Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Hari Berkabung


__ADS_3

Di lain sisi saat Qian baru saja menaiki motornya, tiba-tiba handphone nya berdering. Ternyata itu panggilan dari Vero, ia pun segera mengangkatnya.


"Iya, Kak," sahut Qian.


"Kesini, Qian. Nenek kritis," ucap Vero yang terdengar panik dari seberang sana.


Qian tanpa menunggu lama lagi langsung berlari menuju ruang rawat nenek Vero. Dia berlari sekencang mungkin bahkan sempat menabrak beberapa orang yang berpapasan dengannya.


Saat sampai nafas Qian serasa sudah sampai di ujung. Dia yang nafasnya masih tersengal-sengal menerobos masuk memecahkan kepadatan orang-orang di dalam kamar tersebut. Tampak nenek yang tengah di tuntun paman Anwar untuk bersyahadat, yang menunjukkan bahwa keadaan nya sudah sangat genting.


Vero yang melihat kehadiran Qian langsung menghampiri Qian bersama bibiknya.


"Kalian jangan ikutan. Tunggu di luar saja. Pamali. Vero kan lagi hamil," ujar bibik Vero. Qian tanpa banyak kata langsung membawa Vero keluar bersamanya.

__ADS_1


Mereka duduk di sebuah bangku panjang dengan perasaan cemas. Qian yang mengerti kegundahan Vero mengelus lembut punggung tangan Vero.


"Aku sudah ikhlas. Nenek pasti sangat kesakitan selama ini. Dia pasti capek setiap hari harus minum obat dan menjaga emosi serta makannya. Mungkin sekarang waktunya nenek buat istirahat dengan tenang." Vero tersenyum tegar meski matanya tak dapat berbohong bahwa ini sangat berat baginya.


Qian menggenggam erat tangan Vero, Vero tersenyum dan membalas menggenggam tangan Qian. Mereka berdua seolah tengah saling menguatkan saat ini.


'Aku akan menjagamu dengan segenap jiwa ragaku. Nenek mengharapkan itu dari ku. Dia berusaha mencari celah terbaik untuk melindungi Vero sebelum dia pergi. Tapi, kenapa dia memilih aku?" Golak batin Qian terus bertanya-tanya. Semoga keputusan nenek benar. Semoga Qian adalah orang yang tepat.


***


Saat sedang tenggelam dengan perasaan masing-masing, bibik Vero datang dengan expresi wajah tak biasa. Dapat di pastikan apa yang terjadi.


Ya, Nenek telah menghembuskan nafas terakhirnya. Qian dan Vero hanya dapat melihat dari kejauhan tanpa bisa lebih dekat karena pantangan saat ini Vero yang tengah hamil muda.

__ADS_1


Vero hanya di izinkan mencium wajah nenek untuk terakhir kali tanpa boleh menitikkan air mata pada nenek. Sekali lagi, katanya itu akan membuat si mayit bisa kesakitan.


Nenek segera di bawa ke rumah dan mulai di lakukan prosesi pemakaman keesokan harinya.


Hari berkabung pagi itu di tandai dengan mendungnya hari, tapi untungnya tak ada hujan yang mengguyur. Akhirnya Vero kehilangan sosok yang paling menyayanginya selama ini, paling melindunginya dan paling bijak menasehatinya.


Vero memejamkan mata beriringan dengan air matanya saat tubuh kaku nenek masuk ke liang lahat, papan itu satu persatu mulai menutupi lubang liang lahat dan perlahan tanah liat kuning pun mulai di turunkan menutupinya.


Qian berdiri dengan setia di samping Vero. Dia tak pernah meninggalkan Vero sedari semalam.


Satu persatu para pelayat pun pulang meninggalkan Vero dan Qian bersama keluarga terdekat saja. Vero tak banyak bicara, dia seolah larut dalam dukanya seharian ini. Walau dia mengatakan tidak apa-apa tapi tetap saja saat berdua di kamar bersama Qian tangisnya seketika runtuh. Dia terisak di pelukan Qian. Qian paham, bagaimanpun Vero akan tetap terluka atas kepergian neneknya.


Qian hanya bisa memeluk Vero dan membiarkannya menangis hingga bisa merasa lega.

__ADS_1


__ADS_2