rasanya. Mama mau kekamar dulu, mau istirahat lagi." Putus Maya.


Alzam menatap kepergian ibunya. Ada raut kesedihan terpancar dari wajah Alzam saat ini. Dia merasa ibunya mulai dekat dengan adiknya dan mengabaikannya. Mungkin dia akan kehilangan ibunya selamanya. Apa yang bisa ibunya harapkan dari dia yang tidak akan bisa memberikan ibunya seorang penerus. Perlahan, dia akan di lupakan olehnya ibunya nanti.


Alzam menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa seraya memejamkan matanya. Tiba-tiba dadanya terasa sakit mengingat hal barusan. Dia akhirnya akan jadi begini. Sampah.

__ADS_1


***


Di sisi lain Qian baru saja selesai mengantar Wike pulang.


"Makasih Qian, buat tumoangnnya dan buat yang tadi juga," ucap Wike sebelum Qian pergi. Qian hanya mengangguk seraya tersenyum. Dan Wike pun menutup pintu mobil Qian kembali.


Wike tengah berdiri di lobby apartemen nya menatap kepergian mobil Qian yang perlahan mulai hilang di kegelapan malam. Seulas senyum dari bibirnya yang sedikit berdarah itu terukir penuh arti.

__ADS_1


"Oh, ternyata dia punya perusahaan sendiri? Hmmm... Sukses juga dia," ucap Wike dengan senyuman licik penuh arti. Ia pun berbalik dan masuk kedalam menuju apartemennya dengan senyuman yang terkembang seolah tak ada lagi trauma yang terus terpancar sedari tadi saat dia di mobil. Air matanya yang tadi terus membasahi wajahnya seolah sirna begitu saja. Entah apa yang tengah wanita ini rencanakan saat ini.


__ADS_2