Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Semua Sama Saja


__ADS_3

Selesai membeli semua Qian masuk kamar, dan hanya melihat ibunya sekilas. Alzam hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah ibu dan adiknya itu.


"Hmmmhhh... Ck" decak Alzam mulai lelah mendamaikan ibu dan adiknya.


Lelah dengan adegan dramatis di depannya Alzam pun ikut masuk kamarnya.


Diam-diam Maya malah tersenyum melihat Qian sudah pulang. Dia diam-diam ikut naik ke lantai atas untuk mengintip Qian dari balik pintu yang masih terbuka sedikit Maya mengintip, dia melihat Qian tengah asyik dengan drawing pad nya yang baru. Sesaat Qian menoleh kearah pintu yang sedikit terbuka, dia tahu ibunya tengah mengintip dan bersembunyi di balik pintu tersebut.


"Kalo anak pungut emang kayak gini, mau apa-apa harus nunggu kiriman dari bapak kandung dulu," seru Qian menyindir ibunya yang bersembunyi di balik pintu.


Maya hanya bisa bersungut mendengar sindiran Qian yang ternyata juga menyadari persembunyiannya. Maya pun pergi dari sana.


Sedangkan Alzam tengah sibuk mempersiapkan berkas-berkas yang ia butuhkan untuk berangkat lusa.


***


Di sisi lain Vero tengah kedatangan tamu istimewa. Jesika. Dokter muda cantik yang tampaknya sedang punya sedikit urusan di hotel tempat Vero bekerja. Dia sengaja menyapa Vero, mereka memang terlibat perang dingin paska Vero melabraknya dulu perihal kecemburuan Vero terhadap kedekatan Jesika dan Azam.


"Hai, Vero! Kamu juga ada di sini?" sapa Jesika basa-basi penuh konfrontasi.


"Nggak usah basa-basi, saya kan memang kerja di sini," sinis Vero.


"Cuman mau ngasih tau. Aku sama Alzam lusa berangkat. Kita di tugaskan turun ke desa terpencil bareng. Kamu nggak cemburu, kan? Nyampe dia pasti nggak hubungin kamu, kan di desa terpencil biasanya sinyal suka susah masuk," ungkap Jesika yang terlihat jelas tengah memprovokasi Vero.


"Terserah kalian. Itu urusan kalian. Kita udah putus," tukas Vero dan melangkah cepat menjauhi Jesika yang tengah tersenyum penuh arti mendengar pernyataan terakhir Vero.


'Dasar cemburuan. Liat nanti makin cemburu kamu. Kita lihat saja, seberapa kuat mental kamu liat Alzam bareng cewek lain,' batin Jesika usil.


***


Diam-diam Vero mengirim pesan kepada Alzam.


"Bilangin sama teman kamu, jangan ganggu aku. Aku nggak peduli apa yang mau kalian lakuin, terserah kalian," tulis Vero emosional.


Alzam hanya menarik nafas kasar, belum hilang rasa pusingnya dengan tingkah ibu dan adiknya sekarang di tambah lagi dengan Vero dan Jesika.


Alzam melepas kacamatanya dan memijit pelipisnya karena kepalanya yang tiba-tiba terasa berdenyut pusing karena tingkah orang-orang di sekitarnya.


"Mereka semua kenapa, sih," kesah Alzam mulai merasa lelah.

__ADS_1


***


Qian tampak tengah menelpon seseorang di kamarnya.


"Eh, bangsat kapan lo selesainya sih kuliah? Bego banget jadi orang. Kuliah gituan aja bisa-bisanya kalian nggak ada yang selesai. Masak gua sama Una doank yang balik indo," rutuk Qian terdengar kesal.


"Iye, tuan pinter. Semua orang juga maunya cepat selesai. Lo pikir gue betah lama-lama di sini? Gue juga pengen pulang. Lagian lo juga terlalu cepet nyelesein nya. Orang itu kuliah S1 4 taon, lo sama Una aja yg 3,5 tahun. Gue pikir kalian balik bareng mau merid sekalian," tawa seseorang di ujung telfon.


"Dia udah pergi. Ikut bapaknya entah kemana," ucap Qian terdengar makin kesal. Tawa seseorang di ujung sambungan telfon terdengar semakin menjadi.


"Ooo... Oke, oke, oke gue paham," ujarnya masih tertawa.


"Tenang! Bentar lagi ini, dua bulan lagi lah gue wisuda," terangnya.


Qian pun mematikan sambungan telfonnya tanpa basa-basi lagi.


"Reo bego," rutuk Qian saat sudah mematikan sambungan telfon seraya melempar handphone nya keatas ranjang dan menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan hampa.


Ia bangkit dan kembali sibuk dengan drawing pad-nya yang baru dan sebuah laptop. Dia tengah membuat sebuah desain saat ini karena dia mendapatkan tawaran freelance mengerjakan desain grafis sebuah iklan.


