
Malam ini pertama kali nya Qian mulai bekerja. Dia mendengarkan dengan baik SOP kerjanya. Di hari pertama bekerja dia masih terlihat kaku dan beberapa kali harus di back up oleh rekannya karena Qian yang masih belum begitu terlatih.
Untungnya Qian mendapatkan rekan kerja yang bisa di ajak kerja sama. Jadi, Qian cukup terbantu olehnya.
Saat sedang asyik melayani. Qian di kejutkan oleh tamu istimewanya. Yaitu Reo dan Bisma. Ternyata mereka benar-benar datang untuk mengusili Qian di tempat kerja barunya.
Sebenarnya Reo sempat menolak ajakan Bisma. Karena entah kenapa ada rasa tak rela di hatinya melihat sahabatnya itu menjadi pelayan. Apalagi jika harus dia sendiri yang di layani dan melihatnya langsung.
Saat melihat Qian datang dan Bisma mulai menjahili Qian, Reo mulai diam.
"Ada harga temen nggak, bray?" celetuk Bisma.
"Nggak," jawab Qian ketus.
"Galak amat. Gue aduin ke manager lu ntar," ancam Bisma.
"Cepetan pesen," ucap Qian masih ketus.
"Iye, iye... Sabar," jawab Bisma masih sibuk dengan buku menunya.
Setelah drama singkat mereka, akhirnya Bisma dan Reo pun selesai dengan pesanan nya. Qian pun segera mengantar catatan menu pesanan Reo dan Bisma ke belakang kepada para koki.
***
Dari kejauhan Bisma dan Reo memperhatikan Qian yang tengah bekerja di antara ramainya para pengunjung. Tak ada komentar dari mereka, tapi dari sorot mata mereka terlihat jelas jika mereka menahan sakit yang dalam saat melihat bagaimana sahabat karib mereka berjuang untuk sebuah keluarga di usia mudanya.
__ADS_1
"Ah, kok gue nyesel ya dateng kesini?" lirih Reo.
"Sama," sahut Bisma dengan menopang wajahnya di meja.
"Lu sih tadi ngajakin kita kesini," umpat Reo seraya menendang kecil kaki Bisma. Bisma tak menanggapi nya karena sibuk memperhatikan Qian bekerja.
"Tapi dia tetap kelihatan bersinar walau cuman jadi pelayan. Mau kasihan, toh bininya juga cantik. Mirip dillraba," celetuk Bisma masih dengan posisinya.
***
Tidak lama pesanan mereka pun datang. Mereka menikmatinya tapi entah kenapa ada yang menjanggal rasanya.
"Ah, nggak enak gue makan liat temen gue sendiri lagi kerja," kesah Reo membanting sendok garpu nya ke meja seraya bangkit meninggalkan meja makannya.
"Eh, bayarnya patungan, kampret," seru Bisma seraya mengeluarkan dompetnya dan menaruh sejumlah uang di buku bill nya. Sedangkan Reo sudah jauh pergi meninggalkan Bisma.
Tidak lama sebuah pesan masuk. 'sorry, Bray. Kita pulang dulu. Nggak enak gue di sana liatin lu kerja,' tulis Reo di sebuah pesan. Qian tersenyum membacanya seraya menyimpan kembali handphone nya dan fokus ke pekerjaannya.
***
Sepulangnya dari restoran, Reo menuju sebuah mall untuk membeli sesuatu. Ia pun masuk ke salah satu outlet kosmetik dan mulai memilah-milah sesuatu yang ia butuhkan.
Saat sedang asyik memilah-milah tiba-tiba mata Reo terpaku pada satu sosok. Wanita anggun dengan dandanan berkelasnya. Setelah berpikir beberapa saat akhirnya Reo pun menghampiri wanita paruh baya nan cantik itu. Siapa lagi jika bukan Maya, ibunda Qian.
"Tante!" seru Reo. Maya pun menoleh.
__ADS_1
"Eh, Reo. Kamu juga lagi belanja?" sapa Maya ramah.
"Iya, Tante. Kebetulan parfum aku habis," jawab Reo singkat. "Tante belanja juga?" tanta Reo basa-basi
"Iya. Ada beberapa kosmetik tante yang habis," ujar Maya masih fokus dengan beberapa botol kosmetik di tangannya.
"Apa kabar mamah kamu? Sehat? Kemarin sempat periksa asam lambung dia," tutur Maya basa-basi.
"Sudah, Tante," jawab Reo seperti ada yang ingin ia sampaikan. "Tante ...," lirih Reo. Maya pun menoleh, ia menatap Reo penuh tanya.
"Tante, Apa Tante tau kalau Qian sekarang bekerja jadi waiters." Maya menatap Reo seraya mengernyitkan keningnya tak paham.
"Hmmm... Maksudnya?" tanya Maya balik.
"Ma-maksud aku. Qian lagi butuh uang Tante. Uangnya waktu itu di rampok gara-gara mas Alzam, dia bahkan sampe luka kena sabetan rampok. Jadi ... Aku rasa Tante salah paham. Yang korban waktu itu Qian, bukan Mas Alzam. Bahkan, buat bayar hutang balik lagi ke mas Alzam, istri Qian jual perhiasannya. Makanya sekarang Qian kehabisan uang tabungannya. Yang seharusnya buat lahiran istrinya malah habis gara-gara kejadian itu," terang Reo. Maya terdiam beberapa saat mendengarnya. Dia seolah memikirkan sesuatu entah apa itu, sampai akhirnya ia angkat suara.
"Bukan Tante nggak peduli sama Qian. Tapi, Qian harus di kasih pelajaran buat kesalahan dia. Biar lain kali dia bisa lebih hati-hati. Buat mas Alzam, nanti Tante omongin sama dia," ungkap Maya lembut.
Setelah mengobrol beberapa saat akhirnya Reo pun pamit pergi karena kebetulan yang dia butuhkan sudah lengkap semua
***
Hingga tengah malam menjelang baru Qian sampai di kediamannya. Ia melihat Vero sudah berdiri di depan pintu saat dia baru turun dari motor kesayangannya. Qian merasa cukup lelah, tapi melihat wajah cantik Vero seketika rasa lelah itu seolah terobati.
"Kamu pulangnya malam banget," seru Vero khawatir dan menghampiri Qian.
__ADS_1
"Jangan di tungguin, Kak. Tidur aja. Kalo kakak tiap hari nungguin aku kayak gini, aku yang jadinya khawatir kalo nggak bisa pulang cepat," ungkap Qian seraya merangkul kedua bahu istrinya.
Mereka terus mengobrol sambil berjalan masuk ke kediaman mereka dan masuk kamar mulai beristirahat.