Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Teman Ngobrol Yang Nyaman


__ADS_3

Semalaman Alzam mencari adiknya itu. Tapi, dia tetap tidak menemukannya. Entah di mana si manja itu sekarang, tidak biasanya dia marah sampai seperti ini. Berkali-kali Alzam mencoba menghubunginya tapi tetap tidak bisa.


"Argh... Nih anak kenapa, sih," kesah Alzam mulai tidak tahan.


Dia sudah mencari ke setiap tempat tongkrongan adiknya itu tapi tetap saja dia tidak bisa menemukan keberadaan Qian.


***


Lelah mencari tapi yang di cari tak kunjung di temukan, akhirnya Alzam memutuskan untuk pulang. Dia pulang dengan langkah gontai.


Belum sempat tangan Alzam memegang gagang pintu, pintu tersebut sudah terlebih dahulu terbuka. Tampak wajah Maya yang khawatir menunggu kabar dari Alzam.


"Dia nggak ada, Mah," ujar Alzam yang sudah paham dengan apa yang di tunggu oleh ibunya.


Maya tertunduk menahan sesak di dadanya. Si bungsu yang biasanya paling seru dan selalu bertingkah konyol sekarang malah benar-benar marah.


"Kayaknya dia juga lagi sedih. Kan Una pindah. Mereka akrab dari kecil. Teman-teman dia juga lagi nggak ada di sini semua. Lagi sibuk sama kuliah mereka. Pastinya dia sekarang lagi sangat sensitif, Mah," terang Alzam mencoba untuk membuat ibunya tidak merasa terlalu bersalah.


"Besok aku cari lagi dia, Mah. Pasti dia cuman lagi cari tempat buat nenangin diri aja. Mama jangan khawatir, ya," lanjut Alzam dengan seulas senyuman hangat berusaha membuat ibunya tidak khawatir.

__ADS_1


***


Di tempat lain Qian tengah duduk sendirian diam tanpa suara. Dia mulai hanyut dalam pikirannya sendiri. Membiarkan angin malam menyapa tubuhnya tanpa ia hiraukan dinginnya.


Tiba-tiba bayangan Una menyelimutinya. Entah sedang apa gadis itu saat ini. Semenjak dia pamit pergi dia tidak pernah menghubungi Qian barang sekali. Hari-hari Qian yang selalu ramai dengan candanya kini berubah menjadi aneh tanpa ada Una.


Malam ini di taman tengah ramai orang-orang yang datang berkunjung karena memang malam ini merupakan malam minggu. Malah bisa-bisanya Qian merasa tempat ini sangat sepi.


Dia mendesah kan nafasnya berkali-kali seraya bersandar pada sandaran bangku taman.


Baru saja dia bersandar, tiba-tiba kepalanya malah membentur sesuatu. Dan terdengar seseorang mengerang kesakitan dari arah belakang.


"Ouwh, kepala aku," lirihnya dari arah belakang. Dia pun menoleh bersamaan dengan Qian juga. Saat menyadari siapa orang tersebut, mereka berdua pun tertawa. Si wanita menunjuk-nunjuk Qian seraya tertawa.


"Lagi ngapain, kak?" tanya Qian ramah kepada wanita yang pernah menyelamatkannya dari pengeroyokan El cs.


"Hmmm... Nggak. Cuman lagi suntuk aja." Vero pun pindah posisi ke samping Qian yang di sambut Qian dengan senyuman ramah.


"Keliatan ya kalo aku tua?" tanya Vero seraya memegang wajahnya dengan kedua tangannya. Qian mengangguk usil dengan posisi tengah menyangga wajahnya dengan tangan kirinya yang bertumpu di sandaran bangku taman dan menghadap ke arah Vero.

__ADS_1


"Masak sih?" tanya Vero makin panik.


"Kenapa kakak nggak langsung pulang saja kalo pulang kerja? Malah mampir ke sini. Lagian ini kan malam minggu. Emang kalo di hotel nggak pakek libur ya?" tanya Qian memulai obrolan mereka.


"Pakek. Cuman lagi dapat shift kerja hari ini. Di rumah juga bosan. Udah nggak ada orang tua. Ayah nggak ada Mama tinggal bareng suaminya. Adanya nenek. Malah kalo pulang diomelin mulu. Mau nongkrong bareng teman, teman nya udah habis pada nikah semua," ungkap Vero yang entah kenapa langsung merasa akrab dengan Qian, padahal mereka baru saja kenal.


Qian mendengar cerita Vero sepanjang malam itu. Entah kenapa Qian malah merasa nyaman mengobrol dengan wanita yang lebih dewasa darinya ini. Wanita ceria yang sangat dewasa di usianya yang matang. Sangat ramah, selalu ada senyum dan tawa terukir di wajahnya saat bercerita. Bahasanya juga sopan dan lembut.


Akhirnya mereka berdua malah mengobrol hingga larut malam. Hingga Qian tersadar saat taman sudah mulai sepi hanya tinggal mereka berdua.


"Kak, udah nggak ada orang. Kakak gimana pulangnya?" tanya Qian.


"Oh, iya, ya. Aku bawak mobil. Ada di parkiran."


"Yaudah, aku antar nyampe parkiran, ya," tawar Qian. Membuat Vero semakin kagum dengan sifat perhatian Qian. Pria ini masih muda, tapi Vero merasa sangat nyaman dan aman saat bersamanya.


Qian pun mengantar Vero menuju tempat parkiran yang sudah sepi dari kendaraan. Vero merasa aneh karena tampaknya Qian tidak membawa kendaraannya.


"Kamu gimana?" tanya Vero celingak-celinguk mencari keberadaan kendaraan Qian.

__ADS_1


"Gampang aku mah. Aku lagi ada kerjaan, nanti aja pulangnya. Kakak pulang aja duluan," ujar Qian melambaikan tangannya kepada Vero yang sudah di dalam mobil.


Vero segera menghidupkan mesin mobilnya dan meninggalkan Qian di parkiran sendirian.


__ADS_2