Ya, yang di telfon Qian tadi adalah Reo. Sahabat akrabnya sedari kecil bersama Una. Qian kesal karena dia jadi sendirian saat ini, teman-temannya masih belum bisa menyelesaikan strata satu mereka. Qian memang berhasil menyelesaikan stara satu nya lebih awal bersama Una. Jadilah Una teman satu-satunya yang ia miliki saat ini, akan tetapi sekarang Una malah pergi pula.


Ini lah yang membuat Qian menjadi sangat kesal. Dia seolah kehilangan teman baik satu-satunya, walau mereka sering bertengkar tapi itu pula lah yang membuat mereka cocok. Mereka bisa selepas itu saat berteman.


***


"Hai Qian?" sapa Jesika ramah, tapi Qian tak begitu menyukainya. Apalagi saat dia melihat Jesika dengan tatapan aneh yang centil.


"Masih jadi pengangguran kamu?" tanyanya usil.


"Gue kerja. Freelance," tukas Qian. Jesika hanya menatap Qian mengejek tidak percaya. "Masih belum punya pacar, tante? Nikah tante, bentar lagi menopause," balas Qian tidak kalah tajamnya.


Jesika pun langsung membelalakkan matanya dengan mulut menganga tidak percaya atas ucapan frontal Qian barusan.


"Zam, mulut adek kamu!" adu Jesika.


"Qian," tegur Alzam dengan mata melotot.


"Lanjutkan," lanjut Alzam tak terduga dengan tawa keras di sela-sela kegiatannya mempersiapkan semua. Qian pun memberikan sebuah tos kepada kakaknya dengan menatap Jesika seraya mengedikkan bahunya usil. Jesika hanya bisa memanyunkan bibirnya kesal tidak mendapatkan pembelaan.

__ADS_1


Qian memang suka mereka goda, selain karena dia adalah putra pemilik rumah sakit tersebut, Qian juga merupakan sosok yang supel.


Setelah selesai semua, Alzam dan rekan-rekannya berangkat. Qian dan yang lain termasuk Maya melepaskan kepergian beberapa mobil pribadi tersebut.


***


Di mobil Jesika dan Alzam duduk berdampingan. Jesika menatap Alzam yang banyak diam sedari tadi. Tampak Alzam yang terus menatap keluar jendela sedari tadi.


Sedangkan Jesika tampak terus menatap Alzam, seolah tengah mencari momen yang tepat, ia ingin menanyakan sesuatu. Dia terus berpikir bagaimana cara memulai pembicaraannya.


"Zam!" panggil Jesika pelan.


Seruan Jesika segera membuyarkan lamunan Alzam. Ia pun menoleh kepada Jesika. Terlihat seulas senyuman dari lelaki tampan berkacamata tersebut.


"Hmmm...!" gumam Alzam yang baru sadar dari lamunannya.


"Kamu ... sama Vero udah putus?" tanya Jesika ragu.


"Hmhhh... Nggak tau. Vero akhir-akhir ini sering sensitif," ungkap Alzam agak malas seraya menyandarkan kepalanya di sandaran bangkunya.


Jawaban Alzam barusan membuat Jesika malah semakin penasaran tentang apa yang terjadi antara Alzam dan kekasihnya itu.


"Kenapa?" tanya Jesika lagi penasaran.


"Dia desak aku buat nikah. Tapi ... aku belum siap." Alzam kembali buang muka ke luar kaca jendela mobil.


"Pacaran udah kayak kreditan motor, 4 tahun, mau jalan 5 tahun. Lagian, kenapa kamu nggak lamar aja dia?" tanya Jesika lagi.


"Cuman 3 taun," tukas Alzam.


"Sama aja," sanggah Jesika.


Alzam melirik sekilas kepada Jesika yang tak jauh beda dari sifat Vero yang juga sering tidak mau kalah. Dia geleng-geleng kepala.


Jesika memang dekat dengan Alzam karena dia merupakan anak salah satu pemegang saham rumah sakit milik keluarga Alzam dan ibunda Jesika juga merupakan sahabat karib Maya ibunda Alzam. Karena itu lah mereka bisa menjadi akrab, hingga menimbulkan kecemburuan dari Vero.


Mereka terus mengobrol sepanjang perjalanan, hingga perjalanan panjang itu menjadi sedikit tidak membosankan bagi keduanya.


***

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan Alzam. Jesika mengirim foto kebersamaan mereka kepada Vero. Entah apa maksud Jesika saat ini. Yang pasti itu membuat Vero sangat kesal dan cemburu saat menerima kiriman foto tersebut.


Jesika sebenarnya juga sangat usil orangnya. Apalagi melihat kecemburuan Vero malah membuatnya semakin suka menggoda Vero.


__ADS_2