Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Pertemuan


__ADS_3

Hari semakin larut. Vero segera melangkahkan kakinya untuk pulang. Ia menyusuri jalanan remang-remang yang lumayan sepi. Sesaat ia merasa bergidik ngeri. Bukan karena ia takut setan tapi kepada manusia yang memang kadang bisa lebih menyeramkan dan buas dari pada hewan dan jin.


Saat sampai di tempat yang sepi, segera ia mempercepat langkahnya dengan separuh berlari untuk lebih cepat melewati lorong sepi tersebut.


Dia terpaksa berjalan kaki ke depan karena mobil yang biasa ia gunakan tengah masuk bengkel. Jadi terpaksa hari ini malam-malam begini Vero menyusuri jalanan sepi seorang diri.


Namun, belum begitu jauh dia melangkahkan kakinya, dia sudah dikagetkan dengan sesuatu yang cukup menarik perhatiannya. Samar-samar terdengar suara seseorang di sebuah sudut lorong sepi. Dengan perlahan Vero mencoba untuk mendekat dan mengintip.


"Kalo lo berani deketin Una lagi. Gue pastiin lo nggak akan selamat," ancam seseorang seraya mencengkram erat kerah baju pria yang tampak sudah tak berdaya dengan dua orang lainnya tengah menahan kedua tangannya agar tidak bisa melawan. Dan dua lainnya berdiri dengan gagah di belakang pria yang tampaknya dia lah dalang dari semua ini.


Si pria bukannya takut malah terlihat semakin menantang.


"Adek lo yang pecicilan nempelin gue mulu kayak ketempelan, kenapa gue yang lo ancam, ANJING!" serunya berani dan ia pun tanpa terduga meludahi wajah pria di hadapannya dengan mulut penuh darah.

__ADS_1


Seketika itu amarah si pria dalang pengeroyokan ini terpancing lagi. Dia mengkode pria berbadan besar yang tengah menahan pemuda tersebut untuk bertindak dan ia pun kembali akan di hajar lagi.


"Gede juga nyali lo ternyata!" bengisnya dengan kepalan tangan yang ia angkat bersiap akan menghajar pria di hadapannya. Tapi belum lagi sempat ia layangkan pukulannya, tiba-tiba terdengar teriakan seorang wanita yang tidak jauh dari mereka.


"Tolong! Tolong! Tolong ada yang mau di bunuh!" teriaknya mengundang perhatian.


Segera saja itu mengagetkan pria-pria tersebut yang dengan cepat ambil langkah seribu. Sebelum pergi dia sempat melontarkan ancamannya lagi.


"Awas lo, ya. Liat aja nanti," ancamnya seraya berlari menjauh meninggalkan pria yang babak belur tersebut dengan buru-buru.


"Kamu nggak papa, kan!" tanya Vero khawatir setelah ia menghampiri lelaki tersebut yang tampak tengah menahan sakit. Lelaki itu segera menoleh kearah Vero. Dialah Qian, pemuda yang pernah Vero temui saat di taman. Qian masih dengan memegang perutnya yang sakit.


Sesaat Vero menyadari hal tersebut. Dia menatap wajah itu, masih terlihat tampan walau wajahnya babak belur.

__ADS_1


Karena parasnya yang tampan membuat Vero mengingat wajah tengil itu dengan cepat.


"Nggak, papa. Makasih," jawabnya singkat. Vero mengangguk pelan.


Qian segera di bantu oleh beberapa orang dan satpam mall tersebut untuk mencari tempat aman.


Dia pun di bawa ke pos satpam di dekat sana. Qian juga di beri minum untuk menenangkan diri.


"Kamu yang kemarin, kan?" tanya Vero membuat Qian menoleh bingung.


"Saya yang kamu bakar rambutnya di taman kemarin," terang Vero yang mengerti kebingungan Qian. Sesaat Qian pun kembali ingat. Dia kembali tertawa mengingat kejadian semalam.


"Oh iya, saya ingat," ucap Qian seraya tertawa.

__ADS_1


"Maaf ya buat semalam. Terimakasih buat yang tadi," lirih Qian, Vero mengangguk dan tertawa kecil.


__ADS_2